Sapu Jagat

Friday, February 6th 2015. | Cerpen

imagesDili, Timor Timur

Dentuman senjata berapi mencekam penuh amarah dan ancaman. Segala peluru diterbangkan, memekik di tengah tangisan. Fasilitas umum dirusak, pemukiman warga menjadi sasaran amukan, konflik pecah.

Entah apa, konflik Timor Timur di tahun 1999 itu terjadi ketika hasil referendum yang diikuti 450 ribu penduduk Timor Timur, 80 persen di antaranya memilih lepas dan merdeka dari Indonesia. Sejak itu berbagai kecaman pun diluncurkan oleh pribumi yang lagi-lagi disutradarai oleh Paman Sam, Amerika.

Kondisi Timor Timur saat itu benar-benar labil, yang ada hanya jeritan pribumi. Pribumi yang telah dibodohi, pribumi yang dengan tanpa pikir panjang telah diperbudak Barat. Mereka menjadi domba-domba yang diadu oleh Amerika dan sekutunya.

Banyak dari penduduk Timor Timur yang memilih untuk mengungsi, meninggalkan tanah kelahirannya yang berkecamuk. Karena pada hakikatnya mereka tahu, ketika nanti mereka tetap tinggal, mereka akan menjadi budak di negeri sendiri. Amerika akan segera berkuasa ketika Timor Timur benar-benar merdeka dari Indonesia. Dengan bantuan Besi Merah Putih, kelompok yang mendukung Timor Timur tetap dalam kesatuan Indonesia, para penduduk pun mengungsi, demi memperoleh keamanan dan kehidupan yang lebih baik.

***

“Kita harus kembali ke Jawa,”

Abah memutuskan keluarga kami akan kembali ke Jawa.

“Tapi bagaimana, Bah? Pastinya akan sangat sulit untuk kita keluar dari sini.”

Umi tidak bisa membayangkan kalau nanti keluarga kami dalam perjalanan keluar dari Dili akan tertangkap pasukan Timor Timur.

“Sudahlah, Mi, kita kan punya Allah, yakin semua akan baik-baik saja, karena sangat tidak mungkin jika kita terus bertahan di sini.”

Abah memang memiliki keyakinan dan tawakal yang kuat. Abah selalu mengajarkan anak-anaknya untuk bergantung hanya pada Allah.

Kondisi rumah kami di Dili cukup parah, bagian belakang rumah hangus terbakar, begitu juga rumah kontrakan yang menjadi penghasilan keluarga kami juga ludes, beberapa perabot dan gerobak warung kami hampir semuanya tak tersisa, tapi alhamdulillah, kami semua masih selamat. Maklum sajalah, rumah kami berada di jantung kota Dili, pusat konflik itu berkecamuk.

“Bagaimana dengan, Nas?”

Dia adalah bungsu di keluarga kami, Umi melahirkan Nas dua bulan lalu ketika konflik sudah dimulai.

Abah diam sejenak. Tidak mungkin jika Umi harus menggendong Nas, itu akan menyulitkan proses evakuasi mereka.

“Tolong ambilkan kardus.”

Apa Abah ini, Nas harus dimasukkan dalam kardus.

“Nas masih bayi, Bah? Bagaimana kalau dia kehabisan nafas? Bagaimana kalau dia menangis?”

Naluri seorang ibu selalu mengkhawatirkan buah hatinya.

“Insya Allah, Nas akan baik-baik saja, dia bayi yang hebat.”

Dan inilah Abah, selalu memiliki cara pikir yang menurut kebanyakan orang ‘aneh’, namun tidak bagi Abah, bahkan itu selalu tepat.

Tak banyak barang bawaan yang kami bawa, hanya beberapa keperluan dan perabot yang masih mungkin untuk dibawa ke Jawa.

Mungkin ini yang Abah sering katakan; Allah itu sebagaimana keyakinan hambaNya. Keluarga kami dikawal tentara Indonesia ketika akan dievakuasi, bahkan kami dibawa menggunakan kapal laut milik tentara Angkatan Darat. Maklum saja, Abah termasuk anggota dewan di Timor Timur waktu itu, sehingga mendapat satu perlakuan khusus.

***

“Sapu Jagat Ruh Nasruddin”

Ketika absen di kelas, dan aku harus angkat tangan, semua mata tertuju padaku dengan pandangan aneh sambil menahan tawa.

Jenengmu kok nyentrik, kang.

Selalu saja, para ustadz akan tersenyum ketika membaca namaku dalam daftar hadir kelas. Dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Meskipun kadang aku menyumpahi Abah, kenapa aku diberi nama yang nyeleneh seperti ini. Tapi sudahlah, Abah pasti punya alasan sendiri yang akan kutanyakan.

Setiap kali aku bertanya tentang namaku yang nyeleneh, Abah selalu terbahak. Kata Abah, namamu itu bagus, sangat bagus. Dalam hatiku, apanya yang bagus, teman-temanku di pesantren malah banyak yang memanggilku dengan ‘Sapu’.

“Kamu tahu apa doa Sapu Jagat?”

Aku mengangguk, doa Sapu Jagat kan Rabbana atina fi ad-dunya hasanah wa fi al-akhirati hasanah wa qina ‘adzaba an-nar.

“Artinya tahu?”

Aku menggangguk lagi. Artinya kan; Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka.

“Itu senjata semua orang mukmin. Doa ampuh itu, Nas.”

“Terus kenapa Abah memberi nama Nas dengan nama itu?”

Abah kembali tertawa.

“Biar dapat berkahnya doa Sapu Jagat. Karena kamu lahir pas waktu konflik Timor Timur di Dili dulu.”

“Lalu, Ruh Nasruddin?”

Aku masih ingin mengorek keterangan Abah tentang namaku.

“Biar dapat berkahnya Nashruddin, tokoh sufi yang humoris, yang termasyhur di Timu Tengah pada masanya.”

Masak biar aku pinter guyonan? Abah ini ada-ada saja.

Melihat wajahku yang merasa aneh, Abah tertawa lagi.

“Biar anak Abah yang satu ini mendapatkan Nasruddin, pertolongan agama.”

Nah, kalau yang ini aku baru mantab.

Aku selalu suka ketika Abah menceritakan tentang ini semua, tentang doa Sapu Jagat, salah satu senjata doa Abah ketika konflik Timor Timur yang kini telah lepas dari Indonesia, Timor Leste. Sapu Jagat yang kini melekat di baris namaku, nama yang semoga membawa energi positif bagi kehidupanku yang sesungguhnya.

*Adzikro al – Aqsho

*Santri Langitan dari Kaki Gunung Pegat

Comments

comments

tags: , ,

Related For Sapu Jagat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *