Sailul Arim, Luapan Banjir Bandang

Monday, May 5th 2014. | Qur'an, Uncategorized

banjir bandang

 

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آَيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ (15) فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ (16) ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ (17) [سبأ/15-17[

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun”. tetapi mereka berpaling, Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (QS. Saba’ 15-17)

 

Siapakah Saba’ itu?

Diriwayatkan dari Abu Kurab, ia bercerita dari Waki’ dari Abu Hayyan al Kalabi dari Yahya bin Nahi’ dari Urwah al Murodi dari seorang laki-laki yang disebut dengan Farwah bin Musaik dia berkata : Ya Rasulullah, berceritalah kepada kami tentang Saba’? Apakah ia adalah laki-laki atau perempuan, nama gunung atau hewan? Rasulullah Saw berkata : Tidak demikian, Saba’ ada seorang laki-laki dari Bangsa Arab kuno yang memiliki sepuluh orang anak. Enam darinya menetap di Yaman dan yang empat menetapat di Syam. Adapun yang bertempat di Yaman adalah Kindah, Himyar, Azed, Asy’ariyun, Madhij dan Anmar. Adapun yang berempat di Syam adalah Amilah, Lakhm, Judzam, dan Ghossan. Riwayat yang sama juga diceritakan oleh Imam Ahmad, Al Hafidz Ibnu Abdil Bar dalam kitab Al Qosdhu wal Umam bi Ma’rifati Ushuli Ansabil Arabi wal Ajam, Abu Dawud, At Thobroni juga At Tirmidzi dalam Jamius Shoheh, beliau berkata Hadis ini Hasan Ghorib.

Ulama Ahli Nasab, diantaranya Muhammad bin Ishaq berkata : Nama asli Saba’ adalah Abdu Syams bin Yasjub bin Ya’rub bin Qohthon. Dikenal dengan nama Saba’ karena ia adalah orang yang pertama kali membuat arak di tanah Arab. Ia juga dikenal dengan nama ar Roisy, karena dia adalah orang yang pertama kali mengambil jarahan perang kemudian memberikannya kepada kaumnya. Para ahli nasab juga menuturkan bahwa Saba’ ini telah memberikan kabar tentang hadirnya Nabi Muhammad Saw di akhir masa dalam sebuah Syair : Setelah Qohthon seorang Nabi yang bertaqwa, rendah hati dan sebaik-baiknya manusia akan berkuasa, ia diberi nama Ahmad, andaikan saja aku masih diberi usia panjang setelah diutusnya nabi tersebut setahun saja, maka aku akan membantunya dan memberinya kecintaan atas pertolonganku dengan berbagai senjata, kapanpun ida hadir maka jadilah kalian orang yang membantunya, dan bagi orang yang bertemu dengannya sampaikan salamku padanya. Syair ini disebutkan oleh Al Hamdani dalam kitab Al Iklil  (Tafsir At Thobari 20/375, Ibnu Katsir 6/505, Atlas Hadits An Nabawi 211)

 

Dibangunnya Bendungan Ma’rib

Saba’ sendiri kemudian dikenal sebagai nama negeri yang memiliki peradaban gemilang di Yaman (950-115 SM) yang mewarisi negeri Mu’in dan beribukotakan Ma’rib. nama Ma’rib sendiri memiliki arti Air yang melimpah ruah. Bukan hanya itu Negeri Saba’ juga merupakan negeri yang sangat makmur dengan hasil pertanian melimpah ruah, bahkan diriwayatkan di Negeri Saba’ tidak ditemukan lalat, nyamuk dan serangga-serangga sejenisnya, karena memang sejuknya udara yang tidak memungkinkan untuk hewan tersebut hidup, juga adalah memang anugrah Allah kepada Kaum Negeri Saba’ untuk terus meng-Esa-kan Allah.

Di Negeri Saba’ sendiri terdapat sebuah bendungan yang sangat terkenal. Bendungan ini dibangun pada masa Ratu Balqis, sebagaimana yang diriwayatkan Ahmad bin Ibrahim ad Dauroqi, ia bercerita dari Wahb bin Harir dari Ayahnya, ayahnya berkata Aku mendengan Al Mughiroh bin Hakim berkata : Ketika Ratu Balqis menjadi penguasa Saba’ para kaumnya saling berebut air yang ada dilembah. Ratu Balqis kemudian mengeluarkan larangan saling berebut, namun oleh kaumnya tidak diindahkan. Ratu Balqis pun marah dan pergi meninggalkan negeri dan kaumnya menuju istananya sendiri. Ketika kejelekan semakin merajalela diantara penduduk negeri, merekapun menyesal dan akhirnya mencari Ratu Balqis serta memintanya untuk kembali memimpin kerajaaan. Awal mula Ratu Balqis menolak, namun ia dihadapkan dua pilihan antara mau kembali memimpin atau dibunuh. Akhirnya Ratu Balqis mengambil pilihan mau kembali memimpin negeri dengan syarat para penduduk mau tunduk dan patuh terhadap perintahnya. Akhirnya ketika Ratu Balqis kembali memimpin dibangunlan bendungan besar yang memiliki pintu kanal untuk mengatur aliran air di Ma’rib yang berjarak 3 marhalah dari Shon’a. Kehidupan pun kembali teratur dan penuh berkah (Tafsir At Thobari 20/379, Ibnu Katsir 6/504)

 

Jebolnya Bendungan Ma’rib

Namun seiring lamanya perjalanan hidup, penduduk Negeri Saba’ pun berpaling. Asal mula merela meng-Esa-kan Allah dan bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah. Mereka kemudian berpaling menyembah Matahari. Allah pun mengirim beberapa nabi kepada mereka untuk mengingatkan dan mengajak kembali meng-Esa-kan Allah. Muhammad bin Ishaq dari Wahb bin Munabbih meriwatkan Allah mengirim tiga belas orang nabi. Imam As Sudi meriwayatkan Allah mengirimkan 12.000 nabi. Mereka pun mendustakan para nabi utusan Allah. Ketika Allah akan menurunkan siksa berupa banjir bandang kepada mereka, Allah mengirimkan hewan yang disebut al Jurodz yang menjadi sebab jebolnya bendungan Ma’rib, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Wahb bin Munabbih. Akhirnya bendungan pun jebol dan terjadilah banjir bendang besar yang menghancurkan Negeri Saba’. Inilah yang disebut dengan Sailul Arim dalam ayat sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid. Ada juga yang mengatakan Arim adalah nama lembah tempat dibangunnya bendungan. Peristiwa ini terjadi kira-kira empat ratus tahun sebelum munculnya Islam. Setelah peristiwa ini kemakmuran pun berubah dari yang melimpah ruah, buah-buahan yang ramun berubah diganti Allah dengan pohon Arok, Turfa’ dan pohon Sidr (sejenis bidara) yang memiliki banyak duri dan buah sedikit. Siksa seperti ini adalah akibat kekufuran mereka sendiri, tidak mematuhi aturan dan ajaran-ajaran Allah yang disampaikan lewat para nabi-Nya. (Tafsir Ibni Katsir 6/507, At Thobari 20/378, Atlas Alquran 147)

Ahmad Farikhin

Comments

comments

tags: ,

Related For Sailul Arim, Luapan Banjir Bandang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *