Ulama’ yang Tegas dan Sederhana

Monday, December 14th 2015. | Wawancara

 

maxresdefault

Pagi yang cerah itu membuat kota Malang sedikit hangat. Dari Masjid Agung, kami langsung menuju Pondok Pesantren Nurul Huda, Mergosono. Sesampai di sana, Alhamdulillah kami diperkenankan sowan kepada KH. Shihabuddin Al-Hafidz yang merupakan menantu kedelapan KH. Masduqi Mahfudz. Di tempat penuh berkah inilah, kami mendapat banyak kisah tentang beliau. Berikut laporannya.

 

Sederhana, Tercukupi

Ayah adalah sosok yang sederhana. Prinsip kesederhanaan beliau yaitu tidak menjadi kaya, namun semuanya bisa tercukupi. Dawuh beliau selalu dipegang teguh oleh para santri. Walau menjadi pegawai negeri, beliau tidak pernah sedikitpun memakan hasil gajinya. Beliau mengetahui bahwa gajinya merupakan hasil berbagai macam hal.

Dalam keseharian, ayah meyakini bahwa kita makan adalah untuk menggugurkan kewajiban hidup saja. Sehari-hari makan dengan lauk tempe. Itu pun sudah maksimal. Beliau selalu menerapkan hal itu dan tidak pernah sekalipun tana’um (mengambil kelezatan) terhadap gaji yang beliau peroleh. Makanya, jika ingin punya anak-anak yang sholeh, kita harus menjaga jangan sampai anak kita makan dari hal-hal yang kurang jelas hukumnya.

Walaupun beliau hidup dalam kesederhanaan, tapi segalanya selalu tercukupi. Pernah beliau berkata “Aku iki ora sugeh tapi mobil yo ono. Tapi aku yo ora pernah neng tasawuf, terus ninggalno usaha. Aku iku wong seng modele tawakale sakwuse usaha. Tawakalku iku lek coro umah, iku yo dipasang lawang, dipasang kunci, terus yo dikunci. Ora kok lawang ora ditutup” (Aku tidak kaya, tapi mobil ada. Tapi aku juga tidak murni tasawuf, kemudian meninggalkan usaha. Aku itu model orang yang tawakalnya sesudah usaha. Tawakalku jika seperti rumah, itu ya dipasang pintu, dipasang kunci, kemudian dikunci. Bukannya pintu yang kemudian tidak ditutup). Itulah gambaran tawakal beliau.

Kiprah beliau di NU sangat lama. Mulai dari cabang, wilayah, hingga pusat. Ketika menjabat sebagai Rais Syuriah, sebenarnya bisa saja beliau merenovasi rumah. Namun karena kesederhanaannya, hal itu tidak dilakukan. Bisa saja beliau pindah dari sini, namun beliau tidak mau karena sayangnya terhadap masyarakat.

 Ulama’ yang Tegas dan Sederhana

Tegas Mendidik

Beliau orang yang sangat tegas. Jika menyangkut shalat berjamaah, beliau tidak bisa ditawar. Jika ada putra-putranya waktu kecil dulu telat satu raka’at saja, maka akan dipukul: satu rakaat sepuluh pukulan.

Ayah adalah sosok yang lengkap. Beliau mengetahui dengan cermat minat dan bakat seorang anak. Inilah sosok pengajar yang benar-benar menjiwai anak didiknya. Ini bagian wiridan, ini yang kesenangannya apa. Beliau benar-benar memberikan arahan.

Walaupun saya sudah berkeluarga, tapi sampai sekarang saya masih merasakan kasih sayang beliau. Mulai amaliyah, hingga bagaimana cara beliau mendidik. Sebelum menyuruh terjun dakwah, beliau pasti mengajari dulu bagaimana cara mengaji, tarawih, dan lain sebagainya. Dalam pelaksanaannya pun selalu ditunggui oleh beliau, apakah prakteknya sudah betul atau belum. Cara membimbing beliau sampai seperti itu.

Putra-putra beliau semuanya diperlakukan demikian. Kesembilan putranya terjun di masyarakat. Rata-rata semuanya dari pondok dan lulusan falkultas. Kasih sayangnya dengan keluarga dan adik-adik beliau sangat luar biasa. Sampai terkadang sepatu yang beliau pakai dibuat bergantian saat adiknya hendak pergi ke kampus.

 

Istiqomah Berjuang

Perjuangan beliau bukan hanya dengan ilmu, tapi dengan tenaga, pikiran, dan harta. Setelah maghrib, kecuali malam Jum’at, ia selalu membaca shalawat nariyah. Salah satu tanda keistiqomahan beliau yaitu mengajar masyarakat. Setiap Jum’at malam Sabtu sampai Rabu malam Kamis, beliau keliling berdakwah di daerah Peterongan. Padahal, jarak sini dengan Peterongan sekitar sembilan kilo. Hal itu beliau lakukan mulai dari dulu ketika masih menggunakan sepeda pancal, hingga terakhir beliau memakai mobil. Ketika sanyo masjid rusak dan tidak ada yang memperbaiki, beliau turun ke sumur sendiri untuk memperbaiki. Padahal, sumur itu dalamnya sekitar 15 meter.

Beliau adalah sosok yang istiqamah, apalagi ketika bulan puasa. Saat puasa, istirahatnya hanya setelah Ashar dan tidak sampai menjelang buka. Kemudian shalat Maghrib, tarawih, mengaji sampai jam sebelas atau setengah dua belas malam. Setelah itu beliau tidak langsung istirahat. Hingga Jam 3 malam, beliau sudah bangun untuk shalat Witir sampai menjelang sahur.

Saking semangatnya dengan ilmu, ketika sakit, beliau malah mengajar. Menurut pengakuan beliau, jika dibuat mengajar pasti sakitnya sembuh. Tapi, sehabis mengajar, sakitnya kambuh lagi. Kalau sudah mengajar, beliau lupa semuanya.

Ulama’ yang Tegas dan Sederhana

KH. Shihabuddin al-Hafidz saat memberikan keterangan kepada kru Majalah Langitan

Pejuang Tulen

Daerah sini dulunya memang daerah abangan. Sudah terkenal jika ada apa-apa yang hilang di daerah Malang, maka orang-orang mencarinya di Mergosono. Pertama kali yang beliau lakukan ketika datang ke sini adalah membangun mushalla kecil. Waktu itu, kalau ada orang yang adzan pasti didatangi kemudian dilempari. Namun, itu semua beliau jalani dengan sabar, hingga akhirnya berdirilah pesantren ini.

Dulu, santri yang belajar di sini masih ngontrak di masyarakat desa sekitar. Awalnya, hanya anak-anak yang belajar di IAIN Malang. Ceritanya, beliau dulu dipercaya sebagai dosen qiro’atu kutub. Mahasiswa IAIN tidak bisa lulus kalau belum bisa baca kitab. Walaupun skripsinya beres, tapi kalau tidak bisa baca kitab tetap tidak akan lulus. Betapa sulitnya mahasiswa dulu dalam mencari kelulusan. Akhirnya, beberapa mahasiswa ingin menimba ilmu kepada beliau guna melengkapi persyaratan kelulusan.

Keinginan para mahasiswa inilah yang menjadi cikal-bakal berdirinya pesantren. Santri di sini kebanyakan mengambil jurusan ilmu modern. Rata-rata mereka juga tidak jauh dari jejak gurunya, menjadi dosen.

Abah kalau mengajar pasti mendahulukan masyarakat. Santri-santri akan kebagian waktu akhir. Kadang jam 11 beliau baru datang, itu pun langsung mengaji sampai jam dua belas atau jam satu. Beliau sangat disiplin. Makanya, waktu isrirahatnya sedikit.

 

Sosok Lengkap

Beliau sosok kiai yang lengkap. Beliau pernah menjadi tukang reparasi jam, konveksi, dan lain sebagainya. Saking inginnya mencari rizki yang halal, beliau sampai mahir service. Pernah beliau sampai membeli mobil-mobil yang sudah jelek, kemudian diperbaiki.

Dulu pertama kali yang beliau pakai adalah mobil yang sudah jelek kemudian beliau perbaiki sendiri. Hingga pernah suatu ketika saat dipakai berangkat mengaji, ia dikejar polisi. “Wah ada polisi.” Kata beliau. Tidak disangka, polisi itu malah berkata: “Mobil sampean kok kayaknya enak begitu, boleh saya beli?.”

Dalam mendidik, beliau tidak sekadar memberikan teori tapi juga contoh. Beliau selalu berusaha membagi waktu dengan baik. Beliau on time, sehingga ketika berkendara, sopir jam segini harus sudah sampai. Di mana pun berada, shalat berjamaah menjadi pegangan beliau.

[Muhammad Ichsan/Ulin Nuha]

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Ulama’ yang Tegas dan Sederhana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *