Shalat Tarawih

Thursday, May 17th 2018. | Cerpen

*M. Luthfi Sp

Hari ini adalah ulang tahunku yang ke-20. Kalau dihitung-hitung sudah hampir sembilan tahun aku belajar. Bagiku, Pondok Langitan adalah pesantren kedua setelah dulu sempat mondok di Buntet Cirebon.

Bayangan suasana pondok selalu melintas di pikiranku dengan cepat. Sebab, minggu lalu Aku baru saja di-wisuda. Meskipun kelas tiga MAF adalah jenjang terakhir di Madrasah Al-Falahiyah, akan tetapi santri masih diwajibkan untuk menetap di pondok guna mengaji sekurangnya selama dua tahun.

Bulan Ramadan akan tiba beberapa hari lagi. Alhamdulillah Aku masih diberi nikmat kesehatan bisa berjumpa dengan bulan penuh rahmat. Udara Cirebon pagi ini memang sejuk. Tapi, saat sedang panas-panasnya, tubuhku seperti disengat.

Pagi ini Aku disuguhi teh susu bikinan Ibu. Biasanya Ibu duduk di sampingku, sambil menanyakan semua hal terkait kegiatanku di pondok. Namun, kali ini berbeda. Ibu langsung pergi ke pasar untuk berbelanja.

Kalau duduk merenung sendiri, lama-lama aku bosan. Sampai-sampai keningku mengerut, teringat perintah Ayah kemarin.

“Bil, sini nak. Ayah mau bicara.”

“Iya Ayah, sebentar.” Aku segera berdiri seraya membanting ponsel ke tempat tidur. Aduuh, padahal sedikit lagi menang. Udah game gak bisa di pause lagi. Semoga saja aku gak dilaporin AFK.

“Ramadan depan Nabil siap jadi imam di mushalla al-Huda desa Karangan?”

Deg! Jadi imam? Apa aku tidak salah dengar?

Ayah bertanya serius tentang kesiapanku menjadi imam. Mungkin ini waktunya aku harus terjun ke masyarakat. Kata Ayah, “Ya memang kamu ini sudah waktunya kok.”

“Insyaallah Ayah, akan Nabil persiapkan dari sekarang.” Ayah pun mengangguk puas mendengar jawaban singkat itu. Aku dinilai sudah siap menerima “tugas” baru. Padahal, sebenarnya aku merasa belum mampu mengembannya, bahkan ingin sekali menolaknya.

“Ayah takut mushalla itu diambil alih oleh as-Sunah. Lebih baik Nabil saja yang jadi imam shalat Tarawih selama Ramadan di sana. Bilalnya biar Labib saja.” Tambah Ayah sambil memegang pundakku. Dan pandanganku masih ke bawah.

Labib adalah sepupuku yang mengaji di rumahku. Dia masih kelas tiga SMP. Ayah sangat khawatir pada perubahan zaman. Sebab, sudah ada tiga mushalla lebih di kampung yang diambil alih oleh kalangan non-NU. Malah di antara mereka ada yang genap mendirikan madrasah.

* * *

Malam pertama bulan Ramadan, waktu Isya’ telah tiba. Sengaja aku datang lebih awal di mushalla guna memberi teladan kepada masyarakat. Dari ujung pintu, terlihat bapak-bapak sibuk menolehkan pandangannya. Seolah sedang mencari seseorang.

“Punten, Bapak cari siapa yah?” Aku beranikan diri untuk bertanya.

“Imame goning beli teka-teka, biasane sih Mang Shodiq[1]. Kasihan warga sudah lama menunggu.” Kata Bapak itu dengan menoleh ke belakang, dan sesekali menengok ke arah kanan dan kiri.

“Kalau begitu biar saya aja boleh?”

“Oh iya, mangga atuh.” Padahal, bulu kudukku berdiri. Tapi, aku paksakan diri demi memenuhi perintah sang Ayah. Aku merasa khawatir, Ayah memperhatikanku entah dari sudut mushalla atau arah mana.

Bismillahirrohmanirrohim. Pada awal takbir sengaja kukencangkan suara. Dan akhirnya Aku berhasil mengusir kecemasan hingga salam. Tak ada perasaan grogi sama sekali. Begitu juga ketika Aku melantunkan surat. “Yes…” ujarku dalam hati.

Hingga akhir rakaat Tarawih tak ada kesalahan yang kuperbuat. Semuanya berjalan lancar sebagaimana imam lainnya. Hanya saja saat membaca doa Tarawih, Aku terpaksa melihat tulisan karena memang belum menghafalnya.

Tinggal tiga rakaat lagi, tiba waktunya menunaikan shalat Witir. Dua rakaat awal selesai. Masuk satu rakaat terakhir, ruku, i’tidal. Deg! Keningku mengerut, “Loh, kok seperti ada yang salah tadi baca suratnya.” Saat bersujud hingga duduk takhiyat, pikiranku masih melayang. Setelah mengucap salam, Aku menoleh ke belakang. Sepertinya semua jamaah tidak menyadari kesalahanku.

Sebelum ber-mushofahah, pandangan kuarahkan kepada para jama’ah, guna meminta maaf atas kesalahan saat membaca surat. Mereka diam seribu bahasa. Rupanya Labib saja yang tertawa. Pasti hanya dia yang mengetahui letak kesalahan imam.

“Bli papa lah, kadar geh langka sing paham[2].” Sontak muncul suara dari pojok shaf depan. Ternyata yang berkata demikian adalah Mang Idin, sang komandan laut desa karangan. Baru setelah mendengar suara Mang Idin, serentak para jamaah tertawa. Aku baru sadar kalau di daerah ini jarang ada yang bisa mengaji. Dan akhirnya aku pun ikut tertawa, mengimbangi suara gaduh para jama’ah.

Saat perjalanan pulang, Labib terus menertawaiku. “Tadi grogi yah, makanya kok ketuker bacaannya. Hahaha…” Dari semua anak yang mengaji di rumahku hanya Labib yang bacaannya paling lancar dan bagus. Sampai-sampai Ayah sering memuji kecerdasannya.

[1] Imamnya kok belum datang-datang, biasanya sih Ust. Shodiq.

[2] “Tidak apa-apa, lagian tidak ada yang paham.”

Comments

comments

tags: , , , ,

Related For Shalat Tarawih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *