Tarekat dalam Pandangan Aswaja

Sunday, July 22nd 2018. | Aswaja, Kajian

Makna kata tarekat adalah menetapi ibadah dan memalingkan diri dari dunia; harta, pangkat, dan seluruh kenikmatannya. Jalan ini telah ditempuh oleh para sahabat dan ulama salaf pada kurun-kurun awal. Saat memasuki kurun selanjutnya, mulailah tersebar orang-orang yang sibuk dengan urusan dunia, yang menjadikannya sebagai prioritas kehidupan mereka. Sehingga, orang-orang yang tetap fokus beribadah memberikan istilah khusus pada golongannya dengan nama shufiyah atau mutashawifah.

Dengan bertarekat seseorang berusaha mengikuti jalan para sufi terdahulu. Jalan kebenaran, membersihkan jasad dan hati dengan senantiasa mengingat Allah Swt. Dasar yang dipakai dalam tarekat adalah Al Quran dan sunnah serta melakukan syariat tanpa sedikit pun menyimpang dari ajaran Islam.

Imam Junaid bin Muhammad al Baghdadi ra. yang menjadi landasan tasawuf Ahlussunnah wal Jamaah berkata, “Ilmu kita ini (tasawuf) diikat dengan Al Quran dan sunnah. Barang siapa yang tidak menjaga Al Quran dan tidak mendalami sunnah, maka dia sama sekali tidak mendapat bagian dari ilmu ini.”

Syarat Mursyid

Seorang Mursyid adalah perawat jasad murid dengan hukum-hukum syariat sekaligus pendidik jiwa mereka dengan tata krama tarekat. Mursyid menanggung tanggung jawab yang besar bagi murid-muridnya. Karenanya, dibutuhkan syarat yang berat untuk menjadi seorang Mursyid. Di antara syarat yang paling penting bagi Mursyid adalah:

  1. Mengetahui apa yang dibutuhkan oleh murid-muridnya, yakni ilmu fiqih dan ilmu akidah, sekiranya keraguan mereka bisa dihilangkan.
  2. Mengerti kesempurnaan dan tata krama hati serta penyakit dan hal-hal yang membahayakan manusia.
  3. Bersih dari niat yang buruk dan hasrat mengumpulkan harta.
  4. Mengantongi izin dari guru. Ini adalah syarat yang paling penting. Dengan syarat ini, diketahui keterkaitan Mursyid yang satu dengan Mursyid lainnya yang ditandai dengan diserahkannya syahadah dari Mursyid lama kepada Mursyid baru.

 

Minim Pengetahuan

Di Indonesia, tarekat semakin berkembang dan digandrungi oleh masyarakat. Tentu saja bermacam-macam orang yang bergabung dalam tarekat.. Ada sebagian di antara mereka yang belum sepenuhnya memahami syariat, akan tetapi ingin bertarekat dengan tujuan menjadi insan yang mulia di hadapan Allah Swt.

Orang yang belum memahami kewajiban dalam syariat tidak sepatutnya masuk ke dalam tarekat. Jenjang seseorang dalam menggapai ridla Allah Swt. adalah dengan bersyariat, bertarekat, dan menapaki hakekat. Memang ketiganya saling berkaitan, namun untuk menjalankannya harus bertahap; terlebih dahulu memahami syariat, dilanjutkan dengan memasuki pintu tarekat, dan akhirnya menuai hakekat.

Orang yang kurang mendalami syariat tidak diperkenankan bergabung dengan tarekat, kecuali bila meyakini bahwa setelah masuk tarekat dia bisa memahami ilmu syariat. Bila hal ini tidak dimungkinkan, maka terlebih dahulu dia harus belajar tentang syariat; ushuluddin dan furu’nya. Seorang Mursyid juga tidak boleh menerimanya, kecuali mampu menjamin bahwa muridnya bisa memahami keduanya.

Ijazah

Terkadang pada awalnya seseorang memiliki semangat menggebu, tetapi pada akhirnya motivasinya dalam mengamalkan wirid melemah. Mengabaikan amalan dari Mursyid tentu tidak diperbolehkan apabila ketika menerimanya seseorang menyertainya dengan nadzar atau sumpah. Begitu pula dengan sebaliknya, tidaklah mengapa apabila hal tersebut dilakukan tanpa diiringi dengan nadzar atau sumpah.

Referensi: Ahkam al Fuqaha’[1]:74. Futuhah al Ilahiyah:733. Tanwir al Qulub: 524. Zubdah al Itqan:29.

[Muslimin Syairozi]

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Tarekat dalam Pandangan Aswaja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *