Shofa dan Marwah, Syiar Kebesaran Allah SWT

Selasa, Januari 5th 2021. | Qur'an
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Evernote
  • Gmail
  • reddit
  • LinkedIn
  • Blogger
  • StumbleUpon

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ [البقرة/158]

Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka Barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa’i antara keduanya. dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka sesungguhnya Allah Maha mensyukuri kebaikan lagi Maha mengetahui. (QS. Al Baqoroh : 158)

Sebab Turunnya Ayat

Diriwayatkan dari Urwah dari Aisyah Ra, dia bertanya kepada Urwah : Bagaimana pendapatmu tentang ayat ini? Urwah berkata : Tidaklah terdapat dosa bagi seseorang yang thowaf diantara keduanya. Aisyah berkata : Jelek sekali jawabanmu ini hai putra saudariku, andaikan saja ayat ini seperti yang engkau ta’wilkan, maka tidaklah ada dosa bagi seseorang yang thowaf diantara keduanya. Ayat ini diturunkan karena orang Anshor sebelum Islam menyembah berhala Al Manat. Mereka yang sebelumnya menyembah Al Manat merasa berdosa ketika thowaf di Shofa dan Marwah. Kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hal ini. Mereka berkata : Kami merasa berdosa ketika melakukan thowaf di Shofa dan Marwah pada masa Jahilillah. Lalu Allah menurunkan ayat ini. Aisyah berkata : Kemudian Rasulullah SAW menerapkan thowaf di Shofa dan Marwah dan tidaklah boleh bagi seseorang meninggalkannya. Dalam satu riwayat sebagian orang Anshor berkata : Thowaf kami diantara dua gunung ini merupakan pekerjaan Jahiliyyah. Sebagai lainnya berkata :  Kami diperintahkan thowaf di Baitullah dan tidak diperintahkan thowaf di Shofa dan Marwah. Kemudian Allah SWT menurunkan ayat ini.

Amr bin al Husain berkata : Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang ayat ini, beliau berkata : Pergilah ke Ibnu Abbas tanyakan kepadanya, karena dia adalah orang yang paling alim tentang tafsir Alquran. Akupun pergi dan bertanya. Beliau berkata : Dulu di bukit Shofa terdapat berhala laki-laki dan disebut Isaf, dan di Marwah terdapat berhala perempuan disebut Nailah. Ahli kitab berprasangka mereka berdua berzina di Ka’bah kemudian dirubah Allah SWT menjadi dua batu lalu diletakkan disana sebagai peringatan tetnang peristiwa itu, setelah lama berlangsung, kedua berhala tersebut kemudian disembah orang-orang jahiliyyah. Mereka selalu mengusap keduanya ketika thowaf disana. Ketika Islam datang dan berhala dihancurkan, orang Islam merasa risih jika thowaf disana karena bekas dua berhala itu, lalu Allah SWT menurunkan ayat ini. (Ibnu Katsir [1] : 469-470, Lubabun Nuqul : 17, Asbabun Nuzul lil Waqidi : 13)

Makna Ayat

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ. Shofa secara bahasa artinya adalah padang yang tidak ada tumbuhannya, sedangkan Marwah adalah batu kerikil kecil. Sedangkan yang dikehendaki dalam ayat ini adalah dua nama bukit yang berada ditanah haram tidak jauh dari Ka’bah sehingga dalam penyebutannya menggunakan Al Ta’rif. Syiar Allah adalah tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang digunakan sebagai tempat menyembah kepada-Nya baik dengan membaca doa, dzikir, shalat atau melaksanakan kewajiban dan kesunnahan lainnya. Adapun yang dikehendaki dalam ayat adalah manasik (tatacara) beribadah yang dijadikan Allah SWT sebagai salah satu tanda kebebesaran-Nya. Selain itu Allah SWT memberitahukan kepada orang mukmin bahwa Sa’i diatara Shofa dan Marwah merupakan bagian daripada haji yang disyareatkan Allah SWT sebagaimana yang diperintahkan-Nya kepada Nabi Ibrahim As ketika bertanya tentang tatacara haji. Rasulullah SAW diperintahkan Allah untuk mengikuti ajaran-ajaran Nabi Ibrahim as termasuk diantaranya adalah tatacara pelaksanaan ibadah haji. Allah SWT menjadikan Shofa dan Marwah sebagai salah satu bukti kebesarannya karena dua bukit ini adalah termasuk peninggalan Hajar dan Ismail as dengan berbagai ujian dan cobaan yang mereka jalani. Dari ayat ini sebagian ulama mengambil dalil bahwa seorang yang sabar dan tabah menghadapi ujian, niscaya dia akan sampai ke derajat dan maqom yang tinggi.

فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ. Haji menurut bahasa adalah al Qoshdu (sengaja) sedangkan umroh adalah secara bahasa adalah ziarah. Artinya dalam pelaksanaan ibadah haji dan umroh haruslah terdapat didalamnya kesengajaan dan ziarah ke Baitullah sesuai dengan tuntunan syareat dalam pembahasan fikih. Adapun secara syareat haji dan umroh adalah sebuah ibadah khusus dengan berbagai ritual manasik yang khusus pula. Secara umum tatacara dan praktek ibadah haji dan umroh ini telah dijelaskan secara jelas dalam kitab-kitab fikih.

فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا  artinya setiap orang yang melaksanakann Sai di bukit Shofa dan Marwah tidaklah berdosa dan tidak ada hubungannya dengan perbuatan yang dilakukan oleh keum jahiliyyah sebelumnya meskipun sebagian dari baju atau bagian mereka mengenai berhala yang ada disana, karena memang awal mulanya kedua berhala itu masih ada ketika ayat ini diturunkan kemudian datanglah Umar dengan membawa godam lalu menghancurkan kedua berhala yang berada di bukit Shofa dan Marwa.

وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ. Barang siapa yang melaksanakan ketaatan baik berupa hal fardlu atau sunnah, kemudian dia menambahkan lagi melebihi yang telah ditetapkan baik berupa ibadah haji, umroh dan thowaf, maka hal itu adalah sebuah kebaikan yang senantiasa akan dibalas oleh Allah SWT. Adapun yang kehendaki dengan tathowwu’  ada beberapa pendapat. Imam Mujahid berkata : Maknanya adalah melakuakan Sai Sunnah di Shofa dan Marwah. Imam Muqotil dan Al Kalabi berkata : Menambah bilangan Sai yang wajib asalnya tujuh menjadi delapan atau Sembilan dan seterusnya. Dalam satu riwayat yang dikehendaki adalah ibadah haji dan umroh sunnah setelah melaksanakan haji dan umroh wajib. Imam Hasan al Bashri  sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Fahr ar Rozi berkata : Adapun yang dikehendaki adalah setiap jenis amal perbuatan selain yang diwajibkan seperti berupa zakat, sholat, thowaf dan berbagai jenis ketaatan lainnya. Dalam ayat ini Allah SWT menggunakan kata Syukr sebagai bentuk mubalaghoh (pemberatan) dalam memberikan balasannya yang baik kepada hamba-Nya, artinya Allah memberikan balasan lebih besar daripada amal perbuatan hamba tersebut. Sedangkan kata Alim adalah sebagai bentuk mubalaghoh dalam pengetahuan tentang sesuatu, Allah SWt selalu mengetahui kadar amal, tatacaranya dan tidak akan pernah mengurangi sedikit pun pahalanya. (At Thobari [3]: 225-230, al Baghowi [1] : 172-175, Abu Su’ud [1] : 228, Ar Rozi [2] : 455)

Kandungan Ayat

Dalam ayat ini para ahli ilmu berbeda pendapat tentang kewajiban Sai diantara Bukit Shofa dan Marwa dalam tatacara pelaksanaan ibadah haji dan umroh. Sebagian ulama mewajibkan Sai dalam haji dan umroh, ini merupakan pendapat Ibnu Umar, Jabir, Aisyah sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hasan dan menjadi pendapat Imam Malik dan As Syafi’i. Dalam Madzhab Syafi’i sebagaimana juga satu riwayat Imam Ahmad juga pendapat yang masyhur dalam Madzhab Malik, Sai adalah rukun haji, artinya harus dilakukan dan tidak bisa diganti dengan membayar Dam.  Sebagian lainnya mengatakan Sai adalah wajib bukan termasuk rukun, artinya ketika ditinggalkan baik sengaja atau tidak wajib ditambal denga membayar Dam, ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan sebagian gologan. Dalam pendapat lain Sai adalah  Tathowwu’ (Sunnah) sebagaimana Madzhabnya Abu Hanifah, Sufyan as Tsauri, as Sya’bi, Ibnu Sirin, Mujahid dan Ashabur Ro’yi dengan riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Anas. (al Baghowi [1] : 173, Ibnu Katsir [1] : 471).

Termasuk hikmah dalam ayat ini adalah Allah SWT menunjukkan kepada kita bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan kesabaran dan ketabahan seseorang didunia ini. Ketika seseorang mau bersabar menghadapi ujian dan cobaan dari Allah SWT maka Allah SWT akan selalu menolongnya selama dia mau berusaha dan tidak berputus asa. Hal ini sebagaimana cobaaan yang diberikan kepada Ibu Hajar dan Ismail as. Saat itu Ismail menangis kehausan, kemudian Hajar berlari-lari dari Shofa ke Marwah bolak-balik sampai tujuh kali untuk mencari sumber mata air, beliau tida tetap tidak menemukan sumber air tetapi tetap snantiasa berusaha mencarinya. Melihat kesabaran dan ketabahan Hajar, Allah SWT memberikan balasan berupa muncul sumber mata air Zamzam dari hentakan kaki Ismail As. Sumber air yang senantiasa mengalir sampai saat ini. Selain itu Allah SWT menetapkan langkah-langkah Hajar dalam mencari air menjadi salah satu bagian tatacara ibadah haji sebagai bentuk peringatan atas nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada Hajar dan Nabi Ismail as setelah melewati ujian dan cobaan. (ar Rozi [2] : 456 at Tahrir wa at Tanwir [2] : 51). Satu hal yang harus dijadikan pedoman oleh setiap manusia adalah Allah SWT senantiasa mengajarkan kepada kita umat manusia bahwa dalam menjalani kehidupan di dunia ini membutuhkan perjuangan, kesabaran dan ketabahan dalam menghadap ujian dan cobaan. Dalam kehidupan duni manusia akan senantiasa dihadapkan dengan ujian berupa rasa takut, lapar, harta yang berkurang, anggota keluarga yang meninggal, panen yang cenderung berkurang dan lain sebagainya. Tentu tidak akan mampu menghadapinya kecuali orang-orang yang sabar dan mereka yang sabar nantinya akan menerima hasil yang baik berupa kebahagiaan dunia akhirat. Wallahu A’lam.

Ahmad Farikhin.

Berikan Komentar Anda

tags: , , , , ,

Related For Shofa dan Marwah, Syiar Kebesaran Allah SWT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *