Setitik Kapur putih

Wednesday, October 7th 2015. | Cerpen

images1 

21.00 senin malam

Mesin-mesin pabrik itu telah dimatikan, di pabrik kapur yang berdebu itu, ia dibuat, berdiri berjajar-jajar, bersama kapur-kapur lainya, menunggu esok pagi, siap untuk diperjualbelikan.

Pagi, di saat ufuk menapakkan senyumnya, burung-burung berterbangan mencari pangan, ayam-ayam sama berkokok, matahari menampakkan keangkuhan sinarnya, gambaran pagi yang indah, seindah senyuman membuka toko di pagi hari, dengan harapan mendapatkan laba yang lebih dari kemarin. Dan benar baru beberapa saat, seorang anak berambut ikal, dengan pakaian seragam merah putihnya, telah datang untuk mencari sebuah kapur, murah memang, tapi bagi si murid dan si penjual, kapur itu bukanlah hal kecil.

Di kelas yang terkesan kumuh, hampir roboh, dengan genteng-gentengnya yang sudah tak rapat, memberikan celah pada air saat hujan turun, dan memberikan cahaya saat mentari bersinar menembus celah-celahnya.

Anak-anak itu sama bermain, tertawa, bercanda, menunggu jam masuk sekolah, sama saling berlemparan kapur-kapur kecil yang sengaja di patahkan, hanya untuk dijadikan peluru-peluru nuklir mereka, dengan efek suara yang tak kalah serunya, sebuah kapur melesat “de suung” menembus beberapa gerombolan anak, berbelok dan seakan terkontrol, tepat mengenai sasaran, namun sasarannya sungguh sial, karena kapur itu tepat memasuki lubang hidungnya, demi menuruti rasa takutnya, anak itu menangis lamban dan menjadi sekencang-kencangnya saat ia mencoba untuk mengambil kapur itu, dan tak bisa, volume menangisnya pun bertambah menjadi power fuul, saat cairan merah sedikit keluar dari hudungnya.

.

Orang tuanya pun datang, dengan baju yang masih kotor karena lumpur, bergegas membawanya ke klinik kesehatan terdekat, tanpa berpikir, karena mendapat saran dari sang guru yang juga ikut khawatir, saat itu, sampai di sana tanpa perlu waktu lama, dan dengan tenang tentunya, sang dokter dengan alat yang menakutkan menurut si orang tua, mengambil kapur itu dengan mudah, sontak orang tua itu pun bahagia, senang, sampai mereka berdua mengetahui harga yang harus dibayar 25 ribu, maka menjadi bingung, heran, dan pasrah.

“gimana ini pak?” kata sang ibu panik

“gak tau’e buk, gak nyangka habis segitu” jawab bapak, yang lebih panik sebelum kapur itu keluar dari hidung anaknya

“ya udah kalo gitu bapak pergi aja nyari pinjaman” saran sang ibu, pada lelaki yang sudah kesal, diambilnya kapur yang ada pada jangkauannya, ingin sekali diremasnya tapi demi mengingat harga 25 ribu untuk mengambilnya diurungkanlah niat itu.

Sudah berjam-jam mencari pinjaman, berkeliling keteman-teman dekat, tapi ia tak juga dapat uang, malah keluh kesah serupa yang ia dapat, belum panenlah, SPP anak yang belum dibayarlah, dan lain sebagainya, yang membuatnya semakin kesal, dengan hati yang sudah mentok, dibuanglah kapur itu sekencang-kencangnya, melesat ketengah jalan, dan tanpa sengaja memasuki sebuah mobil, dan bersemayam di saku sang pemilik besi berroda empat itu.

Siang itu pebisnis ini punya janji dengan kawan lamanya, di sebuah restauran terkenal di ibu kota, jauh dari si orang desa yang susah mencari hutangan, barang sekedar 25 ribu saja, ia melaju kencang, dengan senyum yang mengembang, gembira, berharap teman lama ini bisa membawa keberuntung pada bisnisnya, sontak saja, karena lama tak bertemu, mereka senang sekali,tertawa tebahak-bahak, berjabat tangan, sampai berpelukan, makanan terenak yang termahal pun dipesan oleh mereka, minuman yang paling mewah kelas-kelas bintang lima, dan santapan-santapan lain yang sebenarnya tidak perlu ada.

            Selang beberapa saat, makanan yang dipesan pun telah siap, menunda pembicaraan dua teman yan memang terlihat kompak, tapi saat mulai disantapnya makanan itu,

“duih, masakan apa ini ! Pelayan ! sini !, kan sudah saya bilang, jangan tambahkan garam di makanan saya” bentak pebisnis itu tanpa melihat sekeliling, pada pelayan yang hanya menunduk memikirkan nasibnya yang bisa saja dipecat dengan mudah, sang menejer yang tanggap langsung mendatangi meminta maaf, dan tentu dengan mengganti makanan yang diinginkan konsumennya.

Baru sedikit yang dimakan, minumanya pun belum sempat terkena bibir, tapi dua sahabat itu sudah ingin pergi

“hah, hilang sudah, nafsu makanku” kata lelaki yang di sakunya terdapat secuil kapur,

“ya, aku juga nih, pindah tempat yuk” temannya menimpali

Di letakkannya uang 250 ribu dimeja, sebagaimana ang tertulis di bon yang ada, meninggalkan makanan yang hampir masih utuh, tanpa memikirkan seberapa besar uang yang ia tinggalkan,  bagi orang lain, dan seberapa susahnya  mendapatkan uang sebanyak itu.

            Gemiricik kunci yang diletakkan di saku, mengiringi kepergian mereka berdua, dengan tergesa, ia mengambil kunci mobil dan mendapati setitik kapur putih, tersangkut disela-sela gantungan kunci dari kulit, yang mengkilat menunjukkan seberapa mahal harganya, diambil dan dibuangnya kapur itu yang sekarang bertemankan sampah-sampah makanan dari restauran, kapur itu terdiam memikirkan perbedaan yang sangat kental dari kedua orang yang temuinya hari ini.

            Tanpa menunggu lama sampah–sampah itu sudah menumpuk, sesak menjejali tempat bundar yang panjang di depan restaurant, tanpa tunggu lama petugas kebersihan menindaknya, dibuangnya sampah-sampah itu bersama dengan kapur putih yang masih terdiam memikirkan apakah yang akan ia saksikan lagi kali ini.

Di tempat yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan, mobil sampah itu berhenti, petugas dengan hidung dan mulut yang sudah tertutup masker, membuang satu persatu bungkusan sampah yang ada, dari kejauhan sudah jelas seberapa bau tempat ini, sampah-sampah makanan, minuman, barang-barang plastik, dan lain-lainya menumpuk, mebusuk di sini, tak layak jika ada orang yang hidup di tempat seperti ini, kendati demikian kapur itu sekali lagi menjadi saksi.

Di sana dibalik setumpukkan sampah, seorang ibu menangis memanggil anaknya, tangisan itu, bercampur gembira,kecewa dan kesedihan yang mendalam, ia tak menghiraukan orang-orang lain yang ada di sana, yang saling berebutan, santapan khusus sehari-hari mereka, ya, tumpukan sampah baru itu adalah menu makanan special bagi mereka, masakan dari warteg-warteg, restaurant-restauran dan rumah makan lainya yang tidak mungkin bisa mereka singgahi, bahkan seumur hidup, bisa mereka santap bersama keluarga di sini, dengan tanpa harus membayar.

Dan wanita itu masih saja menangis, merebahkan sang anak dipangkuannya, satu jam lalu anak itu masih menangis, menderita menahan rasa laparnya yang tak tertahankan, sedang sang ibu tanpa bisa berbuat apa-apa hanya bisa menenangkannya.

“Sabar nak,, sebentar lagi truk sampah pasti akan datang, nanti kita cari makanan yang paling kau sukai, seperti yang kau lihat di jalan-jalan, ya nak, sabar ya,,” sambil tak bisa menahan tangisnya hanya kalimat itu yang diulang-ulang oleh sang ibu, batinnya berpikir, seandainya ada yang bisa ia mintai pertolongan, ia mulai ragu apakah tuhan benar-benar ada, dan bisa memberi pertolongan pada hambanya yang sedang merasa kesulitan, apa tuhan hanya akan datang saat ia mengambil nyawa seseorang.

Tangisan anak itu sedikit-dikit mulai berhenti, melamban dan hilang, bukan karena anak itu mulai sabar karena kata-kata ibunya, tapi karena Izroil-lah yang sudah tak sabar mendengar anak sekecil itu, yang tak berdosa, menangis sedari tadi karena tak sesuap pun makanan masuk kemulutnya, ia akan dibawa olehnya kesurga, disediakannya makanan-makanan ternikmat yang belum pernah ada.

Dengan tangan melambai penuh kasih sayang, Izroil mengajak anak itu, mengulurkan tangannya dan merangkul tubuh kecilnya dan dengan perlahan, dibawanya terbang dan menghilang.

Ibu itu tersenyum, baru saja ia berdo’a agar sang anak sabar, dan ia langsung terdiam, tanpa curiga ada sesuatu yang terjadi pada anaknya, hingga deru suara truk sampah datang, ia baru menyadari bahwa nyawa anaknya telah hilang. Ia menangis sejadi-jadinya dan mengulang lagi janji-janji yang sudah disebutkan, ia sedih, bingung, kecewa, bagaimana mungkin saat makanan yang dinanti-nanti dating, justru saat itulah sang anak dibawa menghilang, dan ia masih menangis, dan semakin tak percaya tentang adanya tuhan.

Demi mengetahui ia telah kehilangan anaknya, orang-orang berdatangan berusaha untuk menenangkan hatinya dan agar ia mau turut memikirkan tubuhnya yang juga lemas karena belum makan, mereka membawakannya makanan yang mereka ambil dari truk tadi, dengan berurai air mata ia memakan makannannya, sambil berkata “lihatlah nak, ibumu sekarang telah makan, tenanglah kau disana, bersama malaikat-malaikat tuhan”.

Dengan tanpa air sabun, dan wewangian- wewangian lainnya anak itu dimandikan, dan kain kafan seadanya tak lupa dengan tambalan-tambalan, dan di tanah yang memang sebelumnya tak pernah dipersiapkan untuk penguburan ia di makamkan, dengan patokan batu besar yang susah untuk diukir sebuah nama, ia ditandai dengan batu itu.

Wanita itu masih menangis berurai air mata, ia berkeliling mencari sesuatu, barang kali ada alat yang bisa digunakan untuk menggoreskan nama anaknya, dan ia melihat sebuah kapur, setitik kapur putih tergeletak, dengan sedikit, noda darah, dan entah warna apa, ia memungutnya, gembira nama anaknya bisa tertuliskan walau hanya dengan setitik kapur.

  1. 00 selasaa malam

Tergoreslah sebuah nama dari kapur itu, habis tak tersisa, walau hanya utuh kurang dari 24 jam, kapur itu telah melihat hampir semua kenestapaan dunia, tangis, angkuh, sombong, kesedihan dan ketidakmampuan. Ia saksikan sendiri, dan kini ia menjadi tanda dari akhir sebuah nama.

  1. 00 selasa malam

Wanita itu kini telah tertidur karena tangis, di gubuk yang tak layak, tanpa ditemani anaknya, seperti malam-malam sebelumnya, kesedihannya telah mengundang mendung, dan hujan deras pun turun melupkan semua kekecewaannya, dan di batu yang menancap, kapur itu mulai tergerus oleh hujan, menyatu dengan air, mengalir menuju sungai, kini ia akan memulai perjalanan baru bersama air, melihat kehidupan-kehidupan manusia lainnya diseluruh dunia.

 

Senin 17 Desember 2012

By : Sif Alharis

 

Comments

comments

tags: , , , ,

Related For Setitik Kapur putih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *