TIGA PERINTAH ALLAH SWT KEPADA RASULULLAH SAW

Wednesday, March 21st 2018. | Kajian, Qur'an

(Kajian Tafsir Surat An-Naml ayat 91-92)

 

إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ  وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ

Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu. Dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Dan supaya aku membaca AlQuran. (QS. An-Naml: 91-92)

Sewaktu membaca ayat di atas, apa yang menarik perhatian pembaca (termasuk saya) adalah dimulainya ayat tersebut dengan `adat al-hashr (إنما) yang biasa diartikan “hanya” (anging pestine). Sudah dari sananya, aku (Muhammad Saw) hanya diperintahkan menjalankan tiga perkara seperti di dalam ayat tersebut. Mafhumnya, beliau seakan-akan tidak diperintahkan kecuali hanya melakukan tiga perintah tersebut. Padahal beliau adalah makhluk ciptaan Allah Swt yang paling baik di dunia dan di akhirat. Dengan demikian, seakan menjadi manusia yang baik seperti  Rasulullah Saw cukup hanya dengan menjalankan tiga perintah tersebut.

Tiga perintah tersebut adalah: pertama, menyembah Allah Swt yang menjadi pemilik atas segala-galanya. Kedua, menjadi pribadi yang benar-benar muslim yang menyerahkan hidup dan matinya kepada Allah Swt. Ketiga, membaca Alquran. Ibnu Asyur di dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat di atas merupakan bantahan terhadap para kaum kafir yang meminta dan menuntut ini dan itu kepada Rasulallah Saw. Melalui ayat tersebut, Allah Swt mengajarkan kepada Rasulallah Saw tentang jawaban kepada mereka.

Tulisan ini akan lebih difokuskan mengenai perintah yang ketiga, yaitu perintah membaca Alquran. Perintah itu sengaja dipisah dari dua perintah sebelumnya oleh penutup ayat sebagaimana dalam tulisan mushaf yang tersebar di tangan kita. Perintah membaca Alquran itu berada di ayat ke-92.

Berkaitan dengan perintah ini, Rasulallah Saw yang cerdas pernah menjelaskan dalam sebuah hadisnya:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa membaca satu huruf dari Alquran maka dia akan mendapat satu kebaikan dan satu kebaikan itu sebanding dengan sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan bahwa (الم) “alif lam mim” adalah satu huruf, namunalif” satu huruf, “lam” satu huruf, dan “mim” satu huruf. (HR. Imam At-Tirmidzi)

Dalam hadis yang seakan mengisyaratkan bahwa Rasulallah Saw mengerti tentang tulis-menulis ini, kita dapat mengetahui betapa besar fadhilah membaca Alquran. Untuk mendapatkan fadhilah tersebut tentu sangat baik jika memperhatikan etika dan sopan santun dalam membaca Alquran.

Imam Al-Ghazali menyebutkan sejumlah etika membaca Alquran. Antara lain: Pertama, membaca dengan penuh hikmat dan dalam keadaan bersih dan suci. Kedua, menjadikan Alquran sebagai bacaan rutin. Ketiga, membacanya dengan tartil dan tajwid. Keempat, memperhatikan tempat ayat-ayat sajdah. Kelima, membacanya dengan suara yang volume sedang.

Berkaitan dengan kekhusyukan sewaktu membaca Alquran, Imam Al-Ghazali membuat tiga tingkatan orang yang membaca Alquran: Pertama dan yang paling rendah, yaitu dengan menyadari bahwa dirinya seakan-akan sedang membaca Alquran itu di hadapan Allah Swt, sehingga dia akan khusyuk, tidak tergesa-gesa, dan berusaha semaksimal mungkin untuk membacanya secara benar. Kedua, memiliki kesadaran bahwa Allah Swt seakan-akan sedang berkata-kata pada dirinya, karena Alquran adalah perkataan Allah, sehingga ia akan berusaha untuk memahami perkalimat dari kata-kata-Nya, kemudian mengingat-ingatnya, dan terakhir melaksanakannya. Ketiga tingkatan yang paling tinggi, yaitu dengan merasakan bahwa dirinya sedang larut dalam dialog (percakapan) bersama Allah Swt, sehingga saat membacanya yang diingat hanyalah Allah Swt dan kebesarannya.

Termasuk akhlak kita bersama Alquran adalah membacanya secara istikamah. Jangan sampai menjadi orang yang meng-hajer Alquran, mengacuhkan Alquran. Mereka adalah orang-orang yang menggigit jarinya saat dihadapkan kepada Allah Swt karena penyesalannya yang begitu mendalam. Allah Swt berfirman:

 

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (27) يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (29) وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآَنَ مَهْجُورًا

 

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aah.. seandainya saja aku dulu mengambil jalan bersama Rasul.” Sekarang ini kecelakaan besar bagiku; seandainya saja aku (dulu) tidak menjadikan si fulan (yang kafir itu) itu sebagai teman akrabku. Sesungguhnya temanku itu telah menyesatkan (menjauhkan) aku dari Alquran ketika datang kepadaku. Dan syaitan itu tidak akan mau menjadi penolong bagi manusia. Kemudia Rasul itu pun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Alquran itu sebagai bacaan yang tidak diacuhkan. (Al-Furqan: 27-30)

Sebagian ulama mengatakan, termasuk orang yang mengacuhkan Alquran, adalah orang yang yang tidak membacanya selama tiga hari secara bertutur-turut walaupun hanya beberapa halaman saja.

Alquran sesungguhnya tidak hanya tulisan-tulisan yang diukir indah di dinding dan dijadikan kaligrafi penghias rumah-rumah atau ruangan-ruangan saja. Mushaf Alquran disusun dan dicetak lalu diperbanyak juga bukan untuk dijadikan mas kawin atau mahar dalam acara proses pernikahan saja. Alquran juga bukan hanya menjadi media penguat yang diangkat saat ikrar janji para pejabat. Alquran harus dibaca, kemudian Alquran harus dipahami dan dimengerti, sehingga akhirnya Alquran dapat diterapkan dan dilaksanakan. Wallahu a`lam

Comments

comments

tags: , , , , , , , , ,

Related For TIGA PERINTAH ALLAH SWT KEPADA RASULULLAH SAW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *