Remaja, Problematika dan Pendidikannya

Friday, October 11th 2013. | Keluarga, Konsultasi

Remaja Ngaji

Remaja, Problematika Dan Pendidikannya

Ibu Nyai Hj. Lilik Qurrotul Ishaqiyah Munif

 

Berbicara dan mengupas tentang remaja dengan problematikanya, ibarat mengukir di atas batu rapuh, karena dari remaja inilah bisa diambil gambaran siapa yang membentuk, siapa yang ada di sampingnya dan kemana arah pandangan masa depannya.

Mengulas balik dengan mengambil contoh cara mendidik Rasulullah Saw. terhadap Sayyidatina Fatimah, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haristah, Usama bin Zaid. Karena dari beliau-beliau inilah kita bisa melihat pribadi nyata, dari segi haliyah, mental, kebijaksanaan, spiritual dan juga kematangan dalam mengarungi hidup yang tidak lepas dari beberapa problematika yang sangat dahsyat.

Fase peralihan dari bayi ke masa kanak-kanak (usia 0-6 tahun) yaitu masa pengenalan, bentuk dan suara orang-orang terdekatnya. Lalu dari masa kanak-kanak ke masa menginjak remaja (usia 6-12 tahun), dimana sosialisasinya mulai meningkat dan cara berbicara, pola pikirannya mulai meniru gaya-gaya orang dewasa. Dari remaja ke dewasa (usia 12-18 tahun),  adalah masa mencari jati diri, dengan merasa dewasa dan merasa sudah besar, remaja lebih cenderung ingin adanya kebebasan, bebas dalam berpandangan, berfikir, berininsiatif, berekspresif dan ingin bebas dari sesuatu yang ingin diketahuinya. Dari sini, peran orangtua harus betul-betul ekstra memperhatikan dan mengarahkan pada hal yang berhubungan dengan tanggungjawabnya. Baik tanggungjawab pada diri sendiri dan tanggungjawab dirinya pada Allah Swt. Imam Ghozali ra berkata, “Anak dilahirkan dengan membawa fitrah yang seimbang dan sehat, kedua orangtualah yang memberikan ‘agama’ kepada mereka.”

 Semua ini tidak lepas dari pengertian orangtua akan hak dan kewajibannya, yaitu hak kewajiban orangtua untuk lebih mengenalkan putra-putrinya pada hal yang paling wajib dari kewajiban yang lainnya. Yaitu wajibnya menanamkan keimanan pada Allah, pada Rasul-rasulNya dengan menanamkan ilmu tauhid. Kemudian menanamkan tanggungjawab dirinya pada Allah Swt dengan ilmu syariat, yakni menekankan sholat, puasa, serta menyeimbangkan semua ilmu tersebut, dengan menanamkan pribadi yang positif dengan memberikan ilmu akhlak (moral).

Mendalami Pribadi Remaja

Orangtua tidak bisa mengambil cermin dari masa remajanya dahulu, di samping kepribadian yang tidak sama, pola kebiasaan zaman dulu dan sekarang berbeda. Apalagi, zaman ini didukung oleh teknologi yang kian canggih. Dari sini orangtua haruslah jeli dengan perubahan putra-putrinya. Dari segi pertumbuhan, emosi, pola pikir dan juga kejiwaannya. Karena hormon remaja akan berubah pesat, dan hal ini bisa membuat hadirnya gejolak-gejolak baru dalam diri remaja dikarenakan perubahan-perubahan tersebut.

Ketika berproses dari fase ke fase inilah orangtua harus tahu apa yang menjadi kebutuhan remaja, di antaranya adalah pengertian, pendampingan, dan pengarahan.

Pengertian dan Menjadi Pendamping

Orangtua harus lebih responsif terhadap apa yang menjadi tanda tanya dan semua gejolak hati remajanya. Karena tanpa pengertian dan pendapingan, banyak sekali remaja cenderung mencari teman yang lebih “sehati”, walau teman tersebut tidak membawanya ke hal yang positif.

Dari setiap tanda tanya dari gejolak hati remaja, pasti ada hal yang perlu ekstra kehati-hatian untuk menjawabnya, agar arahan orangtua bisa difahami oleh anak dan tidak keluar dari daya pikir anak. Karena sekali salah mengarahkan, maka hal ini akan menjadi dilema yang sangat fatal.

Sudahkah orang tua betul-betul bertanggungjawab membekali putra-putri remajanya dengan agama yang kuat?. Bersambung.

 Langitan 20-11-2012.

Comments

comments

tags: , , ,

Related For Remaja, Problematika dan Pendidikannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *