Risalah Tasawuf Imam Qusyairi

Thursday, March 29th 2018. | Kitabah

Penulis                          : Al‘Allamah al‘Arif Billah Abul Qasim Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi al-Naisaburi

Tebal                             : 475 Halaman

Penerbit                       : Daar al Ummah

Peresensi     : Muslimin Syairozi

 

Masyarakat awam beranggapan bahwa dunia syariat dan tasawuf seringkali mengalami paradoks dalam beberapa gagasan. Tarikat mulai tidak dipercaya sebagai jalan satu-satunya menuju ridla Allah Swt. Banyak pelaku tasawuf yang hanya sibuk berbaiat, padahal syariatnya masih sangat jauh dari kata cukup. Sebaliknya, para ahli tarikat sedikit mencela pelaku syariat. Mereka hanya sibuk beribadah tanpa berusaha mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Imam Qusyairi melalui kitabnya ini menjelaskan hal yang harus diperhatikan dalam mendalami tasawuf. Dengan ketenaran beliau di bidang tersebut, pembaca dibawa pada penjelasan yang luar biasa. Penyampaian, penghayatan dan kejelasan maksud. Beliau mengutip mutiara-mutiara hikmah yang begitu terang dari ulama salaf yang sanggup membangkitkan jiwa.

Risalah ini ditujukan bagi orang-orang yang berkecimpung dalam dunia tasawuf yang hanya sebatas taqlid. Tanpa sadar Mereka membiasakan kesalahan-kesalahan yang terus-menerus mereka lakukan. Bukan hanya tasawuf, pengikut madzhab dan falsafah juga tidak jauh berbeda. Sebagian ada yang baik pemahaman dan parangainya, dan sebagian lagi ada yang buruk. Penjelasan tentang ahli tarikat adalah mereka yang tetap dengan manhaj Alquran, sunnah, dan jalan salaf shalih, baik iman, akidah, dan suluk mereka. Tiga elemen agama di atas seakan menyatu dalam diri, tanpa sedikit pun menyimpang meskipun hanya secuil potongan kuku.

Selain itu, risalah ini ditujukan bagi ahli tasawuf agar memperdalam “hakikat” yang menjadi konklusi tarikat. Al jami’ baina alsyari’ah wa alhaqiqah (julukan beliau) melihat hal-hal yang berbau batil yang sangat samar, yang harus kembali dibenahi. Seandainya mereka mengikuti langkah salaf shalih maka mereka akan mendapat anugerah sebagaimana mereka. Ulama salaf mengamalkan ajaran Islam secara sempurna, dengan menggunakan unsur takwa ahli tasawuf dan hukum dari ahli fikih. Syariat adalah melakukan kewajiban, dan hakikat adalah bermusyahadah pada kebesaran Tuhan. Setiap syariat yang tidak dikuatkan hakikat tidak akan diterima, sebaliknya hakikat tanpa syariat tidak akan menuai keberhasilan. (Hal: 82).

Maka, pada dasarnya syariat adalah hakikat, dilihat dari segi kewajiban melakukan perintah Allah Swt dan hakikat adalah syariat dipandang dari sisi bahwa untuk bisa makrifat adalah dengan melakukan perintah Allah Swt.

Allah Swt memberi banyak kemuliaan kepada ahli tasawuf. Namum hati mereka laksana intan mutiara yang bersih. Semua pemberian-Nya yang berbentuk karamah sama sekali tidak menumbuhkan benih kesombongan. Ribuan wirid dan semangat ibadah tidak membuat mereka merasa pantas mendapatkan imbalan, berupa surga. Mereka sadar Allah Swt berhak melakukan apapun yang dikehendaki. Tidak ada yang bisa memaksa Allah Swt dengan amal kebaikannya dan menghinakan-Nya dengan kelakuan buruknya.

Orang-orang yang memiliki hati sebagaimana di atas semakin lama semakin terkikis. Yang tersisa dari mereka hanya sebuah cerita dan beberapa prasasti yang dilakukan sebagian kecil ahli tarikat. Para pemuda yang diharapkan menjadi penerus jejak mereka masih jauh dari harapan mursyidnya.

Comments

comments

tags: , , , , ,

Related For Risalah Tasawuf Imam Qusyairi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *