Shalawat Badar

Sunday, April 23rd 2017. | Jejak Utama

Shalawat Badar

Masterpiece van Java

 

Shalaatullaah salaamul Laah ‘alaa thaaha Rasuulillaah
Shalaatullaah salaamulleah ‘alaa yaa-siin Habiibillaah

Tawassalnaa bi bismi lLaah wa-bil haadi Rasuulillaah
Wakulli mujaahidin lilLaah bi ahlil badri Yaa Allaah

llaahi sallimil ummah minal aafaati wanniqmah
Wamin hammin wamin ghummah bi ahlil badri Yaa Allaah

……………………..

 

Anda tentu tak asing dan segera dapat mengenali bait-bait syair di atas. Selain di musala kampung pada malam jumat saya mendengar syair itu dilagukan dengan sangat memesona oleh pelantun shalawat idola saya, Haddad Alwi, di setasiun televisi dan oleh budayawan kesayangan saya, Emha Ainun Nadjib, di sela-sela ceramahnya. Begitu nyaman di telinga dan kadang-kadang menghentak semangat, menggugah ghirah kecintaan terhadap Rasulullah Saw.

Itulah Shalawat Badar, yang bahkan diakui oleh Gus Dur sebagai jenis syair yang bisa dilantunkan dalam lagu apapun. Namun, yang mungkin tidak banyak kita tahu adalah, syair tersebut digubah oleh KH. Ali Manshur Shiddiq, ulama NU kharismatik yang lahir di Jember dan wafat di Maibit, Rengel, Tuban.

Pada sebuah kesempatan, beruntung sekali redaktur Majalah Langian dapat bertemu langsung dengan Ahmad Syakir Ali (60) putera penggubah syair yang sangat terkenal itu, dan bisa berbincang-bincang cukup lama tentang Kiai Ali Manshur. Bagaimana akhirnya syair itu bisa sangat terkenal dan tersebar luas ke masyarakat.

Awalnya, ia enggan bercerita tentang Ayahnya. “Sebenarnya saya enggan dan agak kurang enak bila harus bercerita soal shalawat badar.” Katanya dengan masih menerawang. “Saya sendiri tidak tahu apakah beliau (Almaghfurllah KH. Ali Mansyur –Red) berkenan kisah itu diekspos media?” lanjutnya kemudian.

Tentu saja kata-kata itu membuat kami ciut. Tapi, kemudian ia menceritakan kunjungan beberapa wartawan yang mewawancarainya tempo hari dan setelah itu mencairlah kata demi kata dari bibirnya.

 

Balaghoh Jawa

Ia memulai cerita dengan mengenang suatu malam di tahun 1996. Waktu itu ia sedang menghadiri Haul kakeknya, KH. Ahmad Shiddiq di Jember. Tiba-tiba saja, di tengah acara ia didekati oleh KH. Muchith Muzadi. Kiai sepuh yang juga berasal dari kota tuban itu mengatakan kepadanya, bahwa Gus Dur meminta beliau untuk menanyakan prihal Shalawat Badar.

“Tentu saya jawab apa adanya. Jika hanya sekedar manuskrip tulisan tangan peninggalan orang tua saya punya, tapi jika ditanya tentang bukti-bukti otentik, ya maaf, saya tidak bisa memberikan itu,” katanya.

Manuskrip itu ditulis dalam bahasa jawa dengan huruf Arab pegon, dan ditemukan dalam satu lembar halaman muka Kitab Hisnul Hasin sebagai semacam catatan pengingat tentang kejadian-kejadian penting. Isinya, sebuah catatan singkat ketika beliau sedang melantunkan shalawat badar untuk pertama kalinya, setelah kembali dari Makkah Al-Mukaromah, di hadapan Habib Ahmad Qusairi dan beberapa muridnya pada malam jumat.

Ketika ditunjukkan kepada Kiai Muchith, beliau segera memanggil salah satu santrinya untuk membeli kitab yang sama. “Saya ingin tahu, mungkin syair itu dinukil dari salah satu bagian dalam kitab,” katanya, menirukan ucapan Kiai Muchith. “Tapi tentu saja tidak ketemu, karena memang tidak dinukil dari sana,” lanjutnya.

Tiga tahun kemudian ia baru punya kesempatan untuk bertemu langsung dengan Gus Dur di Jakarta. Kepada Ketua Umum PBNU itu (kala itu tahun 1998) ia menyampaikan hal yang sama dengan yang ia sampaikan kepada Kiai Muchith.

“Kenapa justu kamu yang ragu-ragu. Tanpa bukti-bukti pun saya sudah percaya. Saya sudah yakin.” Katanya, menirukan jawaban Gus Dur.

Menurut Gus Dur, setelah membaca ribuan buku dan kitab dalam berbagai bahasa tidak ditemukan syair atau karangan bentuk apapun, dalam bahasa arab, yang gaya bahasa dan karakternya sama dengan Shalawat Badar. Lagi pula dalam shalawat badar jelas-jelas terdapat kata tawasul. Dan tradisi itu hanya dikenal luas di Jawa. “Itu jelas dikarang oleh orang jawa. Gaya bahasanya khas dan balaghah yang digunakan adalah balaghah jawa,” tutur Pak Syakir, menirukan penjelasan Gus Dur.

 

Penanda Sejarah

Meskipun lahir di Gianyar, Bali, Pak Syakir tumbuh dan menjalani masa kanak-kanaknya di Banyuwangi, termasuk mengenyam pendidikan SRI di kota itu pada kisaran tahun 1965. “Itu adalah masa-masa yang mengerikan,” kenangnya.

Bisa jadi basis kekuatan Partai Komunis Indonesia pada mulanya memang ada di kota Madiun, tapi pada tahun-tahun itu Banyuwangi menjadi salah satu kekuatan PKI yang tidak bisa diremehkan. Partisipan PKI ada di mana-mana dan menandingi sekaligus dua kekuatan besar lainnya (Nasionalis dan Agamis). “Bahkan, meski saya belajar di Sekolah Islam tapi kebanyakan guru saya adalah anggota PKI,” tuturnya.

Karena itulah ketika pecah prahara 66 Banyuwangi menjadi salah satu kota yang paling rawan dan mencekam. Masing-masing kubu sama-sama kuat sehingga korban dari kedua pihak jatuh tak terelakkan.

“Di dekat sekolah saya waktu itu ada bangunan rumah sakit yang menjadi salah satu rujukan korban jiwa. Beberapa kali dalam sehari kami mendengar suara ribut dari jalanan. Kami semua keluar dan menyaksikan orang-orang yang memanggul tandu berisi jenazah yang kadang-kadang tak lengkap dan jelas berlumuran darah,” kisahnya. Dan saya melihat kengerian itu di matanya.

Shalawat badar digubah pada masa-masa itu. Masa ketika kemanusiaan seperti tak punya nilai. Kesulitan hidup dan keputusasaan membawa banyak orang memilih bujukan utopis partai komunis. “Kalau dicermati benar-benar, kita akan menyadari bahwa beberapa bait dalam syair shalawat badar merujuk pada situasi sosial dan politik pada masa itu,” jelasnya.

Meskipun begitu Pak Syakir menolak betul sebagian opini yang menyatakan bahwa shalawat badar digubah untuk menandingi kepopuleran lagu genjer-genjer yang menjadi tren waktu itu. Memang benar bahwa syair itu banyak dilagukan oleh barisan pemuda dalam upaya untuk menghalau kekerasan massa komunis. Tapi itu dilakukan semata untuk memompa semangat, karena memang syairnya kebetulan cocok untuk itu. “Shalawat badar dan Genjer-genjer tentu saja tidak bisa dibandingkan. Karena, bagaimanapun kandungan nilainya jauh berbeda,” terangnya.

Lepas dari semua itu, Syair Shalawat badar, sebagaimana dikatakan oleh Gus Dur, adalah masterpiece yang menegaskan kejeniusan penggubahnya. Dan kita boleh berharap, kemudian akan lahir Kiai Ali Manshur-Kiai Ali Manshur lain di Negeri ini. (Atk/Latif)

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , ,

Related For Shalawat Badar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *