Membangun TV Aswaja

Friday, January 3rd 2014. | Kabar

timthumb.php

Media dan perekonomian memegang peranan penting bagi kehidupan manusia. Dengan media, proses komunikasi antar manusia menjadi lebih mudah. Sementara dengan kekuatan ekonomi, manusia bisa menjadi kelompok yang tangguh. Dua hal tersebut mendasari Haiah As-Shafwah Al-Malikiyah untuk mengadakan pelatihan media dan perekonomian pesantren-pesantren yang berada di bawah jaringan alumni Abuya Sayid Muhammad Alawy Al-Maliki.

Pelatihan yang digelar bekerjasama dengan Islamic Indonesian Bussines Forum (IIBF) itu dilaksanakan di Gedung BKKBN Jakarta Timur, pertengahan September lalu. Hal lain yang melatarbelakangi kegiatan ini adalah karena kesadaran tentang pentingnya media belum menyentuh seluruh kalangan umat muslim.

Presiden IIBF, Hepi Trenggono, (Kanan) menjadi Salah satu narasumber pelatihan

Presiden IIBF, Hepi Trenggono, (Kanan) menjadi Salah satu narasumber pelatihan

Presiden IIBF, Hepi Trenggono, dalam kesempatan itu mengobarkan semangat kepada para peserta bahwa sudah saatnya media di Indonesia dikelola oleh umat yang memiliki integritas moral dan kejujuran. “Kami melihat sendiri bagaimana media-media kita dikendalikan oleh kepentingan perusahaan media. Mereka menomorsekiankan kebenaran dan kejujuran. Maka sudah saatnya bagi para santri yang memiliki integritas moral dan kejujuran untuk mengisi media”, tegasnya.

Hal serupa juga diungkapkan Indrajaya Sihombing, pakar manajemen harian Media Indonesia, yang sekaligus menjadi tutor dalam pelatihan. “Saya melihat isi dari media di Indonesia kurang bermutu dan tidak mendidik. Media-media kita hanya berorientasi pada profit dan pendapatan. Maka media kita menunggu sajian-sajian yang bermutu dan mendidik. Dan itu, bisa tercipta dari pribadi-pribadi yang memiliki kemauan tinggi serta integritas moral,” ujarnya.

 

Kekuatan Media Komunitas

Media memiliki kekuatan yang terus bertambah. Ini dipengaruhi oleh semakin mudahnya orang mengaksesnya. Data Serikat Perusahaan Pers (SPS) menyebutkan bahwa pada tahun 2011, media cetak Indonesia memiliki pangsa pasar sekitar 25 juta eksemplar. Sedangkan jumlah perusahaan media sebanyak 1.000 nama. Jumlah ini merupakan ledakan sekitar 400% dalam satu dekade. Berdasarkan data SPS, jumlah media di Indonesia pada tahun 2000 sebanyak 290 media. Media cetak yang memiliki tiras paling banyak adalah surat kabar harian, disusul berturut-turut majalah, tabloid, dan surat kabar mingguan.

Peserta pelatihan media berpose penuh keakraban

Peserta pelatihan media berpose penuh keakraban

Selain media cetak, kenaikan pasar yang cukup kuat terjadi pada media lain. Akhir tahun 2011, sedikitnya terdapat 40 juta rumah tangga yang memiliki televisi. Penetrasi lain juga karena munculnya media-media online dan media sosial yang semakin mewabah.

Di Indonesia ada 80 juta pengguna internet yang menjadi pangsa pasar bagi pengiklan. Belum lagi jenis media baru seperti blog dan vlogging (video blogging) yang jumlahnya mencapai 5,27 juta pada akhir tahun 2011.

Dari sekian banyak media itu menjadikan persaingan sangat ketat sekali. Setiap hari banyak media lahir. Di hari itu pula banyak media berjatuhan gulung tikar. Para pelaku media harus benar-benar bisa membaca setrategi pasar dan kebutuhan masyarakat jika tidak ingin nasib mereka berada di ujung tanduk.

Jika melihat pada titik yang lebih aman, sebenarnya media komunitas memiliki ketahanan yang lebih dari media lainnya. Ini dikarenakan media komunitas besar atas kesadaran dan rasa memiliki banyak anggota. Mereka membesarkan media bukan hanya demi pendapatan tapi juga ide yang diperjuangkan. Hal tersebut secara otomatis menjadi kekuatan tersendiri. Karena mungkin saja dalam hal pengelolaan media komunitas tidak menghasilkan profit namun pemikiran dan idealisme mereka bisa tersampaikan.

 

Membangun TV Aswaja

Dewasa ini, media yang kini diminati masyarakat adalah televisi. Karena media ini menggabungkan dua komponen yaitu audio dan visual. Secara otomatis dengan televisi seseorang bisa menikmati dua komponen tersebut. Atas dasar itulah dalam pelatihan selama tiga hari tersebut, telah dihitung modal minimal mendirikan televisi lokal dengan daya pancar satu kabupaten.

Perhitungan tersebut dengan menggunakan metode efisien dan terjangkau. Hepi Trenggono yang juga mantan direktur salah satu stasiun televisi terkemuka membuat kalkulasi kebutuhan mendirikan televisi swasta kurang dari satu miliar rupiah. “Dulu saya membutuhkan dana 800 milyar untuk membangun televisi swasta. Kini dengan metode efisien dan terjangkau cuma membutuhkan dana Rp800 juta”, ucapnya.

Dari hitungan itu, pengurus As-Shafwah akan segera menyampaikan kepada Aminul Amm, KH. Ihya Ulumiddin. Saat ini, Haiah As-Shafwah memang tengah mengkaji dan menyiapkan televisi Aswaja guna menyiarkan pemikiran-pemikiran ala Ahlussunnah wal Jamaah kepada masyarakat luas.

Media tersebut nantinya sekaligus berfungsi sebagai alat pelindung masyarakat di tengah gencarnya media-media yang mengatasnamakan Islam namun dengan content (muatan/tayangan) yang provokatif. Tentu jutaan umat menunggu media TV Aswaja ini. Media yang santun dan menyejukkan.

 

[Muhammad Hasyim]

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Membangun TV Aswaja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *