Wasilah an-Najah fi Bayan an Nikah: Bukti Produktivitas Masyayekh Langitan

Sunday, March 27th 2016. | Kitabah

pengantin-akad-nikah

Wasilah an-Najah fi Bayan an Nikah:

Bukti Produktivitas Masyayekh Langitan

 

Sejak dulu, mengarang merupakan kebiasaan ulama salaf dalam rangka melestarikan ilmu Allah. Aktivitas ini menjadi semacam ‘prasasti’ yang sangat berharga bagi generasi setelahnya. Dalam sejarah Islam, kita menjumpai banyak ulama yang mengapresiasi sabda nabi ilmun yuntafaau bihi, dalam bentuk karangan.

Kita mengenal Imam Ghozali (abad 5 H) dan Imam Nawawi (abad ke 7 H) dengan ratusan karyanya. Tak heran jika sejarah menyebut bahwa saat penaklukan konstatinopel berlangsung, jutaan kitab dihanyutkan dalam sebuah sungai. Ini merupakan bukti produktivitas ulama dalam menulis. Tidak terkecuali para pemangku pondok Langitan. Dari masa ke masa, dari pondok ini selalu muncul seorang muallif dengan karyanya yang gemilang.

Di antara kitab yang sedang dicetak adalah Washilah an-Najah fi Bayan an-Nikah (sarana keberuntungan dalam menerangkan tentang nikah). Kitab yang menjelaskan nikah ini dikarang oleh KH. Abdul Hadi Zaid, pemangku pesantren Langitan generasi ketiga. Selain dikenal istiqamah dan memiliki perhatian lebih terhadap para santri, beliau juga ulet dan telaten menulis. Dalam kepengasuhannya, beliau menganjurkan para santri untuk selalu mengasahi (memberi makna kitab,red) kitab dengan lengkap.

Pernikahan menjadi naluri dan fitrah manusia. Yang terbayang dari agenda pernikahan adalah sebuah keindahan bagi perjaka dan gadis. Menikah adalah sunnah nabi yang menjadi perantara bagi orang-orang Isalam dalam menjaga akhlaqul karimah dan menjauhkan diri dari segala maksiat. Nabi bersabda, ”Nikah adalah sunnahku. Barang siapa yang tidak senang menikah, maka ia bukan termasuk umatku.” Karenanya, menikah menjadi sesuatu yang diidamkan setiap Muslim.

Pada dasarnya, menikah hukumnya sunah. Namun, dalam salah satu keadaan, menikah bisa menjadi wajib. Hukum ini berlaku apabila seseorang takut terjatuh dalam perzinaan serta tidak ada jalan lain untuk mencegahnya kecuali dengan menikah. Nikah bisa menjadi haram bila khawatir tidak mampu menjalankan hak sebagai seorang suami atau istri. Seseorang yang ingin menikah harus memperhatikan keadaanya dirinya. Sekiranya, ia mampu untuk menjalankan hak suami atau istri secara lahir dan batin, maka sebaiknya ia melangsungkan pernikahan.

Dalam kitab fikih, nikah adalah seperempat dari pembahasan ilmu syari’at. Artinya, nikah sangat penting dalam rangka mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Banyak cerita tersebar di masyarakat, seorang suami yang baik begitu menyesal, karena salah menjalani proses pernikahan. Begitu juga, banyak  wanita shalehah yang sengsara saat mengarungi samudra rumah tangga.

Dari pernikahan yang baik akan muncul generasi yang baik pula. Sebaliknya, bila pernikahan tidak sah, maka akan berakibat fatal. Karenanya, kitab Washilah an Najah fi Bayani an Nikah adalah solusi praktis bagi para pemula untuk memahami semua yang berhubungan dengan nikah. Kitab ini bukan hanya menerangkan nikah dalam perspektif fiqih, namun juga mengandung banyak unsur tasawuf yang akan menjadikan pernikahan mampu mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Mengenai rukun nikah, syarat, prosesi, mahar, dan profil calon pendamping hidup, mushannif menukilnya dari kitab-kitab besar yang mu’tabarah, seperti Ihya’ Ulumiddin, Tuhfah Muhtaj, Syarh al Minhaj, Syarh Khatib, Syarh at-Taqhrib, Fathul Mu’in, dan Hasyiyah Fathul Qarib. Catatan-catatan penting dalam kitab-kitab di atas sengaja disalin oleh mushannif dalam sebuah tanbih.

Begitu pentingnya kitab ini, sampai-sampai sang keponakan, KH. Ali Marzuqi memberi ta’liq. Beliau juga mentahqiq beberapa kalimat pada kitab Wasilah An Najah. Kyai spesialis fiqih ini memberikan keterangan-keterangan yang diambil dari al-Qur’an, hadits dan kitab fiqih lainnya. Boleh dibilang, meskipun kitab ini tipis, namun insyallah mampu menjadi perantara dalam menggapai keberuntungan dalam menjalankan pernikahan dengan segala seluk-beluknya. Di akhir kitab, mushannif menyisipkan sebuah syi’ir dengan arti sebagai berikut:

Wahai santriku, mengajilah kitab wasilah lin najah

Saat kamu mencari keputusan untuk menuai keberuntungan atas nikah

Dan bagi yang menginginkan menikah, hendaknya menetapinya

Maka dia akan menjadi yang beruntung dengan penuh kebahagiaan

Aku selesaikan kitab ini pada Jumadil Awwal Akhir

Maka berdo’alah kepada orang yang mengumpulkan wasilah ini.

 

Judul buku       : Wasilah an-Najah fi Bayan an Nikah

Penulis             : Syekh Al-Allamah Abdul Hadi Zahid

Tebal               : 39 halaman

Peresensi         : Muslimin Syairozi

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Wasilah an-Najah fi Bayan an Nikah: Bukti Produktivitas Masyayekh Langitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *