Ujaran Kebencian: Tanda Kemiskinan Ilmu             

Sunday, April 1st 2018. | Tokoh, Uncategorized

   

Sosmed adalah salah satu produk yang tiada habis untuk dikupas. Perkembangannya, akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan adanya banyak ujaran kebencian di jagat maya. Untuk itulah pada edisi ini redaktur Majalah Langitan, Muhammad Hasyim melakukan wawancara kepada praktisi pendidikan yang aktif di sosial media, Prof. Gus Nadirsyah Hosen, Ph.D. Beliau adalah Rais Syuriah PCI NU Australia dan New Zealand sekaligus dosen senior di Monash University Australia.

 

***

 

Gus, kita melihat bahwa turbulensi medsos kian menunjukkan eksistensinya. Bagaimana komentar Anda?

Itulah medsos. Dia datang dengan kesamaran dan tidak secara utuh. Kita berkomunikasi tidak langsung, tapi hanya diwakili tulisan dan gambar. Itupun hanya beberapa inci.

 

Berarti ada penyempitan komunikasi?

Iya.

 

Terus akhir-akhir ini medsos menjadi ladang ujaran kebencian dan fitnah. Apa komentar Anda?

Kita sangat menyayangkan adanya.

 

Kenapa itu terjadi?

Seminimalnya ada tiga hal kenapa medsos menjadi ladang kebencian atau industri fitnah. Pertama, karena komunikasi kita dibatasi oleh layar. Layar itu kita lihat dan baca. Sehingga ketika kita marah dengan ujaran kebencian seolah-olah kita marah pada layar saja. Padahal kebencian itu dapat dilihat -dan menjalar- hingga bisa direspon orang sejagat;

Kedua, adakalanya ujaran kebencian karena doktrinasi dari gaya pemikiran yang keliru terhadap islam itu sendiri. Mereka salah menerjemahkan sikap marahnya Rasulullah. Mereka menganggap bahwa kemarahan itu kemarahan yang dibenarkan dalam agama; Ketiga, minimnya ilmu. Kedangkalan ilmu juga menjadi faktor ujaran kebencian. Orang yang miskin ilmu cenderung mudah tersulut emosinya. Orang sekarang bilang “sumbu pendek”. Dia tidak tahu bahwa dalam menyikapi masalah banyak pendapat ulama. Dia berpendapat bahwa apa yang dipahami adalah satu-satunya kebenaran, yang lain salah. Atau dalam taraf tertentu yang lainnya dianggap kafir.

 

Lalu bagaimana kita menghindari ketiga faktor itu agar tidak menjalar pada kita?

Ya sesuai dengan kondisinya. Jika masalah komuniksi layar, maka penting bagi kita untuk silaturrahim. Tabayun (klarifikasi) pada shahibul qaul (pembicara) apa benar mereka berpendapat demikian. Jika masalah doktrinasi maka kita perlu mengembalikan nalar sehat dalam beragama dan berkehidupan. Bukankah Allah menjadikan akal sebagai pembeda antara keburukan dan kebenaran?.

Lalu untuk minimnya ilmu, ya kita perlu belajar lagi. Bukankah belajar itu tugas manusia sampai mati? banyak ayat dan hadis yang menyitir pentingnya kita berilmu. Atau tanya sama ahlinya. Tanya sama ulama. Ulama yang memiliki sanad keilmuwan yang jelas, nyambung sama Rasulullah. Jangan menggunakan persepsi kita sendiri. Karena setiap sesuatu itu ada pakarnya. Mengambil sesuatu bukan dari pakarnya berarti kita mengambil dan menaruh bom waktu dalam kehidupan.

 

Lalu apa perlu usaha lain dalam menyikapi sosmed ini Gus?

Iya. Masih banyak.

 

Diantaranya?

Perlu ada usaha bersama dan massif tentang pemahaman medsos itu sendiri. Bahwa medsos itu sebatas alat. Dia bermata dua. Bisa untuk kebaikan dan keburukan. Tinggal bagaimana kita menggunakannya. Makanya perlu ada sosialisasi atau kalau perlu kurikulum yang masuk ke sekolah-sekolah bagaimana kita beretika atau beradab dalam sosmed.

 

Apa gerakan dari Kominfo tentang internet sehat dan aman belum cukup?

Belum. itu belum menyentuh pada grass root (akar rumput). Mungkin Kominfo bisa menggandeng Kemendikbud, Kemenag dan berbagai stakeholder (pihak terkait) lainnya. Intinya bahwa adab dalam bersosmed itu sangat penting. Karena kalau gagal kita akan menjadi bangsa yang tercerai-berai gara-gara medsos ini.

 

 

 

 

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Ujaran Kebencian: Tanda Kemiskinan Ilmu             

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *