Rindu Gus Miek

Saturday, October 3rd 2015. | Pojok Pesantren

 

kh-hamim-tohari-djazuli-gus-miek-ploso-mojo-kediri-al-falah

Oleh : Aba Abid

Jadi ingat ketika Aba Yai Afif Ma’shum Ketua Umum FKUB Gresik yang juga Ketua MUI Gresik memberi ucapan selamat kepada Kang Aba Abid sebagai pengurus IDIAL MUI Propinsi Jawa Timur. Ketika bertemu di kantor sesaat menjelang rapat koordinasi MUI Gresik.

“Apa istimewanya Ba?” tanya Kang Aba Abid setelah menerima ucapan selamat.

“Medan yang antum akan jalani, itu medannya terjal, berliku dan berbahaya”. Jelas Aba Afif.

“Inggih Ba, leres, mugi kiat, nyuwun tambah pangestu” kata Kang Aba Abid.

“Dalam praktiknya, nahi munkar itu lebih berat dibanding amar ma’ruf. Yang antum lakukan bersama pengurus IDIAL yang lain itu lebih banyak nahi munkar-nya. Bukan hanya kecerdasan intelektual yang dibutuhkan, tetapi energi yang terlahir dari muqarabah dengan Allah itu yang paling dominan mengantar keberhasilan dakwah antum dan teman-teman IDIAL yang lain”. wejang Aba Yai Afif.

Organisasi yang berdirinya difasilitasi oleh MUI Provinsi Jawa Timur ini, sebagaimana namanya, memiliki medan dakwah yang lebih menantang dan dibutuhkan seperangkat bekal dakwah tambahan. IDIAL adalah Ikatan Da’i Area Lokalisasi, yang tugas utamanya melakukan pendampingan dan dakwah untuk kaum hawa penjaja seks.

Dari hasil identifikasi, banyak hal yang menjadi latar belakang PKS menjalani kehidupannya. Mulai persoalan ekonomi, pelampiasan dendam, korban trafficking, penipuan sampai sebagai gaya hidup. Hampir semua PKS sadar dan mengetahui, bahwa perilaku mereka tidak benar baik menurut agama, adat maupun hukum positif negara.

Dari identifikasi tersebut, menjadi jelas betapa ruang keimanan tidak terbingkai dalam skat-skat latar belakang tersendiri, tetapi keimanan menjadi akar masalah yang mewarnai seluruh latar belakang prostitusi.

Sehingga tawaran solusinya, setelah memberi dasar keimanan harus dibarengi pelatihan skill, sebagai jawaban konkrit sesuai latar belakang masing-masing. Bagi PKS yang terhimpit persoalan ekonomi, tentu tarawan solusinya adalah skill sumber ekonomi, permodalan sampai pemasaran. Bagi yang menjadi korban trafficking, tentu perlindungan dan proses hukum secara adil. Bagi yang terjebak dengan persoalan dendam, baik karena tercerai-berainya rumah tangga atau dikhianati oleh lelaki calon suaminya, maka tawaran solusinya tentu pedampingan psikologi.

Dakwah dengan medan juang Masjid, Majelis Ta’lim, Pengajian Umum atau halaqah-halaqah ilmiah yang lain, bukan berarti tanpa tantangan, tetapi medan juang warung remang-remang, warung pangku, diskotik, tempat prostitusi, perjudian atau tempat maksiat lainnya jauh lebih menantang dan beresiko. Karenanya para da’i di medan juang ini tidak banyak dan tentu orang khusus yang dikehendaki oleh Allah yang mampu melakukannya.

Apa yang dilakukan oleh Gus Miek Ploso Kediri merupakan dakwah langka yang tidak semua da’i memiliki kemampuan melakukannya.

“Awalnya Mbah Yai Ahmad Shiddiq tidak berkenan dengan yang dilakukan oleh Gus Miek” jelas Aba Yai Afif.

“Kira-kira apa yang membuat beliau tidak berkenan Ba?”

“Yang dilakukan Gus Miek itu nyrempet bahaya. Coba, di NU waktu itu sedang dirumuskan mana thariqah yang Mu’tabarah dan yang Ghairu Mu’tabarah. Hal ini dilakukan untuk memudahkan warga Nahdliyin menentukan pilihan, thariqah mana yang diikuti. Ternyata Gus Miek menawarkan Thariqah Tanbighul Ghafilin yang selama ini tidak pernah muncul di literatur khazanah thariqah di kalangan NU. Makanya pantas, pada awalnya keinginan Gus Miek tidak direstui Yai Sepuh”. Jelas Aba Afif.

“Walau begitu tho akhirnya apa yang dilakukan oleh Gus Miek disetujui, bahkan Mbah Yai Ahmad Shiddiq menjadi bagian dari yang mempopulerkan Thariqah Tanbighul Ghalifin kan Ba?” tanya Kang Aba Abid.

“Itulah kearifan ulama sepuh. Penolakan tidak seperti menutup pintu rapat-rapat, tetap memberi ruang dan waktu untuk melakukan klarifikasi. Dan setelah dilakukan klarifikasi lebih lanjut, ternyata bacaan yang di thariqah Gus Miek juga dibaca di thariqah-thariqah lain yang dinilai mu’tabarah”.

“Ingih Ba, Gus Miek memang kekasih Allah yang istimewah pada zamannya. Beliau melakukan dakwah dari diskotik ke diskotik, khataman al-Qur’an ditempat yang tidak biasanya, menghidupkan kembali tradisi ziarah wali dan melakukan dakwah yang tanpa menimbulkan efek horisontal. Tipologi pendakwah seperti beliau sekarang makin jarang bahkan bisa dibilang tidak ada. Kita rindu dengan sosok seperti Gus Miek yang terus menyapa umat yang terlena dengan euforia dengan kehidupan duniawi” Kata Kang Aba Abid.

 

 

Comments

comments

tags: , ,

Related For Rindu Gus Miek

One response to “Rindu Gus Miek”

  1. saif says:

    Aku juga rindu beliau, sosok ulama yang langka dan mengayomi kaum papa seperti halnya murid beliau yang bernama Gus Dur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *