Secarik Catatan Arsitektur Masjid Al-Aqsha

Friday, April 6th 2018. | Ziarah

Masjid al-Aqsha adalah salah satu tempat suci agama Islam yang terletak di kota lama Yerussalem. Tempat tersebut sering dikenal oleh umat Islam dengan nama al-Haram asy-Syarif atau tanah suci yang mulia. Tempat ini pula dikenal oleh umat Yahudi dan Kristen sebagai Bait Suci.  Seperti firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam surah al-Isra’ ayat 1 yang berarti “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa Masjid al-Aqsha juga dikenal sebagai tempat suci oleh umat Islam setelah Makkah dan Madinah.

Mulanya, kitab-kitab hadist menjelaskan bahwasanya Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam memerintahkan atau mengajarkan kepada umat Islam agar berkiblat ke arah masjid al-Aqsha (Baitul Maqdis) hingga 17 bulan pasca hijrah ke Madinah. Setelah Allah Subhanahu Wata’ala dalam surah al-Baqarah ayat 144 memerintahkan agar kiblat umat Islam dipindahkan ke Ka’bah di Makkah dan dimanapun umat Islam berada jika ingin melakukan sholat hendaknya menghadapkan arahnya ke Ka’bah. Dan hal tersebut berlaku hingga sekarang sampai hari kiamat nanti.

Masjid al-Aqsha mulanya hanyalah tempat peribadatan kecil yang didirikan oleh Umar bin Khattab, tetapi telah diperbaiki dan dibangun kembali oleh Khalifah Umayyah Abdul Malik dan diselesaikan oleh putranya, al-Walid pada tahun 705 M. Masjid al-Aqsha pernah mengalami beberapa kerusakan akibat gempa bumi diantaranya pada tahun 746. Gemba tersebut mengakibatkan hancurnya masjid al-Aqsha secara keseluruhan dan dibangun kembali pada masa Khalifah Abbasiyah al-Mansur pada tahun 754 dan dikembangkan kembali oleh penggantinya al-Mahdi pada tahun 780. Kemudian terjadi lagi gempa bumi di tahun 1033 yang mengakibatkan hancurnya sebagian besar masjid al-Aqsha. Namun, dua tahun kemudian Khalifah Fatimiyyah Ali az-Zahir membangun dan merenovasi kembali masjid tersebut yang hingga saat ini masih bisa dinikmati. Renovasi antara lain adalah penambahan kubah, mimbar, menara dan interior bangunan.

Kubah yang berada di Masjid al-Aqsha sangat berbeda dengan kubah batu yang mencerminkan arsitektur Romawi Timur klasik. Kubah tersebut menunjukkan arsitektur Islam awal. Kubah yang asli dibangun oleh Abdul Malik bin Marwan, namun sekarang sudah tidak ada lagi sisa-sisa dari kubah tersebut. Bentuk kubah yang ada saat ini adalah bentukan dari Ali az-Zahir dan terbuat dari kayu yang disepuh dengan enamel timah. Pada tahun 1969 kubah tersebut dibangun kembali dengan menggunakan beton dan dilapisi dengan aluminium yang diadonisasi sebagai ganti dari bentuk aslinya yaitu lapisan enamel timah yang berusuk. Pada tahun 1963 alumunium yang menutupi bagian luar diganti dengan timah untuk menyesuaikan dengan desain asli dari az-Zahir.

Fasad atau bagian depan masjid tersebut dibangun pada tahun 1065 M atas perintah dari khalifah Fatimiyyah al-Mustanshir. Di bagian muka masjid terdapat bangunan pagar yang berupa lorong-lorong beratap dengan tiang-tiang kolom kecil. Tentara Salib merusak fasad tersebut saat memerintah Palestina. Namun, al-Ayyubi membangun dan memperbaikinya kembali. Terdapat empat belas lengkungan batu di sepanjang fasad yang sebagian besar bergaya Romantik. Mamluk menambahkan lengkungan-lengkungan terluar  yang dibentuk dengan desain yang sama. Sedangkan pintu masuk ke masjid adalah dengan melalui lengkungan tengah dari fasad tersebut.

Ruangan dalam masjid memiliki 45 tiang kolom, 33 diantaranya terbuat dari marmer putih dan 12 lainya dari batu. Barisan kolom-kolom pada bagian lorong tengah terlihat kokoh, dengan ukuran lingkar 30,6 dan tinggi 54 cm. Terdapat empat jenis desain yang berbeda untuk bagian kepala tiang kolom. Kepala tiang di lorong tengah berbentuk kokoh dan berdesain primitif, sedangkan kepala tiang yang dibawah kubah berbentuk gaya Korintus dan terbuat dari marmer putih Italia. Kepala tiang di lorong timur memiliki desain yang berbentuk keranjang besar, sementara kepala tiang di sebelah barat juga berbentuk keranjang yang berukuran lebih kecil dan lebih proporsional. Terdapat juga palang penghubung antara tiang kolom dan tembok penyangga satu dan yang lainya, yang dibuat dari balok kayu yang dipotong sederhana dan berlapis selubung kayu dengan ukiran seadanya.

Mimbar masjid dibangun oleh seorang pengrajin bernama Akhtarini yang berasal dari Aleppo atas perintah Sultan Nuruddin Zengi. Mimbar tersebut dimaksudkan sebagai hadiah untuk masjid ketika Nuruddin membebaskan Yerussalem, dan pengerjaanya memakan waktu selama kurang lebih enam tahun mulai tahun 1168 sampai tahun 1174. Nuruddin meninggal ketika Tentara Salib masih memegang kendali atas Yerussalem. Tetapi ketika Shalahuddin berhasil merebut kota tersebut pada tahun 1187, mimbar tersebut dipasang. Struktur mimbar terbuat dari gading dan kayu yang dipahat secara hati-hati. Di mimbar tersebut juga terdapat kaligrafi Arab dan desain-desain berbentuk geometris serta bunga-bunga yang terukir dalam kayunya.

Setelah hancur karena perbuatan Rohan pada tahun 1969, mimbar tersebut digantikan dengan mimbar lainya yang dekorasinya jauh lebih sederhana dari sebelumnya. Adnan al-Hussaini, kepala lembaga wakaf Islam yang bertanggung jawab atas Masjid al-Aqsha menyatakan bahwa pada Januari 2007 akan dibuat sebuah mimbar baru. Dan pada bulan Februari 2007 mimbar baru tersebut telah selesai dipasang. Desain mimbar baru ini didesain oleh Jamil Badran berdasarkan replica yang sama pada zamanya Shalahuddin dan pembuatan mimbar tersebut kurang lebih selama lima tahun di Yordania.

Masjid al-Aqsha, di dalamnya juga terdapat sebuah air mancur tempat wudhu utama yang bernama al-Kas yang berarti mangkuk. Air mancur tersebut terletak di bagian Utara yaitu antara Jami’ al-Aqsha dan Kubah Batu. Biasanya para jamaah menggunakanya untuk berwudhu, yaitu pelaksanaan bersuci dengan membasuh  wajah, kedua lengan sampai siku-siku, sebagian rambut, kedua telinga dan kaki. Bangunan ini dibangun pada tahun 709 pada masa pemerintahan Umayyah, tetapi antara tahun 1327-1328 Gubernur Tankiz memperbesarnya untuk dapat melayani banyaknya jamaah.

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Secarik Catatan Arsitektur Masjid Al-Aqsha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *