Tawakal dan Syukur  

Wednesday, September 16th 2015. | Tasawuf

 

tawakal

Tawakal berarti menyerahkan segala urusan dunia kepada Allah SWT. Tidak mengandalkan dirinya sendiri dalam setiap usaha karena mereka sadar atas ketidakmampuan anggota tubuh untuk mengerjakan sesuatu hal dan mencapai kesuksesan, semua adalah atas kehendak Allah SWT. Manusia dalam hal ini hanya bisa bergerak namun penggerak dan pengaturnya adalah Allah, dalam artian manusia tidak akan mampu menggerakkan anggota tubuhnya sedikitpun kecuali atas nikmat dari Allah. Maka seharusnya nikmat yang telah dimiliki ini digunakan untuk beribadah kepada Allah sebagai bentuk rasa syukur, bukan malah sebaliknya, digunakan untuk maksiat, yang berarti kita mendurhakai atau mengkufuriNya.

Tawakal berarti pula menggantungkan seluruh urusan hanya kepada Allah, bukan yang lain bahkan dalam masalah rezeki. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ketika kita semua bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, maka Dia akan memberikan rezeki kepada kita, sebagaimana Allah telah memberi rezeki pada burung. Terbang di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut kenyang.

Sedangkan bersyukur adalah suatu keadaan di mana seseorang berada di puncak tawakalnya, karena dari sini bisa tergambar kepuasan hati seorang hamba. Maka syukur ini dilakukan tidak hanya ketika apa yang kita usahakan telah diraih, tetapi juga pada saat usaha yang kita lakukan belum membuahkan hasil, tentunya dengan prasangka bahwa Allah telah menyiapkan yang sesuatu yang lebih baik dari ini. Dalam sebuah kalam disebutkan

المنع عين العطاء

“Tercegah adalah pemberian (Allah) yang sebenarnya.”

Bersyukur memiliki arti yang sangat penting karena di sana ada beberapa faidah, antaranya:

  1. Menetapkan nikmat yang telah ada, sehingga nikmat-nikmat ini akan tetap terjaga dan bersemayam dalam diri manusia.
  2. Dapat menarik nikmat lain yang belum kita miliki

Bila kita mampu menancapkan tawakal dan syukur di hati, maka kita akan mampu membentengi diri dari segala sesuatu yang menjadikan ketidaktenangan hati. Karena hati yang tenang itu seperti sebuah karang yang tetap tenang walaupun terus dihantam ombak lautan. InsyaAllah.

 

Tawakal dalam Usaha

Sudah menjadi watak manusia akan memilih pada yang lebih indah baik dalam hal keduniaan atau yang lainnya, dan demi mendapatkannya mereka rela bekerja keras, juga berusaha dengan apapun yang dimiliki. Sehingga ketika kerja keras itu tidak berbuah banyak dari mereka yang mengeluh bahkan sampai putus asa, padahal putus asa itu dilarang. Itu semua terjadi karena kerja keras tersebut tidak dibarengi dengan tawakal, mengakui seluruh kelemahan dan yakin bahwa seluruhnya adalah pemberian dari Allah. Sekeras apapun usaha manusia namun ketika Allah tidak menghendaki maka tetap tidak akan mampu, begitu juga sebaliknya. Manusia hanya mampu berusaha tetapi Allahlah yang menentukannya.

Maka bukan seharusnya pula kita hanya mengandalkan otak saja, karena otakpun hanya mahluk lemah yang terbatas jangkauannya. Ketika kita hanya mengandalkan otak sudah barang tentu pasti akan tersesat.

 

Tawakal dalam Doa

Ketika kita telah berusaha dengan sekuat tenaga, selanjutnya adalah berdoa dengan penuh harap, bersungguh-sungguh, mengakui akan kelemahan dan yakin ke-Maha Belas Kasih-an Allah, sehingga doa kita akan dikabulkan walau tidak tahu kapan, sekarang atau besok. Keyakinan ini penting karena sesuai dengan hadis Qudsi:

انا عند ظن عبدى بى ان خيرا فخير وان شرا فشر

Aku (Allah) sebagaimana prasangka hambaku, ketika prasangka mereka baik maka aku akan menjadikan baik pula, namun apabila prasangka mereka buruk maka akan buruk pula.”

Hadis ini memberikan pengertian akan pentingnya keyakinan kita kepada Allah bahwa Dia mengabulkan doa hambanya, walau kita tidak tahu kapan terjadinya. Tapi tidak terhusus dalam hal ini saja.

Disebutkan dalam sebuah riwayat, hadis ini turun ketika ada seorang hamba yang hidup selama ratusan tahun dengan terus melakukan ibadah kepada Allah tanpa melakukan maksiat sedikitpun. kemudian ketika dia meninggal, Allah mengutus malaikat untuk memasukkannya ke surga atas rahmatNya. Namun hamba ini membantah, “Ya Allah, ya tuhanku aku ingin masuk surga atas ibadahku bukan karena rahmatmu.” Kemudian Allah pun mengutus malaikat untuk menimbang satu nikmat Allah yang berupa kesehatan matanya dengan seluruh ibadah yang telah dikerjakan oleh hamba tadi. Setelah ditimbang, ternyata bobotnya lebih berat nikmat Allah yang telah dilimpahkan untuk salah satu mata dari hamba tadi. Kemudian hamba itupun digiring oleh malaikat ke neraka. Dan setelahnya hamba tersebut berdoa kepada Allah agar memasukkannya kedalam surga dan turunlah hadis Qudsi di atas.

Maka kesimpulannya, seberapapun banyaknya ibadah yang kita lakukan tidak akan mampu membeli bahkan mengimbangi nikmat yang telah Allah berikan kapada kita. Dan kita hanya bisa mengharap rahmat dari Allah untuk bisa mendapatkan surganya.

 

 

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Tawakal dan Syukur  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *