Santri Probolinggo Mendaur Ulang Sampah Plastik

Thursday, August 2nd 2018. | Inovasi

Menjamurnya sampah plastik merupakan masalah yang sangat sulit ditanggulangi hingga saat ini. Faktor utamanya adalah butuh waktu yang tidak singkat untuk mengurai sampah plastik menjadi tanah. Selain itu, minimnya kesadaran individu mengenai pentingnya daur ulang benda-benda berbahan plastik. Padahal, apabila kesadaran ini terbentuk, secara tidak langsung masyarakat turut mengurangi keberadaan limbah serta menyelamatkan lingkungan di sekitarnya.

Di Probolinggo, karena resah melihat sampah plastik yang semakin lama semakin menumpuk, para santri MTs Zainul Hasan Genggong menggagas adanya Bank Sampah. Bank sampah berfungsi menghimpun sampah-sampah plastik untuk diolah menjadi paving. Inovasi tersebut disambut baik oleh warga. Dengan antusias, para warga mengumpulkan sampah plastik di tempat pembuangan sampah yang kemudian dijual ke Bank Sampah Teristimewa Mts Zainul Hasan (ZaHa) untuk dikelola. Setiap 10 kilogram sampah, pihak pengelola memberi imbalan uang 5 ribu rupiah kepada warga.

Mengutip jawapos.com/radarbromo Direktur Bank Sampah Teristimewa MTs Zainul Hasan, Nanang Ishariyanto menjelaskan bahwa ide tersrebut berawal dari banyaknya sampah plastik yang tersebar di sekitar lingkungan madrasah dan pesantren. Terutama plastik snack san tas kresek.

Sampah-sampah tersebut tentu saja tidak laku dijual pada pengepul. Karena itu, Bank Sampah yang mulai terbentuk pada tahun ajaran baru 2017/2018 itu mencoba memanfaatkan sampah plastik sebagai bahan mentah paving dan batako.

Bank Sampah bekerjasama dengan masyarakat sekitar untuk mengumpulkan sampah-sampah di sekitar mereka. Setiap kilogramnya, barang-barang yang sudah tidak berguna tersebut dihargai Rp 500 rupiah. Sedangkan botol plastik dihargai Rp 3 ribu per kilogram. Uniknya, ada sebagian warga yang mampu menyetorkan 40 kilogram sampah dalam tiga hari.

Proses pengolahan sampah menjadi paving melalui “penggorengan” di atas wajan memanfaatkan kompor elpiji. Setelah meleleh, sampah plastik dimasukkan ke dalam cetakan besi dan “dipres” menggunakan alat khusus. Limbah yang sudah berbentuk batako kemudian didinginkan dalam air selama kurang lebih 10 menit guna mempercepat proses pemadatan sebelum dijemur dan dicat dengan beraneka warna dan motif.

Dalam sehari, para santri MTs Zaha Genggong dapat memproduksi lima buah paving. Mereka mematok harga Rp 15 ribu per buah. Pasalnya, guna menghasilkan barang jadi, mereka membutuhkan modal Rp 9 ribu, baik untuk gas elpiji hingga bahan baku plastik. Padahal, jumlah ini belum termasuk biaya tenaga kerja dan lain-lain.

Apa yang dihasilkan oleh para santri memiliki keistimewaan dan kelebihan. Di samping terdapat berbagai macam warna, paving yang terbuat dari sampah plastik ini juga terbilang ringan lantaran beratnya hanya 1 kilogram.

Sayangnya, pemasaran masih terbatas pada lingkungan internal madrasah. Oleh karena itulah, pihak manajemen berencana memperluas pasar ke luar madrasah dengan menawarkannya kepada warga sekitar. Hal ini dilakukan terutama supaya semakin banyak orang yang tergerak untuk mendaur ulang sampah plastik demi mengurangi pencemaran lingkungan.

[Khozin]

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Santri Probolinggo Mendaur Ulang Sampah Plastik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *