The Smiling Habib; Mengenal Lebih Dekat Pemilik Keindahan Senyum, Habib Anis bin Alwi al-Habsyi

Wednesday, September 23rd 2015. | Jejak Utama

habibanis1

Habib Anis bin Alwi al-Habsyi adalah ulama’ kharismatik Indonesia dari Solo. Seseorang yang berdarah Hadramaut dan termasuk ahlu bait Rasulullah Saw., namun memiliki karakteristik layaknya dari keluarga orang Jawa jika berbicara dengan orang jawa, bernada tinggi layaknya orang sunda ketika bercakap dengan orang sunda, mahir berbahasa Indonesia jika berhadapan dengan selain orang Jawa dan Sunda, dan jika sedang bersama dengan sesama Habaib, beliau menggunakan bahasa Arab Hadrami.

Senyum lembutnya adalah ciri khas beliau yang mampu membuat hati orang lain luluh dan simpati. Ketika membaca maulid Simtu ad-Durar, serasa Rasulullah Saw. hadir dalam majlis tersebut. Suara beliau yang lembut dan mendayu-dayu, akan menyentuh setiap hati yang merindukan Rasulullah Saw. Hingga tak jarang hati itu terkesiap, dan menitikkan air mata.

 

Kelahiran Jawa Barat

Garut, Jawa Barat, 5 Mei 1928 M. Lahir bayi mungil dari pasangan Habib Alwi al-Habsyi dan Syarifah Khadijah, yang setelah besarnya terkenal dengan nama Habib Anis bin Alwi al-Habsyi. Ayah beliau adalah putra dari Habib Ali al-Habsyi, muallif (pengarang) maulid Simtu ad-Durar atau yang lebih dikenal dengan sebutan Maulid al-Habsyi. Kakek beliau, Habib Ali, sendiri adalah warga Hadramaut, Yaman, yang hijrah ke Indonesia dengan tujuan dakwah.

 

Masa Kecil dan Pendidikan Beliau

Ketika beliau berumur 9 tahun, bersama keluarga beliau pindah ke Solo, dan menetap di kampung Gurawan, Pasar Kliwon, Solo. Sejak kecil sebenarnya beliau telah dididik oleh sang ayah yang sekaligus menjadi gurunya. Selain itu beliau juga bersekolah di Madrasah Ar-Ribathah Alawiyah yang terletak disamping sekolahan beliau.

Rabithah Alawiyah sendiri adalah sebuah madrasah yang didirikan oleh ulama’-ulama’ sepuh termasuk ayah beliau. Sekarang, nama madrasah itu beralih menjadi Sekolah Diponegoro. Selain sang ayah, sosok yang juga menggembleng kepribadian Habib Anis disana adalah Habib Ahmad bin Abdullah al-Athas. Dengan pendidikan langsung dari sang ayah dan Habib Ahmad bin Abdullah al-Athas, ditambah dengan pendidikannya di Madrasah, Anis kecil tumbuh sebagai pemuda yang alim dan berakhlak luhur.

 

Menikah dan Mengganti Peran Abah

Setelah dirasa cukup matang, dalam umur 22 tahun, beliau menikah dengan Syarifah Syifa, putri dari Habib Thaha Assagaf. Dari pernikahan tersebut, Habib Anis dikaruniai 6 putra yaitu Habib Ali, Habib Husein, Habib Ahmad, Habib Alwi, Habib Hasan, dan Habib Abdillah. Semua putera beliau tinggal di sekitar Gurawan.

Pada tahun 1953, ayah Habib Anis pegi ke Palembang guna menghadiri pernikahan kerabatnya. Namun, disana sang ayah tiba-tiba saja menderita sakit. Seperti mengetahui kalau waktunya tidak lama lagi, Habib Alwi al-Habsyi memanggil putra beliau, Habib Anis, yang pada waktu itu masih berada di Solo. Setelah keduanya bertemu, Habib Alwi menyerahkan jubahnya dan berwasiat agar supaya Habib Anis, selaku putra tertua untuk meneruskan kepemimpinannya di Masjid dan Zawiyah Riyadh.

Habib Anislah yang kemudian mengganti peran sang ayah. Mulai rutin dengan kegiatan pembacaan Maulid Simtu ad-Durar disetiap malam jum’at, mengadakan haul Habib Ali al-Habsyi disetiap bulan Maulud, mengadakan khataman kitab Bukhari pada bulan Sya’ban, khataman kitab ar-Ramadlan di bulan Ramadlan, dan rutin disetiap siang harinya untuk mengajar di Zawiyah Masjid Riyadh. Kegiatan belajar ini lebih terkenal dengan sebutan rohah.

Pemilik senyuman indah ini oleh adiknya, Habib Ali, dijuluki dengan “anak muda yang berpakaian tua” karena keistiqomahan dan kesabaran beliau dalam berdakwah dalam umur yang relatif muda. Juga karena mengemban beban seperti orang tua di umur beliau yang masih muda.

 

Sikap Beliau Dengan Masyarakat

Habib Anis adalah seorang ulama yang sangat perhatian terhadap orang-orang yang berada disekitarnya baik itu tentang masalah pendidikan, ekonomi, akhlak, akidah, dan hubungan masyarakat dengan para salaf. Beliau sangat memperhatikan dan sering menanyakan.

Bahkan, ketika beliau masih sehat dan kuat, sering beliau pergi kedesa-desa untuk memberi bantuan kepada masyarakat desa, seperti kambing dibeberapa tempat untuk dipelihara, dan hasilnya untuk mereka. Hal itu dilakuakan agar bisa berhubungan dengan masyarakat. Dan ketika masyarakat merasa diuntungkan, pada waktu itulah beliau menyisipkan dakwah dan mengisi mereka dengan berbagai macam ilmu yang berkaitan dengan salaf.

Waktu muda, beliau bekerja sebagai pedagang batik dan telah memiliki kios yang ditunggui oleh adik beliau. Namun, karena jama’ah di Masjid Riyadh semakin banyak dan butuh konsentrasi penuh, kios itu beliau tutup dan memilih untuk lebih tekun dalam mengajar.

 

Benteng Ahlusunnah

Beliau adalah orang yang sangat kuat didalam mempertahankan ajaran salaf aqidah ahlu sunnah wal jama’ah. Sangat kuat, istiqamah, dan perhatian dalam mengamalkan thoriqoh yang diajarkan oleh ayah dan kakek beliau, hingga Rasulullah Saw.

Adat-istiadat yang dilakukan oleh ulama’ salaf sangat diperhatikan oleh beliau. Dan sangat sering sekali beliau menceritakan hal-hal seperti itu dimajelisnya yang penuh dengan cerita-cerita orang-orang salaf dan perikehidupannya. Sehingga orang-orang yang berada dimajelisnya selalu mendapatkan pencerahan-pencerahan tentang kehidupan orang salaf.

 

Pribadi Yang Istiqamah

Beliau adalah orang yang sangat istiqomah. Amalnya sangat banyak dan dilakukan oleh beliau secara terus-menerus. Contohnya dengan beliau menjadi imam 5 waktu di Masjid Riyadh dan hadir memimpin rohah dengan membaca kitab-kitab salaf di Zawiyah Masjid Riyadh disetiap harinya. Jika hari Senin biasanya beliau akan mengajar kitab Tafsir, hari Selasa dengan kitab Fiqh, kalau Rabu adalah Sirrah Nabawiyyah dan kalau hari kamis adalah kitab Ihyaa’ Ulumuddin dalam fan Tasawwuf.

 

Mangkatnya Pemilik Senyum nan Indah

Senin, 14 Syawal 1427 H./06 Nopember 2006, langit begitu mendung mengiringi kepergian Habib Anis. Selang 2 bualn pasca-lebaran semua orang terpaku dengan kepergian sosok peneduh jiwa. Habib Anis wafat di RS. Dokter Oen dalam usia 78 tahun sebab penyakit jantung yang dideritanya. Seolah hembusan angin, kabar pun begitu cepat menyebar, membuat para murid dan pecinta beliau bergegas untuk memberi penghormatan terakhir kepada cucu Rasulullah Saw. tersebut, dengan iringan tangis, dan air mata kerinduan.

[Muhammad Hasyim & Muhammad Ichsan]

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For The Smiling Habib; Mengenal Lebih Dekat Pemilik Keindahan Senyum, Habib Anis bin Alwi al-Habsyi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *