Syaikh Ahmad Khatib Sambas

Friday, April 1st 2016. | Uswatun Hasanah

syeikh ahmad khotib sambas

Syaikh Ahmad Khatib Sambas

Guru Ulama Nusantara

 

 

 

Nama Syaikh Ahmad Khatib Sambas terukir tinta emas sejarah sebagai seorang ulama dan pemuka thariqah masyhur Al-Qadiriyah wan Naqsyabandiyah. Beliau memiliki banyak murid yang menjadi ulama, di antaranya adalah Syaikh Nawawi Banten, Syaikh Muhammad Kholil Bangkalan, Syaikh Abdul Karim Banten, dan Syaikh Thalhah Cirebon. Dari Syaikh Ahmad Khatib Sambas jugalah, thariqah Al-Qadiriyah wan Naqsyabandiyyah menjadi popular di Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon hingga ke Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, dan beberapa Negara lain.

 

Syaikh Ahmad Khatib Sambas dilahirkan di kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat pada bulan Safar 1217 H atau tahun 1803 M. Ayah beliau bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Syaikh Ahmad Khatib lahir dari keluarga perantau asal desa Sange’. Pada masa-masa tersebut, tradisi merantau memang menjadi bagian dari cara hidup masyarakat Kalimantan Barat.

Syaikh Ahmad Khatib tumbuh di Sambas, daerah yang pada tahun 1620 M dibangun oleh Raja Tengah keturunan Raja Brunei Darussalam. Sejak masa penobatan Sultan Sambas pertama, Raden Sulaiman yang bergelar Muhammad Tsafiuddin, wilayah ini memiliki ciri-ciri keislaman khusus.

Pada masa itu, rakyat Sambas hidup dari garis agraris dan nelayan. Hingga perjanjian antara Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin (1815-1828) dengan pemerintahan kolonial Belanda tahun 1819 M. Perjanjian ini membentuk sebuah pola baru bagi masyarakat Sambas yakni, perdagangan maritim di mana Syaikh Ahmad Khatib tumbuh sampai remaja.

Sejak kecil Syaikh Ahmad Khatib sejak kecil diasuh oleh pamannya, ulama yang terkenal alim dan wara’ di wilayah tersebut. Beliau juga berguru kepada beberapa ulama lain di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang masyhur di wilayah tersebut adalah, H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jamik Kesultanan Sambas.

Pada tahun 1820 M Syaikh Ahmad Khatib dikirim ke Mekah untuk mengembangkan pendidikan agamanya, karena orang tua beliau melihat keistimewaan Syaikh Ahmad Khatib terhadap penguasaan ilmu-ilmu keagamaan. Di Makkah, Syaikh Ahmad Khatib menuntaskan dahaga keilmuannya kepada ulama-ulama di tanah suci. Di sana, beliau kemudian menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu dan menetap di Mekah hingga wafat.

 

Masyayikh Syaikh Ahmad Khatib

Di antara Guru-guru Syaikh Ahmad Khatib adalah, Syeh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syeh Daud Bin Abdullah al-Fatani (ulama asal Patani Thailand Selatan yang bermukim di Makkah), Syaikh Abdusshamad al-Palimbani (ulama asal Palembang yang bermukim di Makkah), Syaikh Abdul Hafidz al-Ajami, Syaikh Ahmad al-Marzuqi, dan Syaikh Syamsudin, mursyid thariqah Qadiriyah yang tinggal dan mengajar di Jabal Qubays Makkah.

 

Peran Thariqah bagi Kemerdekaan

Periode pertama gerakan perlawanan kepada penjajah berawal dari pesantren atau kaum sufi (thariqah), walaupun tidak pernah tercatat resmi di pemerintahan sekarang, peran ulama atau kiai untuk kemerdekaan tidak bisa dihilangkan. Salah satunya adalah, perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang dipimpin oleh Guru Bangkol juga merupakan bukti yang melengkapi pemberontakan petani Banten, bahwa perlawanan terhadap pemerintahan Belanda juga dipicu oleh keikutsertaan mereka pada thariqah Syaikh Ahmad Khatib Sambas.

Pesantren atau thariqah juga mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia, terutama dalam membantu membentuk karakter masyarakat bangsa ini. Bukan semata karena Syaikh Ahmad Khatib guru thariqah dan putra daerah, tetapi bahwa orang yang berada di pesantren dan thariqah adalah para pejuang yang dengan gigih mengobarkan perlawanan terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial, keagamaan dan institusi pendidikan. Pasca kemerdekaan, di saat Negara masih labil pesantren dan thariqatlah yang menyelamatkan bangsa dari kebodohan hingga sekarang.

 

Karya Syaikh Khatib

Ketokohan dan kebesaran Syaikh Ahmad Khatib yang telah melahirkan ulama besar nusantara tidak lepas dari kedalaman dan keluasan ilmunya. Karya beliau yang terkenal adalah Fath al-‘Arifin yang berisi ceramah-ceramah beliau yang ditulis oleh salah satu muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Kitab ini dibukukan di Makkah pada tahun 1295 H. Kitab yang menjadi pegangan para mursyid (guru thariqah) ini memuat tentang tata cara, bai’at, talqin, dzikir, muqarabah dan silsilah thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Karya lain adalah Risalah Jum’at dalam bidang ilmu fiqih, manusrkip yang terdapat pula suatu nasihat dan beberapa amalan wirid beliau. Juga manuskrip tentang fiqih, mulai thaharah, salat dan penyelenggaraan jenazah yang ditemukan di Kampung Mendalok, Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat pada 6 Syawal 1422 H/20 Desember 2001 M. Karya ini tanpa tahun, hanya terdapat tahun penyalinan yakni pada hari kamis, 11 Muharam 1281.

 

Wafatnya Sang Lentera

Manakib Syaikh Ahmad Khatib tertulis dalam dua buah kitab, Siyar wa Tarajim karya Umar Abdul Jabbar, dan Al-Mukhtashar min Kitab Nasyrin Naur waz Zahar, karya Abdullah Mirdad Abul Khair yang diringkaskan oleh Muhammad Sa’id al-‘Amudi dan Ahmad Ali.

Umar Abdul Jabbar, menyebut bulan Safar 1217 H (kira-kira bersamaan 1802 M.) sebagai tanggal lahirnya Syaikh Ahmad Khatib, sebagaimana Muhammad Sa’id al-‘Amudi menulis demikian. Namun mengenai tahun wafatnya terdapat perbedaan. Abdullah Mirdad Abul Khair menyebut bahwa Syaikh Ahmad Khatib wafat tahun 1280 H. (kira-kira bersamaan 1863 M.), tetapi menurut Umar Abdul Jabbar, pada tahun 1289 H. (kira-kira bersamaan 1872 M.).

Tahun wafat 1280 H. yang disebut oleh Abdullah Mirdad Abul Khair sudah pasti ditolak, karena berdasarkan sebuah manuskrip Fath al-‘Arifin salinan Haji Muhammad Sa’id bin Hasanuddin, Imam Singapura, menyebutkan bahwa pada hari Rabu ketujuh bulan Zulhijjah tahun 1286 H, Muhammad Sa’ad bin Muhammad Thasin al-Banjari mengambil thariqah (berbaiat) dari gurunya, Syaikh Ahmad Khatib dan menjalani khalwat. Tahun 1289 H sebagai tahun wafatnya Syaikh Ahmad Khatib, yang disebut oleh Umar Abdul Jabbar lebih mendekati kebenaran.

Rasulullah menyebutkan bahwa kematian adalah awal permulaan kenikmatan yang dirasakan oleh seorang mukmin, karena ia akan merasakan gambaran surga dari kenikmatan yang Allah tunjukkan di alam barzah (kubur). Semoga kita termasuk dalam doa Rasulullah dan dikumpulkan bersama orang-orang pilihan Allah nanti, di yaum al-akhir. Amin ya Rabb al-‘alamin. Al-Fatihah.

 

[Umar Faruq]

 

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , ,

Related For Syaikh Ahmad Khatib Sambas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *