Shalawat Badar, Hadir di Tengah Pergolakan

Tuesday, April 25th 2017. | Jejak Utama

Shalawat Badar, Hadir di Tengah Pergolakan

 

Tahun 1960an, suasana politik negara bergolak akibat merajalelanya kejahatan Partai Komunis Indonesia (PKI), keadaan semakin mencekam saat komunis membunuh para tokoh bahkan pemuka agama menjadi sasaran mereka. Fitnah PKI meresahkan Indonesia, tidak terlebih Kiai Ali Mansur, cucu KH. Muhammad Shiddiq, Jember dan keponakan KH. Ahmad Qusyairi, pengarang kitab Tanwirul Hija yang disyarahi Ulama terkemuka Mekah, Habib Alawi bin Abbas bin Abdul Aziz al-Maliki al-Hasani, dengan judul Inarotud Duja.

Saat itu, Kiai Ali Manshur menjabat Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi dan pengurus PCNU setempat. Kegelisahan tentang keberadaan PKI yang tidak berpihak kepada NU membuat Kiai Ali berinsiatif menggubah syair Arab (kemahiran Kiai Ali sejak nyantri di Lirboyo Kediri) sebagai sarana bermunajat kepada Allah, meredam konflik dan kekacauan politik.

 

Mimpi bertemu Ahli Badar dan Rasulullah

Ketika negeri kegelisan Kiai Ali memuncak, pada suatu malam beliau bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih-hijau, pada malam yang sama, istri beliau bermimpi bertemu dengan Rasulullah Saw. Keesokan harinya, Kiai Ali menemui Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya. Habib Hadi mengatakan kalau sosok-sosok yang datang di mimpi Kiai Ali adalah para ahli Badar.

Dua mimpi mulia yang terjadi bersamaan dan penjelasan Habib Hadi al Haddar itulah yang meyakinkan beliau untuk menulis syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar. Malam harinya, Kiai Ali menggerakkan penanya untuk menulis karya yang kemudian masyhur dengan nama Sholawat al-Badriyyah atau Shalawat Badar.

 

Sosok Berjubah Putih

Esok hari, Kiai Ali Manshur heran karena orang-orang kampung berduyun-duyun datang ke rumah beliau dengan membawa beras, daging, dan bahan makanan lainnya, layaknya akan mendatangi orang yang punya hajat mantu. Penduduk bercerita, pada waktu pagi buta (subuh) rumah-rumah mereka didatangi orang berjubah putih yang memberitahukan bahwa di rumah Kiai Ali Mansur akan ada kegiatan besar. Mereka diminta membantu. Penduduk datang ke rumah Kiai Ali dengan membawa bantuan sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

“Siapa orang yang berjubah putih itu?” Pertanyaan itu terus mengiang-ngiang dalam benak Kiai Ali Mansur tanpa jawaban. Namun, malam itu banyak orang yang sibuk di dapur seperti aka nada acara penyambutan tamu besar, yang mereka tidak tahu siapa yang datang? Dari mana? Dan dalam rangka apa?. Lebih mengherankan lagi, ada beberapa orang asing ikut membantu persiapan acara tersebut yang kebanyakan penduduk setempat tidak kenal siapa mereka.

 

Tamu dari Jakarta

Pagi-pagi sekali, ada rombongan Habaib berjubah putih-hijau yang dipimpin Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Jakarta mendadak bertamu ke rumah Kia Ali Mansur tanpa ada pemberitahuan. Betapa senang Kiai Ali Mansur, saat kedatangan tamu istimewa yang sangat dihormatinya.

Setelah membicarakan perkembangan PKI, kondisi politik nasional yang semakin tidak kondusif serta keberadaan muslimin Indonesia, Habib Ali Kwitang tiba-tiba bertanya mengenai syair yang ditulis oleh Kiai Ali Manshur. Sudah pasti, Kiai Ali terkejut, sebab Habib Ali Kwitang tahu apa yang dikerjakan semalam, padahal gubahan syair hasil karyanya itu belum disebarkan kepada satu orang pun. Kiai Ali mungkin memaklumi, karomah dari Allah yang ada dalam dunia kewalian, bukanlah perkara aneh dan mengherankan. Apalagi Habib Ali Kwitang terkenal sebagai waliyullah.

Kiai Ali Mansur segera mengambil kertas berisi hasil gubahan syairnya semalam dan membacakannya di hadapan Habaib dengan suara lantang dan merdu (kebetulan Kiai Ali Mansur memiliki suara bagus). Alunan Shalawat Badar didengarkan para Habaib dengan khusyuk dan meneteskan air mata karena haru. Selesai mendengarkan, Habib Ali bangkit dan dan berseru agar Shalawat Badar ini dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI. “Ya akhi, mari kita lawan genjer-genjer PKI itu dengan Shalawat Badar.” Sejak saat itu, Shalawat Badar menjadi masyhur sebagai bacaan warga NU untuk membangkitkan semangat juang melawan PKI.

Beberapa waktu kemudian, Habib Ali bin Abdurahman al Habsy mengundang Kiai Ali Manshur dalam pertemuan Ulama dan Habaib di Kwitang Jakarta, Kiai Ahmad Qusyairi paman Kiai Ali Manshur juga hadir dalam undangan. Dalam pertemuan istimewa itu, Kiai Ali Manshur diminta mengumandangkan Shalawat Badar gubahannya. Maka Shalawat Badar bertambah masyhur dan tersebar luas di tengah-tengah masyarakat, juga menjadi bacaan populer dalam majelis-majelis ta’lim dan kegiatan warga nahdiyin. Shalawat Badar menjadi mars NU pada waktu itu, apalagi Habib Ali bin Abdurahman al Habsy setiap minggu membacakan Shalawat Badar di majelis ta’limnya.

Shalatullah salamullah

Ala thaha rasulilla..

Shalatullah salamullah

Ala yasin habibillah..

Mudah-mudahan Allah mencurahkan pahala sebanyak-banyaknya dan kemuliaan setinggi-tingginya bagi almaghfurlah Kiai Ali Manshur pencipta Shalawat Badar dan kita bisa mengambil ibrah dan barokah beliau. Al fatihah..

 

Sumber : Antologi NU Jilid I. H. Soeleiman Fadeli dan Muhammad Subhan S.Sos, Pengantar KH. Abdul Muhith Muzadi

 

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Shalawat Badar, Hadir di Tengah Pergolakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *