Usaha Produksi Minuman Kesehatan ‘SILAHAIN’ KH. Ali Wafa, Gresik Membuka Peluang Usaha Sebagai Bekal Dakwah Santri

Tuesday, April 11th 2017. | Wawancara

 

Tepat selepas jama’ah sholat Maghrib, Tim Reportase Majalah Langitan tiba di lokasi pondok pesantren Al Ibrohimi, Manyar, Gresik. Kedatangan kami disambut pertama kali oleh putra kedua KH. Ali Wafa, pengasuh pondok pesantren Al Ibrohimi, Agus Shofi. Setelah dipersilahkan masuk dan menunggu di ruang tamu, tak lama KH. Ali Wafa, yang baru rawuh dari mengimami para santri pun menemui kami dengan senyum hangatnya.

Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami, wawancara pun kami mulai.

Tujuan Awal Produksi ‘SILAHAIN’

Semua berawal dari dawuh almaghfurlah KH. Abdullah Faqih, ketika KH. Ali Wafa pamit pulang dari nyantri di pondok pesantren Langitan; “Awakmu nang omah kudu ngaji, kudu ngulang, tapi yo kudu nyambut gawe”, “Kamu di rumah harus mengaji, mengajar, tapi juga harus bekerja”. Karena itulah Mbah Kiai Faqih, sebelum KH. Ali Wafa boyong, beliau ditugaskan untuk menjaga TOKIN (Toko Induk PP. Langitan), sehingga KH. Ali Wafa bisa belajar bagaimana cara berwirausaha.

Setelah pada akhir tahun 1990, KH. Ali Wafa mendirikan pondok pesantren Al Ibrohimi, tepat pada tahun 1991, KH. Ali Wafa pun merintis sebuah usaha minuman kesehatan (red. Jamu) karena merasa prihatin terhadap beberapa santri yang berkeinginan mondok namun terkendala masalah biaya.

Selain itu juga, KH. Ali Wafa ingin mengajarkan pada para santri agar mandiri, supaya kelak, ketika terjun di tengah masyarakat bisa berdakwah dengan tanpa menggantungkan hidup pada orang lain. Sehingga ketulusan, keikhlasan dalam menyerukan kemuliaan Islam tetap bersih dari unsur-unsur duniawi.

Awalnya, usaha yang dirintis KH. Ali Wafa adalah produksi krupuk, namun menurut ayahanda KH. Ali Wafa,  bisnis krupuk itu modalnya 4 kali lipat, merebus, menggoreng, membungkusi, memasarkan, ditambah lagi jika tidak laku, satu minggu sudah mlempem. Akhirnya KH. Ali Wafa pun kembali menekuni bisnis ‘Jamu’ yang telah diproduksi turun temurun oleh keluarga, yang kemudian diberi label ‘SILAHAIAN’.

‘SILAHAIN’ Sebagai Minuman Kesehatan

Sebagaimana jamu-jamu yang lain, produksi jamu KH. Ali Wafa juga memiliki cita rasa pahit. Namun seiring dengan semakin maraknya minuman-minuman kesehatan yang memiliki cita rasa nikmat, KH. Ali Wafa pun melakukan riset-riset untuk menemukan resep minuman kesehatan yang tetap sehat namun nikmat agar mampu bersaing dengan merk-merk lain.

Akhirnya KH. Ali Wafa pun menemukan resep minuman kesehatan yang sampai sekarang diproduksi dan diberinama SILAHAIN.

Karena konsumen SILAHAIN adalah kalangan menengah ke bawah, SILAHAIN pun dipatok dengan harga yang sangat terjangkau, berkisar harga jual 2000 rupiah. Dan agar bisa tetap dipasarkan dengan harga terjangkau, kemasan SILAHAIN pun memakai botol-botol minuman energy merk lain yang sudah disterilkan melalui beberapa proses. Sehingga terciptalah SILAHAIN, minuman kesehatan yang berkhasiat dan terjangkau.

Produksi SILAHAIN di awal berdirinya hanya 27 botol kecap besar, terus berkembang dari masa ke masa, sampai sekarang mencapai 5000 botol per harinya. Untuk distribusi pemasaran SILAHAIN sudah mencapai Jawa Timur dan Jawa Tengah, juga beberapa daerah lain di luar Jawa, namun hanya terbatas orderan.

SILAHAIN sendiri memiliki 2 varian, SILAHAIN biasa dan SILAHAIN Plus-plus. Jika anda ingin mencoba khasiat dan rasa SILAHAIN yang berbeda dari minuman-minuman energy biasa, anda bisa mendapatkannya di toko-toko terdekat, atau datang langsung di pondok pesantren Al Ibrohimi.

Berangkat dari cita-cita untuk membantu para santri yang terkendala masalah biaya, usaha SILAHAIN pun kini berkembang pesat menunjang perkembangan pondok pesantren Al Ibrohimi tanpa menggantungkan kepada donatur. Semua berawal dari NIAT. [AA. Dzikri]

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Usaha Produksi Minuman Kesehatan ‘SILAHAIN’ KH. Ali Wafa, Gresik Membuka Peluang Usaha Sebagai Bekal Dakwah Santri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *