Tarim, Saksi Kesungguhan ‘Sang Raja Sanubari’

Sunday, March 23rd 2014. | Tokoh

kota-tarim

Di mata Habib Umar bin Hafidz, seorang ulama kesohor dari Yaman, Habib Munzir bin Fuad al-Musawa adalah murid yang istimewa. Gelar Sulthan al-Qulub (Sang Raja Sanubari) dari sang guru mulia (Habib Umar) semakin mempertegas bahwa Habib Munzir bukanlah murid sembarangan. Selain menjadi salah satu santri golongan pertama di Pesantren Daar al-Mushthafa, Hadramaut asuhan Habib Umar, Habib Munzir bin Fuad adalah dai muda yang –bisa dikata- paling berhasil menancapkan tiang pancang gerakan dakwahnya menjadi besar dalam waktu yang singkat di tengah arus globalisasi. Tentu ini terjadi berkat buah kesabaran dan ketekunan beliau semasa mengenyam pendidikan agama di berbagai tempat –khususnya Yaman- sebagaimana yang disampaikan oleh sang guru mulia, Habib Umar bin Hafidz dalam satu sambutannya yang kami terjemahkan bebas dari situs resmi Majelis Rasulullah.

Habib Umar bin Hafidz berkisah:  “Selama 5 tahun, kota Tarim, Yaman telah menyaksikan bagaimana kesungguhan Munzir bin Fuad al Musaya ‘alaihi rahmatullah dalam menuntut ilmu. Setiap mata juga memadang bagaimana dia –dengan kegigihannya- mencari ridha Allah SWT. Siang dan malam pun menjadi saksi bagaimana perjalanan Munzir bin Fuad dalam mengarungi samudra ilmu.

Terkadang, di beberapa malam ketika terlambat pulang, saya (Habib Umar bin Hafidz) melihat dia sedang berdiri dengan tenang (baca: menuaikan salat). Ketika Munzir bin Fuad hadir dalam majelis ilmu maka akan tampak raut kesungguhan dan ketawadluan untuk mendengarkan semua nasihat, untuk selanjutnya menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah, ilmu-ilmu yang diperolehnya tertancap kuat di dalam sanubari. Dan dengan izin dan petunjuk Allah SWT, Munzir bin Fuad telah mampu memegang teguh panji-panji dakwah ilahiah. Lantaran keseriusannya dalam mengemban amanah dakwah, Allah SWT telah menurunkan hidayah kepada banyak hambaNya.

Diadakannya beberapa majelis –oleh Munzir bin Fuad- yang selalu dihadiri oleh puluhan hingga ratusan ribu umat karena di dalam majelis tersebut memuat sejarah keteladan dan perjuangan orang-orang salih dari berbagai belahan negeri. Pun pula di setiap perayaan atau momen haul para ahli ilmu. Dan saya beberapa kali hadir di dalamnya di saat saya berkunjung ke Indonesia. Sungguh saya menyaksikan berjubel umat muslim dalam perkumpulan yang diadakannya. Jika bukan karena ilmu dan akhlak maka sulit bagi pihak manapun melaksanakan kegiatan yang penuh sesak dengan kaum muslim.

Penuh Semangat: Habib Munzir berdakwah ke Suku Pedalaman Irian Jaya

Penuh Semangat: Habib Munzir berdakwah ke Suku Pedalaman Irian Jaya

Munzir bin Fuad sebagai “Sang Raja Sanubari” (Sulthan al-Qulub) dengan cahaya keimanannya, mengajak semua hati umat untuk kembali ke jalan Allah dan RasulNya. Tak pelak, banyak di antara mereka yang sebelumnya tidak pernah salat menjadi orang yang selalu menjaga salatnya. Yang biasanya salat sendirian beralih untuk salat berjamaah. Yang biasanya hanya salat wajib, maka ditambah lagi dengan salat sunah rawatib. Begitu seterunya.

Lantaran majelis-majelis tersebut pula, banyak di antara mereka (dahulunya) sering bermabuk-mabukan lantas menjadi orang yang jauh dari hal tersebut. Hingga akhirnya mereka menjadi orang-orang yang selalu mengharapkan ‘cangkir-cangkir’ berisi dzikir kepada Allah SWT, dan ‘cangkir-cangkir’ hubungan kepada Nabi Muhammad SAW. Jika sudah demikian maka semua lisan tak akan berhenti bergetar, menyebut nama Rasulullah. Dan semua hati akan selalu merindukan perjumpaan dengan beliau.

Bahkan, saya menyaksikan sendiri dalam beberapa majelis, ada yang menangis hingga pingsan. Ada yang bertaubat dan bertambah khusyuk dalam beribadah.

Dan sekarang, Allah SWT telah memanggil Munzir bin Fuad untuk untuk kembali kepadaNya pada usia 40 tahun. Kita harus menyadari bahwa panjang pendeknya umur bukanlah perkara penting di hari pembalaasan kelak. Akan tetapi perkara yang terpenting adalah keadaan di tempat pembangkitan kelak dan keadaan ketika menghadap kepada yang Maha Tinggi dan Maha Besar. InsyaAllah dia (Habib Munzir) telah masuk ke dalam kelompok (orang yang diridhai Allah).

 

[Mohammad Sholeh]

 

 

 

Comments

comments

tags: , , ,

Related For Tarim, Saksi Kesungguhan ‘Sang Raja Sanubari’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *