Semut; Kecil Bentuknya Besar Jiwanya

Wednesday, January 6th 2016. | Hadist, Qur'an

 

Ants

Manusia adalah mahluk yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk lain yang telah diciptakan oleh Allah SWT. Secara biologis manusia memang layaknya binatang. Namun ada satu hal yang membedakan, yaitu akal. Jika akal manusia bisa digunakan dengan baik dan benar, maka manusia akan menjelma seperti malaikat tanpa sayap. Tapi jika fungsi akal tidaklah digunakan dengan baik dan benar, maka manusia tak ubahnya seekor yang binatang yang liar dan tidak bermoral.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa manusia diciptakan sebagai mahluk sosial. Tidak mungkin manusia itu untuk hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Jadi setiap kelompok manusia dalam ruang lingkup suatu masyarakat itu harus bisa hidup rukun berdampingan dan saling menghargai antar sesama. Terlebih lagi jika ruang lingkup masyarakat tersebut adalah masyarakat muslim. Tentunya sebuah tali persaudaraan itu harusnya terjalin lebih erat dan kuat, sebagaimana yag telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al Hujrat  ayat 10 :

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”.

Namun, Sudahkah semua itu dijalankan oleh umat manusia sebagai mahluk sosial yang berakal? Melihat semua kenyataan yang ada pada saat ini. Dimana banyak manusia yang hanya mengeluh menyalahkan takdir Tuhan. Banyak manusia yang hidup saling menghujat dan saling menyalahkan. Banyak manusia yang bersikap egois lupa akan diri sendiri, dan merasa sombong dengan apa yang telah ia punya. Dengan sikap seperti ini, masih pantaskah manusia dianggap sebagai mahluk yang bermoral? Masih pantaskah manusia menyandang gelar sebagai mahluk yang paling sempurna? Tidak malukh manusia dengan semut-semut kecil yang selalu bekerja keras, hidup damai berdampingan, dan selalu rendah hati dengan sesama maupun dengan Sang Pencipta. Sepertinya manusia pada zaman sekarang ini memang harus banyak belajar kepada binatang kecil berwarna hitam ini.

Semut adalah binatang yang sangat kecil ukurannya dibandingkan dengan binatang lainnya, apalagi manusia. Namun jika mau meneliti lebih dalam, semut memiliki sikap-sikap teladan yang semestinya dimiliki oleh manusia.  Sikap yang paling kentara adalah sikap solidaritas dan kerja keras yang amat tinggi. Sering dijumpai bahwa semut itu selalu hidup bersama bersama dalam sebuah kolonial. Tak akan pernah ada semut yang hidup sendiri dengan membangun rumah sendiri, mencari makan sendiri, dan mencari minum sendiri. Semut-semut ini selalu hidup bersama dalam sebuah koloni yang solid.

071101_semut-rang2

Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh semut pasti dilakukan dengan bersama-sama. Mereka selalu bekerja sama dalam banyak hal pekerjaan, seperti mencari makan, membangun rumah, danm banyak hal lainnya. Hasilnya pun pada akhirnya nanti selalu dinikmati bersama-sama dan sama rata. Rasa kepedulian mereka terhadap sesama pun sangatlah luar biasa. Jika ada salah seekor semut yang kesulitan membawa beban yang terlalu berat, maka semut yang lainnya pun pasti akan datang dan turut membantu. Mereka benar-benar menerapkan apa yang telah di Firmankan Allah dalam al-Qur’an surat al-Maidah:

“Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa. Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.

Dalam keadaan bekerja. Semut-semut ini selalu menancapkan dalam hatinya sikap rendah hati dan tidak sombong. Tidak ada semut yang berlagak sok kuat dengan tidak mau menerima bantuan yang lain. Jika ada semut yang merasa tidak kuat mengangkat sebuah beban dia akan dengan senang hati menerima bantuan yang lain. Jika ada semut lain yang terlihat tidak kuat mengangkat semua beban, maka akan dengan senang hati mereka saling membantu. Tidak ada semut yang bersikap sok bisa mengerjakan segala sesuatu sendiri. Nabi Muhammad SAW menerangkan dalam sebuah hadits:

 “Allah tidak menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seorang hamba bersikap tawadhu‘ kecuali Allah pasti mengangkat (derajatnya).” (HR Muslim)

Selain itu, jika diperhatikan lebih jeli. Setiap ada semut yang berjalan dari arah yang berlawanan dan saling berpapasan, maka mereka pasti akan berhenti sejenak, seolah saling mengucap salam dan saling bertutur sapa. Sikap respect dan saling menghargai yang tertanam dalam diri mereka sangatlah luar biasa.

Shahih Bukhari 1164: dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu; menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin.

Semut selalu memiliki inovasi tersendiri dalam melakukan setiap pekerjaannya. Mereka selalu bekerja dengan gotong royong agar setiap pekerjaan mereka bisa terselesaikan dengan efektif dan efisien. Jika ada beban yang terlalu berat untuk diangkat sendirian, maka tanpa dikomando sekalipun mereka akan mengerumuninya dan mengangkatnya bersama-sama.

images (3)

Jika dinalar secara akal. Apa yang mereka lakukan terlintas biasa-biasa saja. Tapi untuk standard binatang yang tidak berakal, apa yang mereka lakukan sangatlah inovatif sekali. Bandingkan dengan manusia yang berakal sekalipun tekadang masih belum bisa melakukan hal-hal yang terlihat sepele ini. Lalu dimana fungsi akal mereka? Allah berfirman dalam surat al- Ghaasyiyah ayat 21:

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.”

Selain itu, semut juga tidak pernah langsung menghabiskan setiap makanan yang dapat mereka kumpulkan pada hari itu. Sering mereka itu menimbun makanan-makanan mereka untuk suatu saat jika mereka butuhkan secara mendadak, dan mereka juga tidak suka berboros-boros dengan apa yang mereka punya. Mereka benar-benar memiliki manajemen yang baik sebagai seekor binatang. Bandingkan dengan manusia yang terkadang sering kali memboroskan harta kekayaan mereka hingga terbuang sia-sia. Allah berfirman dalam surat Al Furqon ayat 67

“ Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”

Semut dikenal juga sebagai binatang pekerja keras. Mereka selalu mengerjakan setiap tugas mereka dengan tabah dan istiqomah. Sangat sering mereka mengangkat beban yang berat dan besarnya melebihi berlipat-lipat dari berat dan besar tubuhnya sendiri.

Tapi, dengan komitmen dan rasa tanggung jawab yang tinggi mereka selalu menyelesaikan setiap pekerjaannya dengan baik. Karena insting mereka mengatakan bahwa mereka pasti bisa menyelesaikan setiap pekerjaan yang telah diembankan pada mereka. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 286:  “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Semut hanyalah mahluk super kecil yang tidak memiliki akal layaknya binatang pada umumnya. Namun sebagai binatang yang kecil dan tak berakal, banyak sekali hal-hal besar yang telah menjadi sikap dasar setiap semut yang sudah selayaknya itu bisa dicontoh dan diterapkan oleh manusia yang berakal.  Karena sebagai mahluk yang berakal, banyak sekali manusia yang belum bisa menerapkan sikap-sikap seperti ini dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Sikap sosialisme yang tinggi.
  2. Sikap peduli antar sesama.
  3. Sikap saling respek dan menghargai.
  4. Sikap cerdas dan inovatif.
  5. Sikap berhemat dan tidak boros.
  6. Sikap rendah hati dalam setiap hal.
  7. Sikap bekerja dengan keras.
  8. Sikap komitmen dan tanggung jawab.
  9. Sikap sabar dan tabah.
  10. Sikap optimis yang tinggi.

Secara garis besar. Sebagai mahluk yang berakal, manusia dituntut untuk memiliki jiwa sosialis yang tinggi, punya optimisme yang tinggi dalam bekerja, dan sifat rendah hati. Karena manusia zaman sekarang ini cenderung memiliki sifat egoisme yang tinggi hingga menjadi manusia yang acuh tak acuh terhadap orang lain. Bahkan sesama muslimpun seolah acuh tak acuh. Nah, yang lebih parah lagi saling menyalahkan dan saling bermusuhan.

Banyak pula manusia pada zaman ini yang hidupnya hanya bisa mengeluh menyalahkan takdir Tuhan. Mereka hanya bisa menyalahkan takdir tanpa pernah sekalipun mau untuk bekerja keras merubah nasibnya. Segala sesuatu yang telah dilakukan oleh manusia itu semua harus disertai dengan sikap rendah hati dan tidak sombong.

Karena itulah dasar untuk menjadi insan yang baik. Dalam tidak sosial manusia itu harus memiliki sifat rendah hati agar tidak muncul sifat egois dan sadar bahwa manusia itu butuh pada yang lainnya. Dalam bekerjapun juga harus memilki sikap rendah hati agar tidak muncul rasa sombong dan sadar bahwa Allah-lah yang memiliki kuasa atas segala-galanya.

Andai semua manusia itu bisa menggunakan akalnya denganm baik dan benar. Setiap dari mereka pasti akan mengerti bahwa apa yang terlihat kecil dan sepele yang ada disekitar kita itu memiliki hikmah tersendiri dalam penciptaanya. Semua itu butuh tela’ah yang baik dari setiap individu manusia. Allah berfirman dalam surat al-Ghaasyiyah ayat 17: “Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana unta diciptakan.”

Maka dari tela’ah inilah nantinya akan muncul rasa syukur dalam diri manusia atas setiap yang telah diciptakan-Nya. Bahwa Allah tidaklah pernah menciptakan produk gagal. Allah tidaklah pernah menciptakan hal yang sia-sia. Setiap apa yang diciptakan-Nya pasti mengandung hikmah yang tersirat didalamnya.

 

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Semut; Kecil Bentuknya Besar Jiwanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *