Santri Zaman Now Menjawab Tantangan Zaman

Sunday, May 6th 2018. | Uncategorized

Istilah “santri zaman now” menjadi trending topic dalam berbagai platform media, terutama saat diperingatinya Hari Santri Nasional (22/10/17). Genap tiga tahun pemerintah meresmikan 22 Oktober sebagai hari santri melalui kepres nomor 22 tahun 2015, merujuk pada peristiwa heroik Resolusi Jihad yang digelorakan oleh K.H. Hasyim As’ari tepat pada tanggal 22 Oktober 1945.

Melalui resolusi jihad, jiwa para santri meletup. Mereka tergerak untuk secara aktif memperjuangkan bangsa dan tanah air dengan jargon jihad fi sabilillah. Puncaknya, peristiwa 10 Nopember di Surabaya yang kita kenal sebagai hari pahlawan, menjadi saksi bahwa para santri ikut berkontribusi nyata bagi Negara Kesaturan Republik Indonesia (NKRI).

Fondasi NKRI

Salah satu di antara sembilan orang yang menggagas dasar negara adalah KH. Abdul Wahid Hasjim. Ayah beliau, K.H. Hasyim Asy’ari ikut menjaga kesantuan Indosesia dari penjajahan kolonial. Fatwa resolusi jihad adalah upaya nyata kaum santri dalam menjaga kemerdekaan. Kita mengingat nama K.H. Abdurrahman Wahid (Putra KH. Abdul Wahid Hasjim) yang menjadi presiden Republik Indonesia ke-4, juga K.H. Abdul Wahab Chasbullah yang berpartisipasi dalam Partai NU saat berbeda pendapat dengan Masyumi, serta banyak lagi serentetan tokoh lainnya yang turut memperjuangkan tegaknya fondasi NKRI.

Dengan demikian, santri tidak hanya pandai dalam membaca kitab, beribadah, dan menjawab berbagai masalah keagamaan, namun juga cerdik dalam bidang politik. Bahkan, mereka berperan besar dalam upaya meraih kemerdekaan Indonesia.

 

Melek Teknologi

Jika pada zaman dulu santri hanya mengaji, mempelajari materi keagamaan, menyampaikan ilmu yang diperoleh kepada masyarakat melalui dakwah bil haal, pidato, ceramah, serta melalui ranah sosial-budaya, kini santri dituntut untuk lebih dari itu. Seiring dengan berkembangnya zaman, santri harus melek teknologi. “Kalau pakai istilah sekarang, santri ‘zaman now’ harus gemar berinovasi, melek teknologi, memperjuangkan prestasi, dan selalu cinta negeri dengan selalu memberi manfaat ke orang lain,” tutur Bupati Banyuwangi, Nazwar Azwar Anas, di hadapan para santri Banyuwangi saat peringatan Hari Santri 2017 kala itu.

Arus informasi sosial media sangat pesat dan tidak terkontrol. Media memang tahu semua hal, namun tidak bisa membedakan salah dan benar atau baik dan buruk. Perkembangannya berada di tangan pengguna. Dalam konteks inilah, peran santri sangat dibutuhkan untuk mengungguli arus informasi yang beredar. Menularkan ilmu yang didapat selama belajar di pesantren diperlukan demi membentengi umat dari beragam informasi yang menyesatkan. Bukan hanya dalam penguasaan informasi, santri juga dituntut mampu menjelajahi jagat teknologi, pertanian, perdagangan, politik, dan lain sebagainya.

Tentu tidak mungkin para santri mampu menguasai semuanya. Akan tetapi, setidaknya mereka mampu “menggenggam” satu di antaranya. Karena tidak semua santri yang telah lulus dari pesantren akan menjadi kiai. Namun demikian, di mana pun santri berada dan bagaimanapun kondisinya, seorang santri tetap harus menularkan ilmu yang telah mereka peroleh. Romo Yai Abdullah Faqih, allahu yarham, dalam suatu kesempatan berpesan kepada santri-santrinya, “Yen awakmu wes muleh olehe nyantri neng pondok, dadi opo wae jabatanmu, awakmu kudu nularaken ilmune, senajan seng di wulang mung wong siji.” (Jika kamu sudah pulang nyantri dari pondok, apa pun jabatanmu, kamu harus tetap menularkan ilmu. Walau yang diajar hanya satu orang).

Menghargai Pahlawan

Dengan menularkan ilmunya kepada masyarakat, secara tidak langsung santri telah menghargai jasa pahlawan yang telah mengorbankan nyawa demi kemerdekaan bangsa. Karena, mereka beserta orang-orang yang berada di seluruh penjuru negeri bisa belajar dengan tenang berkat kemerdekaan yang berhasil diraih oleh para pendahulu.

Di samping mendalami ilmu agama, santri zaman old (dalam konteks pembahasan di sini) juga berjuang demi mempertahankan NKRI dari rongrongan kolonial. Melihat fakta historis inilah, santri zaman now tidak boleh “kalah semangat”. Santri zaman now harus mampu membawa arus perubahan lebih baik, berdakwah dalam berbagai bidang.

Sebagaimana apa yang digencarkan oleh sejumlah pesantren, santri akan tetap menghargai, menghormati, dan melestarikan warisan pemikiran terdahulu yang relevan serta menciptakan terobosan baru yang lebih baik. Dengan memegang teguh peninggalan para pendahulu, seseorang akan tetap mempunyai pertimbangan dalam bersikap dan berdakwah. Adapun penciptaan terobosan baru dapat membawa seseorang menjadi lebih kreatif dan inovatif. Dengan begitu, seseorang tidak mudah terbawa arus perubahan zaman, bahkan mampu menjawab tantangan zaman.

[Muhammad Ichsan]

Comments

comments

tags:

Related For Santri Zaman Now Menjawab Tantangan Zaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *