USIA ANAK 6-14 TAHUN; MASA PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ISLAMI YANG UNGGUL

Saturday, July 30th 2016. | Keluarga

b0014

USIA ANAK 6-14 TAHUN; MASA PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ISLAMI YANG UNGGUL

OLEH: Kang Arul

 

Lembaga pendidikan yang pertama adalah keluarga dan orang tua menjadi pengajar sekaligus pendidik bagi anak-anaknya. Anak terlahir dalam fitrah (bersih) sebagaimanakertas putih, tergantung mau digambar seperti apa dan bagaimana gambar yang dilukiskan pada kertas putih tersebut. Hasil lukisan bagus dan tidaknya ada pada kekuasaan sang pelukis. Demikian kiasan itu, baik tidaknya pekerti anak, berhasil dan tidaknya seorang anak menggantung kedua orang tua. Seperti apa pengajaran dan pendidikan pada anaknya, dalam lingkungan seperti apa anaknya tinggal dan bagaimana dia belajar akan menentukan masa depannya kelak.Menurut Thohari Musnamar (1992) Fitrah kerap kali juga diartikan sebagai bakat, kemampuan, atau potensi. Jika demikian, maka bakat atau kemampuan dalam setiap diri anak bisa digali melalui dengan belajar. Dalam konteks arti luas maka potensi dan bakat tersebut diperhatikan pula dalam kajian islam tepatnya konseling islami.

Dalam kajian barat konsep ini disebut dengan tabula rasa yang dikemukakan oleh salah satu aliran empirisme John Locke. Perdebatan panjang tentang isu-isu perkembangan manusia, diantara salah satu isu adalah tentang perkembangan manusia bersifat alami (nature). Artinya, kondisi dimana ia terbentuk dari lingkungan belajar, pola asuh, pergaulan dan semacamnya. Namun jauh sebelum teori itu terlahir, konsep tabularasa atau anak seperti lembaran kertas putih sudah dijelaskan oleh islam lewat konsep yang dibawakan oleh Nabi Muhaammad saw. Dalam riwayat Abi Hurairah: Sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. telah bersabda: Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Dan kemudian ayah-ibunya yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi. Dan jika ayah-ibunya itu seorang muslim, maka jadilah (si anak) seorang muslim (H.R. Muslim, Juz. IV, hlm. 2048).

Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh aktivitas belajar dan bimbingam kedua orang tua. Pengetahuan tentang perkembangan individu anak, murid, santri, atau peserta didik dalam proses pembelajaran sangat penting bagi orang tua, guru, pendidik, pengasuh, dan stakeholder dalam dunia pendidikan formal (MI-Mts-MA/sederajat) atau non-formal dan dalam dunia pesantren. Perkembangan individu tersebut ditunjukkan bagaimana perkembangan anak-anak, remaja dan dewasa tumbuh dan berkembang secara fisik (perubahan organ tubuh), psikis (gejolak jiwa) dari fase ke fase seperti dalam pertumbuhan fisik, kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), social, psikomotor dan moral (akhlak). Pemahaman perkembangan individu merupakan bagian integral yang tidak bisa terpisahkan bagi orang tua dan pendidik dalam merawat, mengajar dan mendidik anak-anaknya maupun peserta didik. Proses pengajaran dan pembelajaran tidak akan berjalan efektif dan efesien jika tidak memahami perkembangan individu secara menyeluruh.

Perkembangan individu dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak terlahir hingga akhir hayatnya atau dapat pula diartikan  perubahan-perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangan (iskandar, 2012). Perkembangan individu tumbuh dan berkembang secara fisik dan psikis. Secara fisik perkembangan terjadi sesuai dengan fase-fase perkembangan mulai dari anak-anak sampai dewasa, biasanya ditengarai dengan perubahan tubuh, otot dan organ yang lain. Sedangkan secara psikis perkembangan individu juga mengalami perubahan imajinasi fantasi ke realistis. Atau dengan kata lain dari pemikiran ke kanak-kanakan yang bersifat ilustrasi belaka kepada pemikiran yang nyata dan kongkrit. Maknanya secara prinsipil perkembangan merupakan suatu yang tidak perna berhenti dan semua aspek perkembangan  saling berhubungan.

Sejalan dengan fase-fase perkembangan pada manusia sejak dari masa kanak-kanak sampai masa tua Havinghurst dalam Made Pidarta (1997) membagi fase perkembangan sebagaimana berikut ; Fase perkembangan masa kanak-kanak, masa anak, masa remaja, masa dewasa awal, masa setenga baya dan fase perkembangan masa tua. Untuk memenuhi tugas-tugas pada setiap fase dicapai melalui belajar yang merupakan aktivitas manusia yang sangat vital dan nomor wahid. Ketika bayi manusia baru terlahir, jika tidak mendapatkan bantuan dari orang dewasa niscaya binasalah ia. Tidak akan mampu hidup sebagai manusia  jika ia tidak diajar atau dididik oleh manusia lain,meskipun bayi yang baru lahir membawa beberapa naluri atau instink dan potensi-potensi yang dimiliki untuk kelangsungan hidupnya. Namun potensi bawaan tersebut tidak dapat berkembang dengan baik tanpa adanya pengaruh dari luar. Dengan demikian manusia membutuhkan kepandaian yang bersifat jasmaniah dan rahaniah, semua ini hanya bisa dicapainya dengan belajar.

Belajar dalam pandangan islam memiliki arti sangat penting, sehingga hampir setiap saat manusia tidak perna lepas dari aktivitas belajar. Keunggulan suatu ummat manusia atau bangsa juga sangan tergantung kepada seberapa banyak mereka menggunakan kekuatan rasio, anugerah Allah untuk belajar  dan memahami ayat-ayatNya. Sehingga dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang berilmu kederajat yang luhur (lihat: Qs. Al-Mujadalah: 11). Devinisi belajar menurut Hilgard adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan malalui jalan latihan baik didalam kelas maupun di luar kelas. Sumandi Suryabrata (2005) membuat kesimpulan bahwa dalam belajar harus membawa perubahan baik actual mupun potensial, adanya kecakapan baru dan perubahan itu terjadi karena usaha yang dilakukan.

Disamping itu dapat dipahami bahwa manusia membutuhkan waktu yang relative lama untuk belajar, sejak dari masa kanak-kanak sampai masa tua sepanjang kehidupaanya. Karena itu manusia selalu dan senantiasa belajar kapanpun dan dimanapun. Hal ini sejalan dengan konsep Life long Education (pendidikan sepanjang hayat) bahwa pendidikan tidak berhenti hingga individu menjadi dewasa, tetapi tetap berlanjut sepanjang hidupnya. Jauh sebelum konsep ini dikenal baginda Muhammad saw. sudah menjelaskan dengan lisan muliahnya dalam haditsnya yang berbunyi “Tuntutlah ilmu mulai dari ayunan (buaian ibu) sampai ke liang lahat (mati)”.

Syamsul Yusuf (2003) mencoba mengelompokkan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis sebagimana berikut; Masa Usia Pra Sekolah (anak berusia 3-5 tahun), Masa Usia jenjang pendidikan dasar, masa usia jenjang pendidikan menengah (masa remaja) dan masa usia jenjang pendidikan tinggi (umur 18 hingga 25 tahun). Masing-masing dari fase perkembangan  ini mempunyai ciri-ciri dan tugas yang harus diketahui oleh para orang tua dan pendidik.

Masa usia pra sekolah terbagi menjadi dua yaitu: masa vital (penting) dan masa estetik. Pada masa vital individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Tugas perkembangan pembelajaran pada fase ini adalah: anak belajar makan, belajar berjalan dan anak belajar berbicara. Pada masa estetik adalah masa yang dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Individu anak bereksplorasi dan belajar melalui panca  inderanya. Adapun tugas pembelajaran pada masa ini yaitu: anak belajar membedakan yang baik dan buruk, anak membedakan jenis kelamin, belajar sopan santun, anak belajar mengeja dan membaca, anak belajar mengenal individu secara emosional dan social. Dimulai dari mengenal orang tua, saudara, keluarga dan social masyarakat.

Selanjutnya adalah masa usia jenjang pendidikan dasar. Masa ini disebut pula dengan masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak sudah dianggap matang untuk memasuki sekolah. Menurut Tohirin (2005:34) ciri utama anak yang sudah matang, yaitu: memiliki dorongan untuk keluar daru rumah dan memasuki kelompok sebaya (peer group), keadaan fisik yang memungkinkan anak-anak memasuki dunia bermain dan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan jasmani, memasuki dunia mental untuk memasuki dunia konsep, logika, dan kumunikasi yang luas. Pada masa ini terbagi dua dan mempunyai ciri masing-masing, yaitu: (1) masa kelas rendah (6 atau 7 sampai 10 tahun) dan (2) masa kelas tinggi (9 atau 10 sampai 13 tahun). Pada masa  kelas rendah bercirikan: sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional, adanya kecenderungan memuji diri sendiri, membandingkan dirinya denga anak lain, apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal maka soal itu dianggap tidak penting. Sedangkan ciri-ciri pada masa kelas tinggi, yaitu: minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret, amat realistik dan rasa ingin tahu untuk selalu ingin belajar, minat pada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus, dan gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama dengan membuat peraturan bermain sendiri.

Pada fase ini dimulai dari anak genap berusia tujuh tahun hingga empat belas tahun. Di masa ini anak tengah mempersiapkan dirinya untuk menjadi manusia matang dan satu anggota dari masyarakatnya. Anak mulai menghilangkan kebiasaannya meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa dan mulai memperhatikan alam serta lingkungan sekitar. Saat itulah daya pikir anak mulai terbuka dan mampu untuk berimajinasi dan menangkap banyak masalah yang tidak kasat mata. Ia mulai berpikir tentang dirinya sendiri, memandang dirinya sebagai salah satu mahluk yang hidup, berdiri sendiri, dan memiliki kehendak yang berbeda dengan orang lain.

Pada masa inilah orang tua harus memberikan perhatian ekstra terhadap pendidikannya karena kini ia tengah berada di awal hubungan sosialnya dalam lingkup yang lebih luas dengan masuknya di dunia sekolah/pendidikan, baik formal maupun non-formal termasuk pada masa ini banyak pula yang dititipkan di pesantren. Saat anak dalam dunia sekolah/pesantren  berpotensi besar dalam membangun kepribadian anak dengan adanya banyak teman disana yang masing-masing mamepunyai tingkat kecerdasan dan kegesitan tersendiri. Anak akan tergugah untuk bersaing dengan mereka dan hal itu sangat berpengaruh pada karakternya. Beberapa faktor penting yang berkaitan dengan pembangunan karakter anak dalam fase ini antara lain adalah pola interaksinya dengan orang tua, seluruh anggota keluarga, guru, kiai, dan pengasuh.

Langkah-langkah penting yang berhubungan dengan pendidikan anak pada fase ini, sebagai berikut:(a) dorongan untuk belajar, (b) melatih anak untuk patuh, (c) pengawasan anak, (d) pencegahan atas perilaku asusila, (e) menciptakan hubungan dengan teladan yang baik, (f) pendidikan ekstra ketat, mendidik anak dengan baik dan benar serta mengajarinya budi pekerti yang luhur merupakan tugas dan  tanggung jawab yang berada di pundak orang tua. Pada fase ini, anak sangat memerlukan perhatian dan pengawasan ketat dari orang tuanya. Karena itu, orang tua harus meluangkan waktu dan tenaga yang lebih besar. Tidak jarang kedua orang tua yang tidak mempunyai waktu lebih bersama anaknya karena kesibukan kerja atau perihal lain menitipkannya pada Kiai atau pengasuh di pondok pesantren, dan ini merupakan  pilihan yang tepat dan terbaik. Sebab, disinilah anak yang menjadi santri ditempa, dididik dan dilatih hidup mandiri, sehingga terbentuklah karakter kepribadian yang unggul di waktu kelak nanti.  Pendidikan yang ditekankan tidak lain adalah pendidikan dengan konsep islami yang menjadikan masalah penghambaan kepada Allah dan ketaatan kepadaNya menjadi poros segala masalah kehidupan dan tidak menafikan pendidikan yang bersifat umum. Sebab keduanya ilmu agama dan umum berjalan bersamaan (Iskandar, 2012).

Sebagaimana hal ini perna dilakukan oleh Ali a.s. saat melewati  masa kecilnya dirumah Rasulullah saw semasa beliau belum dilantik sebagai Nabi agung. Ketika Rasulullah saw diangkat menjadi Rasul, Ali merupakan orang yang pertama kali menyatakan keimanan secara tulus dengan ditunjukkan ketaatan mutlak pada Allah dan rasul-Nya. Saat dewasa, beliau menjadi teladan tanpa tanding dalam hal keberanian, pengorbanan, kedermawanan, kerendahatian, kejujuran, dan seluruh keutamaan akhlak lainya. Pada giliranya Sahabat Ali r.a. kemudian mendidik anak-anaknya dengan cara yang serupa sehingga mengantarkan mereka sampai ke puncak kesempurnaan akhlak.

Begitu beratnya beban yang di tanggung oleh orang tua dan pendidik, saat anak atau peserta didik pada masa perkembangan dalam fase ini. Dimanaproses mendidik anak sangat sulit, sehingga diperlukan usaha dan keuletan yang lebih besar dari orang tua dan pendidik dalam memberikan pendidikan, menjaga dan mengontrol setiap gerak-gerik anak, termasuk pola berpikir, perasaan, dan pelajaran-pelajaran yang didapatkan dari bangku sekolahnya. Di dunia pesantren, sepertinya mewakili konsep pendidikan dengan karakteristik dan pola pengasuhan yang perna dicontohkan oleh sahabat Ali r.a. ketika masa perkembangan pada fase seperti ini di rumah Rasulullah saw. Sebagai penutup dari tulisan ini, anak pada masa ini tengah mmebutuhkan pengarahan yang intensif dari orang tuanya dan pendidik, juga bimbingan mereka dalam mengarungi samudera kehidupan yang penuh tantangan dan penuh dengan liku-liku. Masa usia remaja, remaja awal dan remaja akhir akan diulas di edisi berikutnya, jika Allah mengizinkan.

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , ,

Related For USIA ANAK 6-14 TAHUN; MASA PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ISLAMI YANG UNGGUL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *