Proses Menuju Rida Allah dalam Berdakwah

Rabu, Januari 27th 2021. | Dakwah, Essay
  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Evernote
  • Gmail
  • reddit
  • LinkedIn
  • Blogger
  • StumbleUpon

Hal pokok yang harus selalu terjaga dalam hati seorang da’i saat menjalankan misi dakwahnya adalah mengharapkan rida atau kerelaan Allah Swt. Menyebarkan agama tuannya merupakan perbuatan yang paling mulia bagi seorang hamba. Perjuangan menebar kebaikan menjadi hal yang paling mujarab sebagai wasilah mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Namun demikian, pencapaian diri ke maqam radhiyah mardhiyah dengan mediator dakwah harus melalui beberapa proses. Untuk meraih rida Allah dalam berdakwah seharusnya terwujud lima hal, sebagaimana pesan dakwah yang tersirat dalam surat al-Insyirah yaitu:

1. Kelapangan dada

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?” (Q.S. Al-Insyirah: 1)

Dalam berdakwah kita harus selalu berlapang dada. Menghadapi berbagai rintangan dengan bijaksana. Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Q.S. Al-A’raf: 199)

Allah meminta Nabi Saw dan semua orang yang menjadi pewarisnya agar selalu berlapang dada dalam menghadapi segala hal saat berdakwah.

2. Menganggap beban sebagai hal kecil

“Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu, yang memberatkan punggungmu.” (Q.S. Al-Insyirah: 2-3)

Perlu diingat bahwa segala beban kita jauh lebih ringan dari pada beban Rasulullah Saw. Betapa pun rintangan yang kita alami, tidak akan sebanding dengan rintangan yang dialami beliau. Dulu, Rasulullah disambut dengan cemoohan dan ejekan, dilempari kotoran, bahkan dikejar-kejar seperti buronan. Sedangkan pada zaman sekarang, seorang da’i disambut dengan baik oleh masyarakat. Setelah dijemput, mereka dihidangkan berbagai macam suguhan serta diberi hadiah besar. Pernahkah terlintas dalam hati bagaimana jika kita mengalami kondisi sebagaimana Rasulullah Saw?

3. Harus optimis

“Bukankah Allah telah mengangkat derajatmu.” (Q.S. Al-Insyirah: 4)

Dalam menjalankan visi dakwah kita harus selalu optimis. Status kita adalah penolong agama Allah. Bagaimanapun, Allah berjanji akan menolong orang yang menolong agamanya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Artinya: “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.S. Muhammad: 7)

Saat menjalankan misi mulia ini kita harus selalu yakin bahwa Allah selalu bersama kita. Selalu ingatkan diri dengan kalimat yang diucapkan nabi Musa kala dikepung Firaun dan nabi Muhammad ketika dikejar orang-orang Quraisy.

4. Setelah kesulitan ada banyak kemudahan

“Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah: 5-6)

Sudah menjadi sunnatullah bahwa terdapat kemudahan dalam setiap kesulitan. Tak seorang pun berjuang tanpa menghadapi cobaan. Dulu, para nabi dan sahabat juga mengalami hal sama.

5. Jangan sampai berhenti di tengah jalan

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).” (Q.S. Al-Insyirah: 7)

Surat al-Insyirah ayat kelima memberikan isyarat dalam menjalankan misi dakwah jangan sampai berhenti di tengah jalan. Seburuk-buruk sesuatu adalah yang tidak dapat diselesaikan. Seakan kita tidak percaya kepada Allah Swt. Sementara tanpa kita tahu, Allah telah menyiapkan hasil yang luar biasa. Surat al-Insyirah menyuruh kita agar menyelesaikan satu tugas kemudian menyelesaikan tugas lainnya.

6. Berharap rida Allah

“Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (Q,S. Al-Insyirah: 8)

Dan paling pokok dalam berdakwah adalah mengharapkan Ridha Allah. Semua hal yang kita harus berdasarkan harapan ingin mendapatkan Ridha Allah. Jika kita hanya memandang Allah maka semuanya akan terasa ringan, terasa mudah dijalani dan selalu merasa optimis.

Dikembangkan dari penggalan sambutan K.H. Ihya’ Ulumuddin

dalam acara SILATNAS ke 3 Hawari ash-Shofwah al-Malikiyyah

Berikan Komentar Anda

tags: , , , , , , ,

Related For Proses Menuju Rida Allah dalam Berdakwah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *