TIGA CIRI SHALATNYA ORANG MUNAFIK: TADABBUR QS. AN-NISA: 142

Friday, April 20th 2018. | Qur'an

 

Dalam wacana keislaman yang legalistik, kita sering mendengar dua kelompok manusia: kelompok muslim dan kelompok kafir/non-muslim. Mereka yang bersyahadat adalah kelompok muslim dan mereka yang menutup diri serta akal pikirannya sehingga tidak mau mengakui kerasulan Muhammad Saw sehingga tidak bersyahadat adalah kelompok kafir. Sementara dalam wacana keislaman yang moralistis kita sering mendengar tiga kelompok manusia: kelompok mukmin, kelompok munafik, dan kelompok kafir. Pada bagian awal-awal Surat Al-Baqarah, Alquran banyak membicarakan sikap tiga kelompok ini terhadap hidayah dan petunjuk Alquran yang dibawa oleh Rasulullah Saw.

Salah satu yang membedakan kelompok-kelompok di atas adalah masalah shalat. Rasulullah Saw pernah menyatakan dalam hadisnya:

العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر

Janji di antara kita dan mereka adalah shalat, barangsiapa yang meninggalkannya maka dia telah kufur. (HR. Imam Hakim)

Begitu pentingnya shalat, ia diibaratkan sebagai tiang agama. Sabda Rasulullah Saw

الصَّلاةُ عِمادُ الدِّينِ

Shalat adalah tiang agama. (HR. Imam Baihaqi)

Rasullah juga bersabda:

أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة الصلاة فإن صلحت صلح له سائر عمله وإن فسدت فسد سائر عمله

Hal pertama yang akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat, jika ia baik maka seluruh amal perbuatannya yang lain juga baik, namun apabila shalatnya rusak maka seluruh amalnya pun akan rusak. (HR. Imam Hakim)

 

Shalat adalah media untuk menyambungkan diri kita kepada Allah Swt. Shalat adalah waktu dimana seorang mukmin berjumpa dengan Tuhannya. Shalat merupakan media berlatih bagi seorang hamba untuk kembali pulang, menjumpai Tuhannya, Allah Swt. Itulah mengapa Rasulullah Saw selalu mengatakan kepada juru adzannya, sahabat Bilal: أرحنا يا بلال (istirahatkanlah kita, wahai Bilal). Artinya kumandangkanlah adzan sehingga kita dapat beristirahat dan bercengkrama dengan Allah Swt.

Orang-orang yang tidak terbiasa menjalankan shalat sebagai media menjumpai Allah Swt, pasti akan terkaget-kaget saat dipanggil menghadap kepada Allah Swt, saat kematiannya. Bagaimana tidak, Allah Swt adalah raja dari semua raja (malikul muluk), pemilik dari seluruh semesta dan jagat raya. Jika seseorang tidak membiasakan memperkenalkan dirinya kepada Allah Swt sekaligus membiasakan dirinya berjumpa dengan Allah Swt melalui shalat, pastilah saat meninggal dunia akan ketakutan. Sedangkan mereka yang berhasil menjadikan shalat sebagai media menjumpai Allah Swt setiap hari minimal 5 kali, mereka akan dipanggil Allah Swt dalam penuh keridloan. Jiwa mereka akan dipaggil oleh Allah Swt seperti dalam fimannya:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai (QS. Al-Fajr: 27-28)

 

Besar kemungkinan semua pembaca tulisan ini adalah orang-orang muslim secara legalistik, namun mari sejenak kita berkaca kepada salah satu firman Allah Swt berikut ini. Ayat di mana Allah Swt menjelaskan 3 ciri-ciri shalatnya orang munafik. Barangkali dalam shalat kita masih ada salah satu ciri atau bahkan semua ciri-ciri tersebut Allah Swt berfirman:

 

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللّهَ إِلاَّ قَلِيلاً

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat (dzikir) Allah kecuali sedikit sekali (An-Nisa: 142)

Dalam ayat ini, Allah Swt menjelaskan 3 ciri-ciri shalatnya orang munafik: pertama, shalat dalam keadaan kaslanan (malas). Kedua, melakukannya dengan riya`, ketiga, tidak mengingat Allah Swt kecuali hanya sedikit sekali.

Dalam ayat di atas, Allah Swt menegaskan bahwa orang munafik memang menjalankan shalat, namun karena shalat itu bukan muncul dari kemauan dari dalam diri dan jiwanya, mereka pun menjalankan dengan malas. Muhammad Mutawalli Al-Sya`rawi mengibaratkan shalat sebagai momen dimana seseorang berjumpa dengan kekasihnya. Bagai pemuda dan pemudi yang dilanda kasmaran, saat akan berjumpa, mereka tak sabar menunggu waktunya dan bergegas penuh semangat. Demikianlah seharusnya seorang mukmin yang hendak menjumpai Allah Swt melalui media ibadah shalat.

Ciri-ciri kedua dalam ayat di atas adalah “yura`uuna al-naas”. Artinya, mereka melaksanakan shalat hanya dengan dirinya saja, bukan dengan segenap pikiran dan jiwanya. Orang menafik tidak memandang Allah Swt di dalam shalatnya. Tujuan dan perhatiannya adalah manusia dan kepentingan duniawi. Meraka tidak merasa diawasi dan diperhatikan oleh Allah Swt. Mereka jauh dari apa yang disabdakan Rasulullah Saw:

أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك

Menyembah kepada Allah Swt seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan apabila tidak dapat melihatnya maka sesungguhnya Dia melihatmu (HR. Bukhari)

Memang benar, badan orang-orang munafik itu berdiri dalam shalat di barisan-barisan masjid atau mushalla, namun jiwanya dan hatinya ternyata berkeliaran kemana-mana. Benar sekali wajahnya bersungkur sujud di atas sajadah, namun jiwanya, hatinya tetap merasa takabbur, sombong, dan lebih tinggi. Memang benar di akhir shalat, mulutnya mengucapkan assalamualaikum (keselamatan untuk kalian) namun sikapnya masih suka menebar tindakan-tindakan teror. Mereka kelak di hari kiamat akan menyesal. Amal mereka tidak beda dengan yang difirmankan Allah Swt:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآَنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Dan amal-amal orang-orang kafir adalah seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya (QS. An-Nur: 39)

Sebaliknya, orang-orang mukmin adalah mereka yang mampu melakukan shalatnya dengan diri dan jiwanya, dengan jasad dan hatinya. Saat berdiri, maka merasa sedang menghadap khusyuk kepada Allah Swt. Saat bersujud, juga merendahkan diri, hati, dan jiwanya kepada Allah Swt dan begitu seterusnya.

Ciri-ciri shalat orang munafik yang ketiga adalah shalatnya dilakukan hanya sebatas kamuflase. Mereka tidak menyebut Allah, tidak mengingat Allah Swt dalam shalatnya kecuali hanya sedikit sekali. Barangkali ciri-ciri yang ketiga inilah yang paling berat untuk kita lepaskan dari model shalat-shalat kita. Jauh-jauh hari Rasulullah Saw telah menyatakan dalam sabdanya:

إن العبد ليصلي الصلاة لا يكتب له نصفها ولا ثلثها ولا ربعها ولا خمسها ولا سدسها ولا عشرها وكان يقول إنما يكتب للعبد من صلاته ما عقل منها

Sesungguhnya seorang hamba itu melakukan shalat namun tidak dicatat kecuali hanya setengahnya, hanya sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya, seperenamnya atau hanya sepersepuluhnya. Dan beliau (Rasulullah Saw) bersabda: sesungguhnya hanya ditulis dari shalat sorang hamba waktu dimana dia mengerti (ingat) shalatnya. (HR. Abu Dawud dan Baihaqi)

Barangkali karena itulah Imam Hasan Al-Bashri pernah mengatakan: “Setiap shalat yang di dalamnya tidak dapat menghadirkan hati, maka ia lebih cepat mendatangkan siksa dari pada pahala.”. Semoga shalat kita bersama-sama dapat terhindar dari 3 ciri shalatnya orang-orang munafik tersebut.

Comments

comments

tags: , , , , , , , , ,

Related For TIGA CIRI SHALATNYA ORANG MUNAFIK: TADABBUR QS. AN-NISA: 142

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *