Tampil Sederhana, Tapi Kaya Karya

Wednesday, May 24th 2017. | Jejak Utama

 

Sekilas memandang seperti orang biasa dengan gagasan dan balutan pakaian yang sederhana. Namun jika melihat lebih mendalam tentang sisi kehidupannya, maka kita akan takjub dibuatnya. Yah, dialah Dr KH MA Sahal Mahfudz, Rais Amm PBNU tiga periode. Sosok pemegang otoritas tertinggi organisasi masyarkat muslim terbesar dunia, Nahdlatul Ulama.

 

***

 

Kiai Sahal, begitulah orang menyebut tokoh yang memiliki nama lengkap Dr. KH. Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudz bin KH Abdussalam. Lahir di Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah pada tanggal 17 Desember 1937 M. merupakan anak ketiga dari enam bersaudara.

Lahir dari pasangan Kiai Mahfudz (w. 1944 M) dengan Nyai Hj. Badiah (w. 1945 M). Setelah ditinggal kedua orang tuanya, akhirnya diasuh oleh pamannya, KH. Abdullah Salam. Ulama kharismatik dari Pati yang disebut-sebut tokoh spiritual sebagai salah satu wali dari tiga “penyangga” tanah Jawa (dua yang lainnya adalah KH. Abdullah Faqih Langitan, Tuban dan KH. Abdullah Abbas, Buntet, Cirebon).

Sahal kecil memulai pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah 1943-1949 M. dan melanjutkan Madrasah Tsanawiyah 1950 -1953 M. kedua madrasah ini berada di bawah managemen Perguruan Islam Mathali’ul Falah, Kajen, Pati. Kemudian melanjutkan ke Pesantren Bendo Pare, Kediri, Jawa Timur di bawah asuhan Kiai Muhajir pada tahun 1953-1957 M.

Di Bendo ini Sahal muda memperdalam fan fiqih dan tasawuf. Di antara kitab yang dikaji, Ihya Ulumiddin, Al-Mahalli, Fath al-Wahhab, Fath al-Mu’in, Al-Bajuri, At-Taqrib, dan berbagai kitab lainnya.

Usai dari Bendo, dahaga ilmunya pun belum terlunasi sehingga melanjutkan ke Pesantren Sarang pada tahun 1957-1960 M. Di pesantren ini, belajar kepada Kiai Zubair (Ayahanda Kiai Maimun Zubair) dan Kiai Ahmad. Kepada Kiai Zubair mendalami ilmu fiqih, ushul fiqih, qawaid fiqih dan balaghah. Sedangkan kepada Kiai Ahmad mendalami lagi ilmu tasawuf. Lalu pada pertengahan tahun 1960 M. belajar ke Makkah al-Mukarramah di bawah asuhan langsung SyaikhYasin al-Fadani.

 

Produktif dan kaya karya

Kiai Sahal, selain ditunggu-tunggu fatwanya oleh umat, ditunggu pengajian oleh santri-santri, juga ditunggu-tunggu gagasan produktifnya. Ibarat pohon, beliau memiliki berbagai manfaat dan khasiat. Satu bentuk namun memiliki berbagai dimensi.

Maka tidak heran jika berbagai kesibukan memadati agendanya. Selain menulis ratusan risalah makalah ilmiah, baik yang berbahasa Indonesia maupun Arab, juga aktif di berbagai usaha pemberdayaan masyarakat.

Beberapa pengabdian beliau, di antaranya: Pengajar di Pesantren Sarang, Rembang 1958-1961 M, dosen kuliah takhassus fiqih di kajen 1966-1970, Dosen di Fakiltas Tarbiyah UNCOK Pati 1974-1976 M, Dosen di IAIN Walisongo Semarang 1982-1985 M, Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara 1989 sampai wafat, Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) 2000-2005, Ketua Dewan Pengawas Syariah pada asuransi Jiwa Bersama Putra 2002 sampai wafat.

Beliau juga menjabat sebagai RaisAmm PBNU semenjak 1999 sampai wafat. Ketua Majelis Ulama Indonesia semenjak 2000 sampai wafat. Dan pernah mendepat penghargaan dari badan kesehatan PBB, WHO atas gagasan mendirikan taman gizi yang digerakkan para santri.

Beberapa penghargaan yang diterima, di antaranya: Tokoh Perdamain Dunia (1984 M), Manggala Kencana Kelas I (1995-1996 M), Bintang Maha Putra Utarna (2000 M), Tokoh Pemersatu Bangsa (2002 M), dan gelar Doktor Honoraris Causa dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2003).

Selain itu, beliau juga melakukan berbagai studi komparatif di beberapa Negara, di antaranya: studi pengembangan masyarakat ke Filipnhina (1983 M.), mengunjungi pusat Islam ke Jepang (1983 M.), studi pengembangan masyarakat ke Srilangka (1984 M.), studi pengembangan masyarakat ke Malaysia (1984 M.), duta NU ke Arab Saudi (1987), studi ke Kairo, Mesir (1992 M).

Sebagai pemikir, tentu banyak sekali karya yang dihasilkan Kiai Sahal, mulai dari lembaran-lembaran ilmiah hingga kitab berjilid-jilid. Ada banyak makalah dan buku yang berhasil beliau tulis. Secara khusus, beberapa karya bisa Anda simak di halaman…..

 

Bumipun Berduka

Dengan segudang aktivitas dan semakin bertambahnya usia, maka semakin melemahlah fisik Kiai Sahal. Sebelum sakit terakhir hingga menyebabkan beliau wafat, beliau juga sering masuk ke rumah sakit. Kiai Sahal wafat pada Jumat dini hari, tanggal 24 Januari 2014 M.

Berita kewafatan beliau langsung tersebar ke mana-mana. Penulis sendiri mendapat beberapa lemparan berita via sms dan berbagai pesan di sosial media. Begitu pula berbagai media nasional berkali-kali memberitakan tentang wafatnya kiai kharismatik itu. Sejarum arah waktu kemudian, bumipun berduka atas mangkatnya salah satu putra terbaik bangsa.

 

[Muhammad Hasyim]

 

 

 

 

 

 

 

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Tampil Sederhana, Tapi Kaya Karya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *