Sentimentalitas dalam Tradisi Mudik

Saturday, September 1st 2018. | Khazanah

Menjelang Lebaran, jalan raya yang menjadi penghubung kota-kota besar dipenuhi dengan berbagai jenis kendaraan. Begitu padatnya arus lalu lintas serta kemacetan di sejumlah titik menandakan kuatnya hasrat para perantau untuk pulang ke kampung halaman. Dengan menengok tanah kelahiran, mereka ingin merayakan hari kemenangan bersama orang-orang tercinta. Tak berlebihan apabila fenomena mudik sebelum Idul Fitri menjadi semacam ritual yang selalu berulang.

Sebagaimana terjadi di kawasan-kawasan Asia lainnya, jutaan warga Indonesia bergerak penuh antusias dari pusat-pusat kota menuju wilayah perdesaan atau kota-kota yang lebih kecil. Di sana, mereka dahulu bermula atau di lokasi tujuan mudik itulah tempat para tetua bermukim. Aktivitas mudik menjelang Lebaran atau lainnya menyimpan multi makna dengan pemeliharaan nilal-nilai religius dan kemanusiaan sebagai salah satu fungsinya. Tradisi ini mencerminkan etos manusia yang senantiasa merindukan asal-muasal ia dilahirkan serta tempat bermain sewaktu kecil yang syarat kenangan (Abdul Munir Mulkhan, 2007: 269).

Nostalgia

Mudik menjadi aktivitas tahunan yang menyimpan beragam interpretasi atau pemaknaan. Merujuk buku Manusia al Quran: Jalan Ketiga Religiositas di Indonesia, tradisi mudik mencerminkan sebuah konsep mengenai sangkan paraning dumadi (bahasa Jawa) atau asal-muasal kejadian manusia. Dalam perjalanannya, konsep tersebut bisa dikembangkan menjadi manunggaling kawula-Gusti (bahasa Jawa) yang selain berarti wihdah al-wujûd atau kesatuan manusia dan alam dengan Tuhan, juga bermakna kesatuan rakyat dengan pemimpin atau penguasa. Sayangnya, beragam konsep dan kearifan hidup di balik tradisi mudik kurang mampu menarik perhatian kaum pemudik, penguasa, atau elite keagamaan.

Bagaimanapun, berkelana selama sekian tahun di tanah rantau menjadikan seseorang rindu dengan tempat di mana ia tumbuh dan dibesarkan. Di sinilah mudik memuat perasaan terdalam serta sentimentalitas manusia. Buku Indahnya Mudik Lebaran mencatat bahwa dengan mudik, seseorang bisa leluasa bernostalgia, menapaktilasi waktu remaja di desa. Tradisi ini semacam “rekreasi emosional” yang menembus masa silam dengan kenangan indah nan melankolis setelah begitu lama berselang. Itulah mengapa, besarnya arus dan gelombang mudik genap memantik perhatian pemerintah untuk memfasilitasi pesta budaya ini dengan membangun jalur darat serta melakukan perbaikan moda transportasi laut dan udara. Tak lupa pula pengerahan polisi guna mengawal keamanan dan kenyamanan perjalanan mudik.

Homo Festivus

Sumber yang sama menyebutkan sebuah ungkapan klasik “manusia adalah homo festivus” atau makhluk hidup yang menyukai bermacam festival, termasuk bercorak keagamaan. Setiap festival memuat pola ajeg yang dilakukan secara masif pada momen-momen tertentu serta beramai-ramai dalam suasana kegembiraan. Ada pula pendapat yang mengatakan “manusia adalah makhluk peziarah” (wanderer or traveler being). Manusia merasa senang ketika menempuh perjalanan atau rekreasi.

Mudik juga menjadi sarana kaum urban melepaskan diri dari rutinitas. Mereka ingin membebaskan diri dari hal-ihwal ‘berbau’ perkotaan. Didera kesibukan yang luar biasa, mereka memerlukan medium ampuh penghilang rasa bosan dan penat. Dalam konteks inilah, mudik menemukan relevansi dan urgensinya. Berkunjung ke desa atau kampung asal menjadikan pikiran mereka lebih segar. Cara ini antara lain ditempuh guna memompa motivasi dan semangat hidup saat mereka kembali ke kantong-kantong urban.

Comments

comments

tags: , , , , , ,

Related For Sentimentalitas dalam Tradisi Mudik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *