Santri Gaptek

Monday, August 27th 2018. | Cerpen

 

*M. Luthfi Sp

Ayah memanggilku dan bertanya tentang kabar tiga hari yang lalu. Ibu duduk berhadapan dengan Ayah. Setelah Ayah bertanya, aku pun menjawab apa adanya. Mendengar jawaban demikian, Ayah pun marah. “Kaya gitu aja masih gak bisa. Makanya jangan mainan Hp melulu!” Aku terdiam tertunduk lalu pergi. Begitulah Ayahku. Kepada anaknya beliau bersikap keras dan disiplin, namun sangat lembut kepada orang lain.

Ayah pernah berpesan kepadaku bahwa aku dididik di pesantren untuk menguasai ilmu agama Allah agar bisa memahami semua fan ilmu. Karena ayah merasa agak menyesal bahwa dirinya belum bisa menguasai semua ilmu itu. “Insyaallah, Ayah. Nabil akan berusaha.” Hanya kata itu yang bisa kuucapkan, selebihnya hanya menganggukkan kepala.

Namun kenyataanya sekarang? Sangat jauh dari harapan Ayah. “Maafkan aku, Ayah. Harapan Ayah tidak mampu Nabil penuhi. Kemampuan Nabil sangat terbatas.” Sesekali hatiku selalu berujar demikian. Terkadang air mataku juga basah saat mengingat harapan Ayah kepadaku yang begitu besar. Setiap aku pulang dari pondok pasti Ayah mengetes pengetahuanku. Hingga yang terakhir sebelum bulan Ramadan ini, aku diuji membaca kitab Minhaj al-Abidin. Hasilnya aku hanya bisa membaca beberapa kalimat. Kemampuanku memahami nahwu shorof  pun ala kadarnya.

“Jangan buat Ayah kecewa membiayaimu! Sudah hampir sepuluh tahun kamu di pesantren. Baca kitab kecil saja masih kaya gitu.” Tanpa basa-basi aku bergegas lari menuju kamar tidur. Dan menangis sesal. Mendengar ucapan Ayah, rasanya aku ingin pergi saja dari tempat ini. Bukannya aku membenci Ayah. Akan tetapi, lebih baik aku tidak tinggal di rumah daripada Ayah selalu muak melihatku di sini. Hanya itu.

Kejadian yang lalu sudah membuat mentalku down. Ditambah ucapan ayah yang semakin menambah hilang rasa percaya diriku. Aku masih terngiang betapa bodohnya aku sampai lupa bacaan surat saat pertama kali mendapaat kepercayaan sebagai imam. Sungguh sangat memalukan.

* * *

“Besok sore Ayah akan ada acara di kota. Jadi tolong kamu gantikan Ayah dulu ngisi pengajian di mushala menjelang buka. Baru sampai bab empat. Pakai kitab Ayah saja. Kitabmu pasti masih banyak yang kosong.”

Aku hanya menganggukan kepala. Lantas mau bagaimana lagi? Masa ingin buat Ayah tambah kecewa? Saat itu langsung kubawa kitab Ayah dan mulai muthalaah di kamar. Sesekali menghubungi temanku di pondok untuk menanyakan bagian yang menurutku susah dipahami.

Hari ini adalah puasa ke dua puluh, biasanya Ayah sering memiliki banyak acara di luar saat Ramadan berada di penghujungnya. Dan, aku wajib menggantikanya di mushala saat berbuka puasa nanti. Kitab ini cukup “lumayan”. Tidak begitu sulit dibaca. Satu, dua, tiga kali kubaca, alhamdulillah aku bisa paham semua. Tinggal praktik di depan masyarakat nanti sore.

Bismillah.

Seperti biasa aku sengaja duduk di barisan paling belakang. Aku berharap, ada seseorang yang bertanya di mana Ayahku. Dan, kebetulan sekali suara itu muncul dari arah samping. “Baiklah Aku yang akan menggantikan.” Jawabku singkat.

Jujur. Bicara di depan banyak orang merupakan kebiasaanku semasa belajar di pondok. Jabatanku cukup banyak waktu itu. Tak berlebihan apabila aku sering dipersilakan untuk berbicara di hadapan publik. Bahkan, untuk sekadar ceramah atau khutbah, aku merasa sudah siap. Beruntung sekali aku sangat aktif di berbagai organisasi. Manfaatnya benar-benar kurasakan sekarang.

Inna awla al-nasi fi yaum al- qiyamati aktsaru al-nasi ‘ala shalati’. Kata Nabi, umatnya yang paling utama kelak di hari kiamat adalah orang yang memperbanyak membaca shalawat. Dalam artian, orang yang paling dekat dengan Nabi berarti cinta kepada Nabi. Nah, kalau sudah cinta, pasti namanya akan selalu diingat. Betul? Sama dengan kita saat mencintai seseorang.”

Para hadirin khusyuk mendengarkan kata-kataku. Syukurlah, padahal baru kali ini aku membaca kitab dan menerangkannya di depan warga desa.

Langit mulai gelap lantaran waktu maghrib akan segera tiba. Pengajian ditutup dengan doa pendek lalu disambung dengan doa berbuka puasa. Entah mengapa tiba-tiba lidahku jadi blepotan dan terdengar ada yang salah dalam doaku. Suaraku keras namun yang dibaca salah. “Aduuuh…”

Lalu sesegera mungkin aku mengulangi bacaan itu hingga benar. Mungkin hanya beberapa hadirin yang memperhatikan bacaanku. Meski begitu, tetap saja aku malu.

Selama empat hari aku menggantikan Ayah di mushala. Dengan keterangan seadanya dan bacaan masih banyak yang salah, aku merasa gagal. Seharusnya harapan Ayah kepada buah hatinya genap terpenuhi saat aku lulus kemarin.

Bisa dibilang aku adalah santri gagal praktek (gaptek). Gara-gara kejadian inilah, Ayah suka memanggilku dengan sebutan “Santri Gaptek.” Namun, aku suka dengan panggilan itu. Sebab, aku menyadari segala keterbatasanku. Bisa jadi aku kurang tekun dalam belajar saat di berada di pondok. Dan aku kurang menekuni pelajaran.

 

Sekian

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , ,

Related For Santri Gaptek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *