Tahnik (Nyeta’i)

Tuesday, December 30th 2014. | Keluarga

eisyatirrradhiyah

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa ‘Aisyah r.a berkata: “Sesungguhnya pada masa Rasulullah Saw., jika ada bayi yang dilahirkan, maka dihaturkan pada Nabi, kemudian Nabi memberikan berkah dan menahniknya.”

Dari hadis tersebut jelas, betapa Islam menaruh perhatian besar yang sangat mendasar pada kesehatan, bahkan ketika manusia baru lahir ke dunia ini. Terdapat dua hal penting yang perlu diperhatikan oleh orang tua baru. Pertama adalah doa saat bayi terlahir. Hal itu bisa dilakukan sendiri atau meminta doa kepada orang alim. Kedua adalah tahnik yang bisa dikatakan sebagai proses awal memasukkan asupan makan untuk bayi.

Dalam kitabnya, Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah mengatakan bahwa ‘tahnik’ ialah mengunyah sesuatu kemudian meletakkan/memasukkannya ke mulut bayi, lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit mulutnya. Dilakukan demikian kepada bayi agar supaya ia terlatih terhadap makanan dan untuk menguatkannya. Dan yang patut dilakukan ketika mentahnik hendaklah mulut bayi tersebut dibuka sehingga sesuatu yang telah dikunyah masuk ke dalam perutnya. Dan yang lebih utama ketika mentahnik ialah dengan kurma kering (tamr). Jika tidak mudah mendapatkan kurma kering (tamr), maka dengan kurma basah (ruthab). Dan kalau tidak ada kurma dengan sesuatu yang manis dan tentunya madu lebih utama dari yang lainnya (kecuali kurma).”( Fath al-Bari [9]: 558).

Imam Muslim juga meriwayatkan hadis yang diceritakan dari Urwah bin Zubair dan Fatimah binti Mundzir bin Zubair, sesungguhnya mereka berdua berkata: ”Asma’ binti Abu Bakar ikut pergi hijrah. Saat itu ia sedang mengandung Abdullah bin Zubair. saat sampai di Quba’, dia melahirkan Abdillah. Kemudian dia sowan pada Rasulullah Saw. supaya beliau menahnik Abdullah. Rasulullah Saw. lantas mengambilnya dari tangan Asma’, memangkunya kemudian beliau mengambil kurma”. Urwah berkata: “Aisyah berkata: “Lalu kami berdiam diri sebentar sembari mencari kurma sebelum kami menemukannya, kemudian Rasulullah mengunyahnya lantas memasukkannya ke dalam mulut Abdullah. Sesungguhnya sesuatu yang pertama kali yang masuk ke dalam perut Abdullah adalah ludah Rasulullah Saw.”. Asma bercerita: “Lalu Rasulullah mengusap dan mendoakan Abdullah. Beliau pun memberinya nama Abdullah. Suatu saat, Abdullah datang pada Rasul ketika ia berumur 7/8 tahun. Atas perintah Zubair, Abdullah meminta kepada Rasulullah agar beliau berkenan membaiatnya. Rasulullah tersenyum ketika melihat Abdullah menghadapnya, Beliau pun kemudian membaiatnya.”nyeta'i

Dalam hadis tersebut terdapat beberapa faedah yang telah disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Syarah kitab Muslim. salah satunya ialah mengharap berkah orang salih lewat ludah dan semua kebaikan yang ada pada mereka.

Dalam kitab yang sama, Imam Nawawi juga mengungkapkan: “Disunnahkan hendaknya orang yang menahnik itu termasuk orang-orang yang salih dan orang-orang yang bisa diharapkan berkahnya (baik laki-laki ataupun perempuan). Jika orang yang menahnik itu tidak dapat hadir ketika dilahirkannya bayi, maka bayi tersebut dibawa menghadap pada orang yang menahnik tersebut. Seharusnya pula orang yang menahnik tersebut tidak mengidap penyakit yang berbahaya/menular di dalam mulut atau lainnya supaya tidak membahayakan si bayi.

Sebagai dasar ilmiah bahwa tahnik yang diajarkan Rasulullah sangat bermanfaat adalah sebagaimana yang diterangkan Dr. Faruq Musahil, bahwa setelah lahir, seorang bayi mendapatkan dirinya sudah terpisah dari ibunya, dan pasokan makanan instan dari ibupun sudah berhenti. Sehingga untuk bisa bertahan, ia harus mengandalkan pada sisa makanan yang masih tersimpan dalam tubuhnya. Dan itu jumlahnya tidak banyak, saat ia masih dalam rahim ibunya, hingga saat keluar susu dari payudara ibunya. Keluarnya susu itu sendiri membutuhkan waktu yang tidak sama antara satu dengan wanita yang lain, dari satu hingga tiga hari. Bayi berupaya beradaptasi dengan lingkungan barunya, yakni keluar kedunia ini sehingga sisa bahan makanan di tubuhnya akan demikian cepat habis. Bersamaan itu, presentase gula dalam darah juga ikut menurun sehingga masa sulit menyuplai makanan untuk bayi berkisar antara selepas waktu bersalin hingga awal penyusuan.

Mayoritas atau bahkan semua bayi membutuhkan zat gula dalam bentuk glukosa seketika setelah lahir, maka memberikan kurma yang sudah dilumat bisa menjauhkan sang bayi (dengan izin Allah Swt) dari kekurangan kadar gula yang berlipat-lipat. Bayi yang baru lahir memerlukan asupan glukosa yang mencukupi, apalagi jika lahir premature (kurang usia kandungan: kondisi bayi ini sangat berbahaya) karena sang bayi memiliki kandungan kadar gula glukosa yang sangat kecil dalam darahnya. Jika diberikan kepadanya zat gula yang siap diserap olehnya, maka itu ( tahnik ) adalah solusi yang terbaik dan selamat dalam keadaan darurat semacam ini.

[Mohammad Sholeh]

 

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Tahnik (Nyeta’i)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *