Ziarah dan Kebahagiaan Spiritual

Tuesday, July 24th 2018. | Cakrawala

Menurut ajaran Islam, ziarah merupakan ibadah yang bermuatan pahala. Abd al-Haqq al-Isybili (w. 582) menghukuminya sunah yang diharuskan (sunnah wâjibah). Sedangkan mazhab-mazhab fìkih berpandangan, hukumnya berbeda-beda antara wajib (menurut beberapa ulama Mâliki dan Zhâhirî), mendekati wajib (menurut ulama Hanafi), serta sunnah mandûbah (menurut ulama Syâfì’î dan Hanbali). Adapun tentang ziarah ke makam Nabi saw., mayoritas ulama dan mazhab-mazhab utama membolehkannya. Bahkan, hal tersebut dianggap baik dalam Islam.

Berkembangnya tradisi ziarah menggambarkan ekspresi keagamaan manusia. Berdasarkan artefak yang berserakan di sejumlah lokasi, ritus ziarah tidak hanya ditemukan di negeri ini. Tradisi mengunjungi pemakaman merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia di berbagai pelosok negeri. Bertahannya kebiasaan tersebut menandakan bahwa dalam dunia ini terdapat aspek-aspek transendental yang terkadang tak mampu ditangkap oleh logika. Berikut dituturkan beberapa fenomena ziarah, mulai berkunjung ke makam nabi, mendatangi kuburan para wali, hingga melawat punden orang-orang yang dianggap suci dan dipercaya mengantongi sakralitas.

Makam Nabi

Dalam karyanya tentang “fikih mazhab-mazhab yang diakui”, ‘Abd al-Rahmân al-Jazâ’irî menulis panjang lebar urgensi dan manfaat ziarah ke makam Nabi saw sekaligus menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan anjuran Islam. Menukil perkataannya, “bukanlah suatu rahasia bahwa, bagi mereka yang dianugerahi pemahaman (ûlû al-albâb), ziarah ke makam Nabi saw. lebih besar manfaatnya daripada pengalaman lain”. Lebih jauh, Al-Jazâ’irî juga menyebutkan beberapa tindakan yang dianjurkan ketika berziarah ke makam Nabi saw beserta tata kramanya. (Muhammad Hisyam Kabbani, 1998: 114).

Dengan dasar inilah, umat Islam berbondong-bondong menempuh perjalanan jauh demi mengunjungi makam Nabi saw. Mereka ingin merasakan kedamaian dan ketentraman hati dengan memandangi makam sang junjungan. Pada saat melakukan ibadah haji atau umrah, banyak orang Islam dari berbagai penjuru dunia menyempatkan diri untuk menengoknya. Dengan bermunajat, membaca bacaan dzikir, serta berdoa, mereka mengharap syafaat beliau pada akhir zaman.

Ajaran Sufi

Pada masa silam, kegemaran berziarah orang Islam salah satunya dipengaruhi oleh keberadaan kaum sufistik sebagai golongan yang mengamalkan sikap zuhud atau asketisisme dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas berkunjung ke makam menjadi medium memperoleh “keuntungan berjangka panjang”. Hal ini bisa ditengok dari kebiasaan dan perilaku yang ditunjukkan oleh para pengamal sufisme di Iran. Dalam catatan sejarah, aliran sufi genap memperbesar kecenderungan orang Iran terhadap tradisi kewalian. Dalam doktrin sufisme, pemimpin sufi oleh pengikutnya dianggap selaku penuntun, pelindung, rekan seperjalanan, orang pintar, penafsir peristiwa mistis, penganjur serta perantara kepada jalan Allah.

Peran penting ajaran sufi dalam budaya Persia Islam nampak pada arsitektur makam yang menjadi lokasi tujuan ziarah-ziarah besar. Yang paling fenomenal yaitu makam Abu Yazid di Bastam dan Syãh Ne’matollãh Vail Kermãni di Mãhãn, Gozargãh dekat Herat (di Afghanistan, makam Anshãri) serta makam Jalãluddin Rumi di Konyã (Turki). Selain itu, banyak makam lainnya yang termasyhur dalam kitab-kitab Persia, semisal makam Hãfez dan Sa’di di pinggiran kota Shiraz yang keduanya kerap diziarahi oleh orang-orang Iran. Aktivitas berziarah ke makam wali sufi membuka peluang bagi pengikutnya untuk dapat memakai hasil khalwatnya sekaligus memetik hikmah dan manfaatnya. Uniknya, hal ini bisa dilakukan tanpa melepaskan diri dari ikatan-ikatan duniawi. Dengan demikian, apa yang mereka peroleh merupakan kebahagiaan spiritual. (Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot, 2007: 222).

Ilmu Kebatinan

Di Indonesia, tujuan seseorang berziarah kubur bermacam-macam. Oleh karena itu, motif di baliknya tentu tidak dapat diseragamkan. Dalam buku Kesalehan Sosial, Mohamad Sobary (2007: 73) menyebutkan bahwa salah satu maksud seseorang melakukan kunjungan ke makam adalah meningkatkan taraf ekonomi. Sebagian komunitas masyarakat Betawi menilai bahwa kegiatan berdagang harus disertai dengan ilmu rangkepan agar segala sesuatu yang ditawarkan kepada konsumen diminati. Bagaimanapun, terjadinya persaingan sengit dalam upaya menggaet pembeli menuntut para pedagang menerapkan ilmu ini. Akhirnya mereka menempuh ‘jalan pintas’ dengan memanfaatkan bantuan ilmu kebatinan guna memenangkan beraneka ragam rivalitas.

Sejumlah kasus memperlihatkan bahwa seorang pedagang sengaja pergi ke dukun atau kuburan keramat untuk mencari ilmu pelarisan. Fakta ini antara lain ditemukan di Suralaya dan beberapa desa lainnya. Dalam pengertian ini, ziarah bisa dilihat sebagai cara mereka memandang, mengartikulasikan, serta menafsirkan dunia. Pada saat yang sama, ziarah juga mengungkapkan bahwa hal-hal yang tampaknya bercorak keagamaan ternyata bisa saja mengandung motivasi-motivasi ekonomi. Itulah mengapa, setiap kegiatan manusia tidak hanya dapat dinilai dari apa yang terlihat di permukaan. Dalam hal ini, pendalaman terhadap psikologi dan sosiologi masyarakat menemukan relevansinya.

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Ziarah dan Kebahagiaan Spiritual

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *