Rencana Kuffar Menghilangkan Peran Masjid

Saturday, December 26th 2015. | Pemikiran

masjid sultan ahmet camii(blue mosque turki

وَمَنْ أَظْلَمَ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللهِ اَنْ يُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا, ألُئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوْهَا إِلَّا خَائِفِيْنَ, لَهُمْ فِى الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِى الْأخِرَةِ عَذَابٌ عَلِيْمٌ

Artinya: Dan Siapakah yang lebih menganiaya daripada orang yang menghalangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjidNya, dan berusaha merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya kecuali dalam keadaan takut. Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. {QS al-Baqarah}.

Seperti telah di ketahui bahwa masjid mempunyai posisi sangat penting dalam Islam. Disamping sebagai syi’ar, tempat menyembah, dan berdzikir kepada Allah, juga sebagai pusat markas pengkaderan umat dan eksitensi Islam. Karena itulah Allah menyebutkan termasuk tanda orang yang beriman adalah yang meramaikan masjid(imaroh). “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap melaksanakan sholat ..” QS at-Taubah:18.

Karena menjadi sebuah syi’ar, maka sangat dianjurkan mendirikan masjid di daerah yang didiami umat Islam. Rosulullah sendiri ketika tinggal lama di Quba’, beliau mendirikan masjid Quba’. Hal ini di ikuti para sahabat dan pewaris beliau, setiap menyebarkan islam di daerah baru, mereka langsung bergerak untuk mendirikan masjid, Seperti adanya masjid Amar Bin Ash di Mesir dan masjid Agung Demak oleh walisongo.

Hal yang mestinya diingat, bahwa meramaikan masjid bukan hanya terpaku pada pembangunannya saja, tetapi masjid juga harus diramaikan dengan aktivitas berjamaah. Nabi sangat serius dalam menanggapi sholat berjamaah. Sehingga seorang yang buta Abdullah bin Ummi Maktum  masih diwajibkan beliau untuk datang ke masjid guna sholat berjamaah. bukti yang lain pernah suatu ketika beliau menyuruh seorang sahabat menggantikan beliau menjadi imam. Beliau menyusuri rumah demi rumah, seandainya menemukan ada orang yang tidak berjamaah maka beliau akan membakar rumahnya.

Dua kisah di atas menunjukkan betapa pentingnya sholat berjamaah di Masjid. Sungguh persatuan hanya bisa tumbuh bila sesama muslim memiliki keterikatan hati. Dan keterikatan itu hanya bisa terpupuk oleh sholat berjamaah dengan berbaris kompak mengikuti komando seorang imam. Selama semua islam dengan berbagai alirannya masih memperlakukan masjid sesuai perannya, maka tidak akan mereka bercerai berai.

Masjid harus pula diramaikan dengan aktivitas keilmuan. Dulu kita mengenal para sahabat dengan predikat Ashabushuffah (penghuni emperan masjid Nabawi). Rosulullah setiap hari mendidik mereka guna meramaikan masjid beliau. Budaya menghidupkan masjid dengan keilmuan secara turun temurun juga di lakukan oleh ulama khosshoh di Masjidil Haram.

Mengingat pentingnya peran sebuah masjid, maka tidak mengherankan jika orang yang menghalangi ke masjid adalah orang sangat tercela. Dia lebih buruk daripada orang yang melakukan penganiayaan.”Dan siapakah yang lebih menganiaya dari pada orang-orang yang menghalangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjidnya, dan berusaha merobohkannya”. Para ahli tafsir menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pemberitaan situasi yang akan terjadi di masa depan. Para orientalis islam akan menyerang Baitul Maqdis dan negri-negri islam untuk kemudian mencegah mereka datang dan melakukan aktivitas di Masjid. Usaha semacam ini terus di gencarkan mereka. Mereka sadar betul umat islam tidak akan bisa dikendalikan selama masih dekat dengan masjid. Masjid di Indonesia misalnya, Walisongo telah membuat konsep integral masjid, pasar, kantor pemerintahan sekaligus alon-alon. Hal ini rupanya di manfaatkan orang kuffar untuk menghilangkan kesakralan masjid. Alun-alun depan masjid mereka setting begitu indah sebagai tempat wisata. Akhirnya situasi bersebrangan terjadi antara ketaatan di masjid dan kemaksiatan di luar sana. Bahkan kwantitas muslim di alon-alon jauh lebih banyak ketimbang muslim yang berada di dalam masjid.

Cara lain yang di tempuh kuffar adalah melalui media. Media merupakan alat yang sangat produktif dalam menjauhkan remaja islam dari masjid. Media semacam televise mereka setting dengan baik dan menarik agar membuat para pemuda ketagihan melihatnya. sehingga mereka lebih senang di rumah memelototi televisi daripada melangkahkan kaki untuk datang ke masjid. Jika orang tua tidak tegas membimbing anak-anaknya ke masjid, maka bisa di bayangkan di masa depan masjid hanyalah akan menjadi sebuah simbol belaka.

Ironisnya, dalam situasi yang seperti ini. Malah bermunculan aliran-aliran islam yang melakukan aksi pelarangan dan pencegahan segala aktivitas yang mereka anggap bid’ah karena tidak pernah dilakukan Rosulullah SAW. dan tiga kurun waktu setelahnya. Mereka membid’ah-bidahkan dzikir bersama, doa’ bersama dan acara maulid yang kebanyakan semua itu di lakukan di masjid sebagai bentuk meramaikan masjid. Mestinya mereka sadar bahwa dalam keadaan umat yang sudah terjangkit penyakit wahan, cinta dunia, dan takut mati, cara-cara dakwah memberi kesadaran kepada masyarakat agar dekat dengan masjid dan mengenal islam dengan baik, Secara langsung(uslub mubasyir) akan sangat tidak efektif. Untuk itu, perlu kiranya menggiring mereka ke masjid kemudian mengenalkan mereka terhadap keindahan islam dengan inovatif terkemas dalam dzaikir dan do’a bersama serta perayaan-perayaan hari besar islam.

 

 

Comments

comments

tags: , , , , , , , , ,

Related For Rencana Kuffar Menghilangkan Peran Masjid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *