Ustadz H. Mahbub Adlan , Sang Perintis Daurah Hadis Kutub as-Sittah

Wednesday, April 18th 2018. | Uncategorized

Nama                           : Mahbub Adlan

TTL                             : Gresik, 4 April 1976

Alamat                         : Wonokerto, Dukun, Gresik

Bidang khidmat          : Daurah Hadis Kutub as-Sittah

 

Ustadz H. Mahbub Adlan adalah salah satu staf pengajar di Madrasah Al-Falahiyah Langitan. Sampai saat ini, beliau masih aktif menularkan ilmu-ilmu kepada para santri Langitan di tengah kesibukkan yang dijalani di rumah. Untuk itu, Ustadz Mahbub bisa dikatakan masih menjadi santri yang belum “boyong”. Aktifitas tersebut terus dilakukan karena satu tujuan yakni untuk khidmah.

 

Ke Langitan Karena Warisan

Lahir di tengah lingkungan yang akrab dengan ilmu agama membuat Mahbub muda mempunyai cukup bekal untuk berhijrah ke pondok pesantren guna mengarungi samudra ilmu yang lebih luas lagi. Karena mayoritas keluarga belajar di Langitan, maka Mahbub juga diminya orang tuanya untuk mondok di Langitan. Meskipun saat itu saudara-saudaranya sudah hampir lulus dan ingin melanjutkan ke tempat lai.

Karena bekal yang sudah mumpuni dari rumah, beliau memulai jenjang pendidikan di Langitan pada kelas 1 Madrasah Tsanawiyah pada tahun 1991 M.

“Pelajaran Imrithi dan Maqshud sudah saya hafal dan pelajari di rumah. Jadi, masuk Langitan alhamdulillah langsung kelas 1 MTS,” kata Ustadz Mahbub.

Pada tahun-tahun seterusnya, bait-bait syair seperti fara’idl dan Alfiyah Ibnu Malik mampu dihalafnya dengan mudah. Tetapi dengan rendah hati, Ustadz Mahbub mengatakan kepada kami jika hanya nadham-nadham tersebut hanya hafal, soal pemahaman pemahaman urusan belakang.

 

Tidak Diperbolehkan “Berhenti Mondok” Oleh Syaikhina

Menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bagi seorang santri ketika kiai memintanya untuk menemani dalam sebuah acara atau undangan. Hal itu pula yang dirasakan oleh Ustadz Mahbub ketika Syaikhina Abdullah Faqih mengajak beliau menghadiri sebuah Istighasah di Surabaya.

Sebenarnya, pada saat lulus Madrasah Aliyah, Ustadz Mahbub berniat untuk melanjutkan belajar ke pesantren lain seperti kakak-kakaknya. Karena merasa ilmu yang diperoleh saat itu belum cukup. Beliau memberanikan diri untuk meminta restu kepada Syaikhina KH Abdullah Faqih, namun tidak diperbolehkan oleh Syaikhina dan disuruh untuk menuntaskan sampai jenjang musyawirin.

Mau tidak mau, keputusan Kiai menjadi harga mati yang harus dipatuhi. Dari situlah Ustadz Mahbub sampai sekarang tetap menganggap dirinya masih mondok karena memang dari dulu tidak pernah sowan untuk boyong.

 

Merintis Daurah Hadis Kutub as-Sittah bersama Sang Kakak

Pada tahun 2008, beliau mulai sedikit bersentuhan dengan masyarakat dan mulai meninjau bagaimana kondisi keadaannya. Alhasil, Ustadz Mahbub menemukan kekurangan pendidikan agama di masyarakat. Salah satunya adalah banyaknya TPQ yang belum terorganisir dengan baik. Melihat kekurangan tersebut, beliau mulai memberikan kajian rutin di masyarakat dengan pengajian dari kampung ke kampung.

Bersama sang kakak, KH Fauzan Adlan. Ustadz Mahbub merintis Daurah Hadis yang diperuntukkan bagi siapapun yang ingin mempelajari atau sekedar mencari sanad ilmu hadis. Bahkan kebanyakan peserta adalah para mahasiswa dan akademisi yang memang suka mempelajari ilmu hadis. Karena para peserta yang berasal dari berbagai daerah, seperti Tasikmalaya dan Madura. Akhirnya, Daurah ini disampaikan dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Saat ini ada beberapa kitab yang sudah dikhatamkan seperti Muwattha’, Sunan Ibnu Majah  dan Sunan Abu Dawud. Sedangkan untuk saat kitab yang sedang dikaji adalah Sunan Tirmidzi.

Kelebihan dari Daurah ini adalah kitab yang normalnya satu atau dua tahun baru bisa dikhatamkan. Maka dalam daurah hanya perlu waktu dua sampai tiga bulan karena lebih intensif. Daurah digelar selepas shalat lima waktu dengan durasi paling sedikit enam jam.

Kedepannya beliau bersama sang kakak yang merupakan alumnus Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki al-Hasani Mekah akan merintis Daurah Quran. Daurah Quran sendiri adalah sebuah majlis khusus perempuan yang ingin menghafal al-Quran. Beliau berharap nantinya santri bisa menghafal 5 Juz dalam 40 hari beserta murajaah dan setoran.

Akhir kata, Ustadz Mahbub memohon doa dari para masyayikh agar bisa istiqamah merawat daurah dalam menghidupkan obor Islam agar terus bersinar terang benderang.

(Khozin)

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , ,

Related For Ustadz H. Mahbub Adlan , Sang Perintis Daurah Hadis Kutub as-Sittah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *