Tiga Mata Rantai Ganas Peradaban Manusia – Bagian dua

Thursday, May 3rd 2018. | Uncategorized

 

 

Rubrik Tsaqafah kali ini Majalah Langitan mengambil tema, “Problem Mendasar Umat Islam Masa Kini”. Tulisan ini merupakan hasil wawancara redaktur Majalah Langitan, Muhammad Hasyim dengan Prof. Dr. Khalif Muammar A. Harris, Direktur di Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilisation (CASIS) Universiti Teknologi Malaysia Kuala Lumpur. Tulisan ini merupakan kelanjutan dari edisi sebelumnya.

 

Akhir-akhir ini banyak  masalah merundung umat Islam. Bagaimana Prof. Muammar melihat hal tersebut?

Carut marutnya kondisi umat Islam saat ini, jika ditelisik secara mendalam maka akan kita temukan mata rantai keganasan (the malignant circle), yaitu: kekeliruan dalam memahami ilmu, hilangnya adab dan munculnya pemimpin yang tidak amanah. Ketiga hal di atas berputar, berotasi dan saling mempengaruhi untuk merusak tatanan kehidupan manusia.

 

Bisa dijelaskan lebih mendalam?

Pemikir terkemuka zaman ini, Sayyid Naquib al-Attas menjelaskan, ketiga hal tersebut adalah; Pertama, kekeliruan memahami ilmu agama, dan hubunganya dengan ilmu-ilmu yang berurusan dengan dunia. Jadi Ilmu itu ada yang fardlu ain (ilmu agama) dan fardlu kifayah (ilmu duniawi), hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin. Sebagian umat Islam menilai persoalan hanya melihat dari ilmu fardlu kifayah dan sebagian yang lain hanya menentukan pada ilmu fardlu ain, demikian itu akan terjadi dikotomi (pemisahan) antara keduanya.

Sehingga yang menguasai ilmu fardlu ain tidak bisa mengurus dunia, dan yang menguasai ilmu dunia tidak bisa memahami ilmu agama. Nah, akhirnya pemimpin yang muncul tidak memiliki bekal keilmuan yang cukup. Ujungnya maslahat umat Islam baik dunia maupun di akhirat terabaikan, tidak diperhatikan dengan baik.

Jadi ada masalah kerusakan memahami ilmu dan disinilah peranan pesantren serta ulama untuk mensinergikan keduanya. Untuk memastikan bahwa ilmu fardlu ain bisa menjadi asas atau dasar untuk ilmu fardlu kifayah yang menguasai ilmu bidang sains, teknologi, perobatan, kedokteran dan lain sebagainya.

Ilmu fardlu ain bisa menjadi kerangka berfikir, menjadi pandangan alam agar masyarakat dalam bidang pekerjaan, ekonomi, politik, pendidikan, memahami bagaimana agama itu bisa membentuk cara berfikir mereka, supaya urusan agama tidak terabaikan dan dunia juga tidak terabaikan karena keduanya juga penting. Selama masih ada pemisahan ini maka agama Islam tidak akan bisa maju dan tidak bisa betul-betul sejahtera di dunia dan akhirat.

 

Lalu?

Masalah kedua adalah hilangnya adab (the loss of adab). Baik adab kepada Allah, nabi, ulama (warasatul anbiya) dan adab kepada ilmu itu sendiri. Bagaimana menuntut ilmu dengan baik dan benar serta dengan adab-adabnya.  Sehingga ilmu itu menjadi barakah. Tingkatan ilmu sendiri ada yang lebih utama, utama dan kurang utama. Itu semua harus ditempatkan pada tempatnya. Demikian juga ulama kita terdahulu, karena semua ulama bukan sama satu level.  Ada ulama yang diberikan keutamaan, dihormati, diagungkan ada juga ulama yang tidak seharusnya diagungkan dan dibesar-besarkan. Keberadaan yang yang kecil jangan dibesarkan dan yang besar jangan dikecilkan, berlaku adil pada keduanya.

 

Adakah contoh adab antar ulama?

Banyak sekali. Tersebar di berbagai literatur. Bagaimana ulama kita dulu menghargai satu sama lain. Imam Ahmad bin Hambal mengagungkan Imam Syafii, Imam Ghazali juga mengagungkan Imam Syafii, karena mereka tahu dan berusaha untuk meletakan Imam Syafii pada tempatnya. Kemudian Imam Syafii terhadap Imam Malik, Imam Syafii terhadap Abu Yusuf, artinya mereka tidak saling mendiskriminasi satu sama lain, serta menjunjung keutamaan ulama lain tanpa mengagungkan diri sendiri. Jika tidak demikian maka akan terjadi loss of adab dan mudah menyepelekan orang lain.

Rasulullah sudah banyak memperingatkan bahwa di akhir zaman ini akan banyak khutaba dan sedikit ulama. Itu tandanya bahwa ulama dianggap biasa dan khutaba dianggap se level dengan ulama. Padahal keduanya memiliki peringkat dan tempat yang berbeda. Justru pada zaman nabi dan zaman sahabat banyak ulamanya dan sedikit khutaba-nya, ulama itu yang dicari dan dibesarkan. Kita tidak menafikan kepentingan khutaba itu, akan tetapi rujukan sesungguhnya adalah para ulama yang benar-benar tahu kedudukan perkara dan mampu memberikan solusi yang sebenarnya.

Ketika muncul persoalan besar di luar jangkauan para khutaba, ia tidak bisa memahami akar masalahnya, namun tetap berusaha menjawab dan jawaban itu keliru serta menimbulkan kesalahpahaman pada masyarakat, natijahnya semakin banyak kekeliruan, yang akan berakibat pada kesalahpahaman memahami ilmu, kehilangan adab dan keruntuhan adab.

 

Kemudian dimanakah hubungan dengan masalah ketiga?

Maka timbullah masalah ketiga yang banyak kita lihat saat ini, yaitu munculnya pemimpin palsu yang sebenarnya tidak memiliki keilmuan yang cukup, tidak mempunyai akhlak, moralitas dan etika. Mereka diangkat menjadi pemimpin karena masyarakat yang keliru. Akhirnya banyak madharat yang tercipta, muncullah kerusakan yang banyak berlaku diberbagai sistem, termasuk pendidikan. Pendidikan yang seharusnya melahirkan ilmuwan dan pemimpin yang berwibawa, dan berotoritas. Mereka seharusnya mampu untuk membimbing dan membawa masyarakat kepada kejayaan di dunia dan akhirat, namun gagal tercipta.

Dari pemimpin palsu ini akan membuat kebijakan yang salah dalam mengatur dan mengelola ilmu atau kembali kepada masalah pertama. Mereka menganggap bahwa pendidikan hanya sebagai transfer of knowledge (perpidahan ilmu) saja. Tidak ada akhlak, perasaan, hati, ataupun dzauq.

 

Ada solusinya Prof?

Dari berbagai masalah yang melanda umat saat ini, penting kiranya kita kembali pada persoalan mendasar di atas. Bahwa etika ini diberi perhatian yang lebih. Meski dengan tetap melihat pada persoalan-persoalan yang lebih mendasar lagi.

 

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Tiga Mata Rantai Ganas Peradaban Manusia – Bagian dua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *