Ta’zir

Thursday, January 19th 2017. | Pojok Pesantren

 

Suatu ketika, KH Ahmad Umar Abdul Manan (1916-1980), pengasuh Pondok Pesantren Al Muayyad, Solo, mengutus lurah pondok menuliskan nama-nama santri yang nakal.

“Aku minta dicatatkan nama-nama santri yang nakal. Dirangking ya. Paling atas ditulis nama santri ternakal, nakal sekali, nakal dan terakhir agak nakal,” demikian perintah Kyai Umar.

Lurah pondok girang bukan main. Sudah beragam cara diupayakan untuk mengingatkan santri-santri nakal itu. Tapi hasilnya nihil.

Dengan penuh semangat, lurah pondok menuliskan nama-nama santri yang masuk kategori nakal dengan spidol. Saking semangatnya, ditulis besar-besar dengan huruf capital. Ternakal fulan bin fulan asal dari daerah A. Nakal sekali fulan bin fulan dari daerah B sampai santri yang agak nakal.

Setelah catatan selesai dibuat, kemudian diserahkan kepada Kyai Umar. Lurah pondok itu menanti seminggu, dua minggu, tapi tidak ada tindakan apa-apa. Pikirnya dalam hati, “Kok santri-santri yang nakal masih tetap nakal ya. Kok tidak diusir atau dipanggil Kiai.”

Akhirnya lurah pondok itu memberanikan diri matur kepada Kyai Umar. “Maaf Kiai, santri-santri kok belum ada yang dihukum, dita’zir atau diusir?”

“Lho, santri yang mana?” kata Kyai Umar balik bertanya.

“Santri yang nakal-nakal. Kemarin panjenengan minta daftarnya.”

“Siapa yang mau mengusir? Karena mereka nakal itu dipondokkan, biar tidak nakal. Kalau disini nakal terus diusir, ya tetap nakal terus. Dimasukkan ke pesantren itu biar tidak nakal,” tegas Kyai Umar

“Kok panjenengan memerintahkan mencatat santri-santri yang nakal itu?”

“Begini, kamu kan tahu tiap malam aku setelah sholat tahajud kan mendoakan santri-santri. Catatan itu aku bawa, kalau aku berdoa mereka itu saya khususkan. Tanya dululah kalau belum paham,” urai Kyai Umar.

Cerita tersebut diungkapkan Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Tholibin, Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri, dalam acara haul pesantren Al Muayyad. Gus Mus, demikian beliau biasa disapa, juga pernah menyampaikan cerita serupa saat diundang pengajian di sebuah pesantren di Jawa Tengah.

Saat cerita itu dituturkan Gus Mus, puluhan ribu hadirin tertawa. Tapi ada satu orang yang diam seribu bahasa. Orang itu adalah kiai muda yang memiliki ribuan santri. Gus Mus mengira, kiai muda itu tidak paham dengan ceritanya.

Saat turun dari podium, Gus Mus tiba-tiba dirangkul oleh kiai muda itu sambil berbisik,

“Masya Allah, alhamdulillah Gus, panjenengan tidak menyebut nama. Sayalah daftar ternakalnya Kyai Umar.”

Seketika Gus Mus kaget, heran dan kagum. Dengan statusnya dulu sebagai santri ternakal, beberapa waktu kemudian mejadi kiai dengan ribuan santri.

Luar biasa. Kyai-kyai jaman dulu mendidik tidak hanya mengajar secara lisan saja. Tetapi juga dibarengi dengan laku tirakat dan doa. Bahkan, saat santrinya sudah pulang ke rumahpun masih diperhatikan dan didoakan. Dikunjungi, dipantau dan ditanyakan perkembangannya. Itulah rahasia keberkahan ilmu para alumnus pesantren.

Di pesantren, selain kyai mendo’akan para santri, juga ada tradisi ta’zir atau hukuman bagi santri yang melanggar aturan. Macam-macam bentuk ta’zir. Dari mulai yang ringan sampai ta’zir berat yang berarti santri dikeluarkan dari pesantren. Berbagai bentuk ta’zir di pesantren bersifat ta’dib atau mendidik santri agar jera. Tujuannya agar tidak mengulangi kesalahan.

Di Pondok Pesantren Langitan, tradisi ta’zir juga sudah berlangsung sejak dahulu. Menurut kesaksian alumnus Langitan yang mondok sekitar tahun 1950-an, saat era kepengasuhan Hadlratussyaikh KH Abdul Hadi Zahid, ta’zir biasanya adalah mengangkut pasir dari sungai Bengawan Solo (Nggawan, red) untuk dibawa ke pondok.

Ta’zir mengangkut pasir itu berlaku bagi santri yang ketahuan menyeberang Nggawan menuju Babat. Baik ke pasar atau menonton film di bioskop. Banyak santri yang jera dengan ta’zir model itu. Tidak lagi mengulangi melanggar aturan pesantren.

Jika santri sudah melakukan pelanggaran berkali-kali, ta’zirnya berbeda. Bahkan ada yang sampai dikeluarkan dari pesantren jika kedapatan mencuri. Tidak ada protes dari santri maupun wali santri yang terkena ta’zir. Tidak juga ada santri yang keberatan dengan aneka macam ta’zir yang lazim dilakukan di pesantren. Karena hakikatnya, ta’zir di pesantren adalah demi kemaslahatan si santri sendiri.

Kata ta’zir menurut bahasa berasal dari kata “az-zara” yang mempunyai arti menolak atau mencegah. Dapat juga diartikan mendidik, mengagungkan dan menghormati, membantu, menguatkan, dan menolong.

Menurut istilah, ta’zir didefinisikan oleh Al Mawardi sebagai berikut:

والّتعز ير تأدب على ذنوب لم تشرع فيها الحدود

“Ta’zir adalah hukuman yang bersifat pendidikan atas perbuatan dosa yang hukumannya belum ditetapkan oleh syara.”

Maka ketika belakangan ini sering ada guru dilaporkan murid dan wali muridnya ke polisi hingga sidang di pengadilan, sungguh membuat trenyuh. Seperti yang terjadi di Sidoarjo. Seorang murid SMP melaporkan Samhudi, gurunya, ke polisi setelah dicubit lantaran tidak ikut sholat dhuha berjamaah.

Samhudi bahkan sampai disidang di Pengadilan Negeri Sidoarjo. Oleh jaksa, dia dituntut hukuman penjara 6 bulan. Lantaran si murid melaporkan gurunya itu, seluruh sekolah tidak ada yang mau menerima. Na’udzubillahi min dzalik.

(Abdullah Mufid Mubarok)

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , ,

Related For Ta’zir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *