Santri dan Pengamalan Pancasila

Thursday, June 7th 2018. | Layar

 

 

Kembali membahas tentang ‘Festival Hujan Film’ yang menampilkan karya dari KAFI (Komunitas Santri Informatika) Pondok Pesantren Langitan. Video kali ini sangat apik. Dikemas dengan tampilan yang menarik. Pengambilan shot gambar, pembuatan narasi, hingga backsound yang sangat sreg.

Video kali ini menjelaskan bagaimana santri mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kesehariannya. Hal ini juga membantah berbagai anggapan dan isu yang berkembang bahwa pesantren adalah sarang terorisme. Santri dengan segala kesederhanaannya akan selalu menjunjung tinggi nilai Pancasila yang telah diwariskan sejak dahulu.

Pancasila adalah ideologi negara Indonesia. Nama ini terdiri atas dua kata dari Sanskerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. (wilkipedia.org).

Dalam video ini juga tergambar jelas bagaimana kegiatan sehari-hari santri terutama santri Pondok Pesantren Langitan. Lalu, bagaimana santri mengamalkan nilai Pancasila setiap harinya?

Pengamalan Sila Pertama

   Ketuhanan yang Maha Esa. Setiap hari santri dididik untuk tidak pernah lupa beribadah kepadan Allah Swt. Tuhan yang Esa. Berjamaah shalat lima waktu, membaca Alquran, dan berdzikir kepada-Nya. Santri juga mengerjakan apa yang diperintah dan apa yang dilarang.

Pengamalan Sila Ke-Dua

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Setiap hari santri dididik untuk bersikap adil dan memiliki akhlak mulia. Menyayangi yang lebih kecil dan menghormati yang lebih besar. Santri juga diajari bagaimana bertatakrama, baik dengan sesama teman, murid kepada guru, hingga guru terhadap murid. Pesantren juga mengajarkan kitab-kitab yang mengajarkan sopan-santun sejak santri masih kecil, seperti kitab Akhlaq lil Banin yang dipelajari oleh siswa-siswi Madrasah Ibtida’iyyah Pondok Pesantren Langitan, dan lain-lain.

Pengamalan Sila Ke-Tiga

Persatuan Indonesia. Di pesantren, para santri terdiri dari berbagai suku dan bangsa. Namun perbedaan itu tidaklah membuat perpecahan, justru persatuan dan kesatuan dalam saling menghargai. Walau bahasa berbeda, para santri tetap menghormati dengan menggunakan bahasa yang digunakan dalam pesantren. Mereka hanya menggunakan bahasa asli mereka saat bersama dengan orang yang berasal dari daerah yang sama dengan mereka.

Sangat menarik karena hampir tiap daerah di Indonesia ada di pesantren. Ada yang dari Sumatra, Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan masih banyak lagi yang tentunya tidak bisa dicantumkan dalam tulisan yang singkat ini. Bukan hanya dari Indonesia, di pesantren juga banyak dari santri yang berasal dari luar negeri, seperti Malaysia, dan lain-lain. Saat para santri bersama, perbedaan yang ada akan terlupakan.

Pengamalan Sila Ke-Empat

   Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat, Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Di pesantren, santri ibarat penduduk sebuah negara yang dipimpin oleh para Kiai. Para kiai adalah contoh pemimpin yang bijaksana. Peraturan yang ada pun, juga berjalan sesuai dengan kebijakan dan pertimbangan yang matang. Para santri menaati dan mematuhi peraturan dan kebijakan para kiai sebagai wujud terimakasih atas ilmu yang kiai curahkan. Sebagai wujud terimakasih karena para kiai telah mengenalkan mereka kepada Tuhan yang Maha Esa. Sebuah maqalah mengatakan:

 

بربي عرفت ربي و لولا المربي ما عرفت ربي

Dengan bimbingan guruku, aku mengenal Tuhanku, kalau saja guruku tidak ada, aku tidak akan mengenal tuhanku.”

 

Dalam setiap permasalahan, para santri selalu diajarkan agar memecahkannya dengan jalan musyawarah. Bukan hanya sekali, setiap hari santri mempunyai jadwal musyawarah agar setiap masalah yang ada, santri terdidik untuk memecahkannya bersama. Hal ini juga menambah ukhuwah dan kebersamaan di pesantren.

Pengamalan Sila Ke-Lima

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Walau dari berbagai daerah, pesantren tidak membedakan antara satu santri dengan yang lain. Semua setara dan diberlakukan dengan adil. Setiap pelanggaran yang dilakukan akan mendapat sangsi sama. Tidak ada pemilihan satu pihak.

Dalam setiap hukuman para santri menerima hukuman dengan sebenar-benarnya, sebagai konsekwensi terhadap apa yang mereka lakukan. Semua itu dilakukan agar santri terdidik untuk selalu berlaku adil.

 

Santri akan tetap menjadi santri yang cinta terhadap tanah air. Bhineka Tunggal Ika, walau berbeda, santri tetap bersatu dalam kemajmukan. Lalu, apa Pancasila menurut para pembaca?

[Ichsan]

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Santri dan Pengamalan Pancasila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *