Semut-Semut Nekat

Saturday, May 6th 2017. | Refleksi

Sebuah peribahasa mengatakan bahwa, setiap ada gula maka selalu ada semut. Peribasa itu menjelaskan bahwa di mana saja ada sumber-sumber rizki atau potensi ekonomi, maka selalu ada orang yang mendatanginya. Rizki atau makanan selalu mengundang siapapun yang menyukai, sekalipun harus menempuh cara, rintangan, dan resiko yang berat. Untuk mendapatkan rizki, kekayaan, atau sekedar makanan, maka siapapun berani menanggung resiko, tidak terkecuali semut.

Suatu saat, saya melihat botol berisi madu. Agar tidak dikerumuni semut, botol itu diletakkan di atas piring yang diisi dengan air. Maksudnbya agar semut-semut yang biasanya akan mengerumuni madu itu terhalang oleh air, sehingga tidak akan mungkin mampu nyampai di botol itu. Itulah cara sederhana para ibu mengamankan madunya dari kerumunan semut.
Usaha sederhana mengamankan madu dimaksud bukan berarti ingin mengembangkan sifat bakhil, hingga semut pun tidak boleh ikut menikmatinya. Siapapun biasanya tidak suka meminum madu yang di dalamnya terdapat semut-semut yang sudah mati hingga kelihatan kotor. Dengan mengamankannya seperti itu, madu akan tetap tampak bersih.

Tapi oleh karena semut pun tatkala ada makanan yang disukai juga punya naluri nekat, maka tidak sedikit semut yang berusaha menyeberang di atas air pembatas antara botol dan bibir piring dimaksud. Akhirnya, semut-semut banyak yang mati. Mereka tidak berhasil menyeberang, malah binatang yang menyukai sesuatu yang terasa manis itu justru mati percuma. Binatang itu sekedar mencari makanan saja rela berjuang hingga mengobankan nyawanya sendiri.

Berkali-kali, saya menyaksikan perbuatan tolol para semut itu. Mereka terlalu berani menanggung resiko yang sedemikian berat hanya untuk memenuhi keinginannya ikut menikmati madu yang tidak diikhlaskan oleh pemiliknya. Padahal selain madu di dalam botol yang sudah diamankan oleh pemiliknya itu, sedemikian banyak makanan yang terserak-serak di temat lain yang bisa diambil secara bebas. Semuit-semut itu memang nekat menganiaya dirinya sendiri hingga mati.

Apa yang dilakukan oleh semut-semut tolol itu, ternyata juga dilakukan oleh manusia rakus. Mereka sudah menduduki posisi penting, yaitu ada yang menjadi pejabat di kalangan eksekutif, seperti sebagai wali kota, bupati, gubernur, dan bahkan juga menteri. Selain itu juga juga ada yang di legislatif, menjadi anggota DPR atau DPRD. Bahkan, ada juga yang duduk di lembaga yudikatif, seperti menjadi jaksa, hakim, mahkamah konstitusi, dan lain-lain. Sekalipun gaji dari menduduki jabatan itu sudah tinggi, namun di antara mereka juga masih ada yang korupsi. Bahkan, mereka lebih nekat dibanding semut.

Mungkin semut tidak mengtahui bahwa tatkala menyeberang untuk menuju ke botol di atas piring sangat berbahaya. Bila nekat maka akan mati. Maklum semut tidak pernah belajar dari pengalaman. Binatang biasanya hanya mengandalkan nalurinya. Berbeda dengan semut-semut itu, manusia memiliki akal, hati, dan bahkan juga agama. Selain itu juga dididik hingga sedemikian lama, semestinya t mereka itu paham benar terhadap resiko yang sedemikian besar tatkala harus korupsi. Tetapi tokh, resiko itu tidak menjadikan yang bersangkutan takut hingga berusaha menjauh dari tindakan yang membahayakan dirinya itu.

Memang, kadang manusia sedemikian bodoh. Kenekatan dan ketololan semut masih diungguli oleh ketololan dan sekaligus kenekatan manusia. Dikisahkan dalam kitab suci, bahwa dalam hal-hal tertentu manusia bisa jadi sama dengan binatang, bahkan lebih hina lagi. Mereka mau mengorbankan dirinya hanya untuk mendapatkan bekal hidup yang pada hakekatnya tidak seberapa besar nilainya dibanding harga diri atau martabat yang seharusnya selalu dijaga. Wallahu a�lam.

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , ,

Related For Semut-Semut Nekat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *