Relevansi Syariat Allah

Wednesday, May 9th 2018. | Kitabah

Berbeda dengan kitab  yang pokok pembahasannya adalah menanamkan rasa cinta kepada Datuk Beliau dan mengarahkan umat kepada akidah yang benar, bacaan ini membahas tentang perkembangan ilmu syariat atau fiqih. Kitab ini mengajak pembaca melihat pergerakan syariat atau fiqih dari masa ke masa yang sangat menarik untuk dicermati, mulai dari turunnya ajaran-ajaran fiqih secara berangsur saat Baginda Nabi masih hidup sampai pada periode empat pendiri madzhab. Abuya membawa pembaca pada sejarah syariat fiqih secara universal: pada tahun berapa syariat-syariat fiqih diturunkan, mulai digali, dan dikembangkan sesuai tuntutan zaman.

Jauh sebelum muncul al Madzahib al Arba’ah sebenarnya sudah banyak ulama ahli ijtihad. Dengan integritas ilmu yang sangat mumpuni, para sahabat dan tabiin seringkali melakukan ijtihad fiqhiyah. Pada masa sahabat, kita mengenal empat Khulafaur Rasyidin, sepuluh sahabat al mubassyirin bi al jannah, serta sahabat lainnya. Pada masa Mu’awiyah, ada Abdullah bin Abbas, orang yang mendapat doa Nabi Saw., lantas Abdullah bin Umar, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Abdullah bin Zubair dan lain sebagainya. Pada masa tabiin, ada Sa’id bin Musayyib, al Qhasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Sulaiman bin Yasar, dan masih banyak lagi. Adapun pada periode awal Islam, perkembangan fiqih sangat signifikan.

Sebagaimana ilmu pengetahuan lainnya, fiqih juga senantiasa berkembang. Para ulama yang menjadi poros Islam berusaha untuk menyikapi permasalahan yang tidak ditemukan sebelumnya. Hal ini dilakukan dengan mengambil referensi berupa pendapat para ulama-ulama salafus shalihun. Sehingga, masyarakat tetap bisa menjalani hidup dalam “jalan fiqih” yang benar, tanpa mengalami kebimbangan. Dan bila ulama tidak melakukan ijtihad, maka masyarakat akan sewena-wena menetapkan hukum, yang menyebabkan bercampurnya perkara yang haq dan bathil. Inilah yang menjadi salah satu sebab runtuhnya fiqih. Padahal, dalam agama Islam, fiqih ibarat ruh. Islam akan hidup selama fiqih ditegakkan. Sebaliknya, Islam akan runtuh dan hancur bila Fiqih mulai dinistakan.

Dengan semakin banyaknya ahli ijtihad di bidang fiqih, masyarakat akan mengetahui beragam pendapat. Perbedaan pendapat di antara mereka biasanya dikarenakan hasil ijtihad yang berlainan, bukan lantaran gengsi, permusuhan, atau sebab lainnya. Hal ini antara lain bisa ditemukan dalam empat pendiri madzhab. Kendati memiliki keilmuan luas, akan tetapi sering kali Imam Abu Hanifah memanfaatkan hujjah Imam Malik, begitu pula sebaliknya. Imam Syafi’i juga menggunakan hujjah Imam Malik. Beliau berkata, “Aku akan menjadikannya sebagai hujjah antara diriku dan Tuhanku.” Begitu juga Imam Ahmad bin Hambal yang mengambil hujjah Imam Syafi’i. Mereka senantiasa menghormati keilmuan dan dasar berpikir tokoh-tokoh madzhab lainnya.

Perbedaan tersebut menggambarkan perkembangan ilmu fiqih. Bagaimanapun, perbedaan adalah rahmat, yang bila diselaraskan akan menjadi “karya seni” yang indah. “Berijtihadlah! Apabila kamu benar, bagimu sepuluh kebaikan. Apabila kamu salah, bagimu satu pahala.” Perintah Rasulullah kepada Uqbah bin ‘Amir Al Juhni. (Lihat hlm 97). Allah akan bersama ahli ijtihad selama mereka tidak sengaja melakukan kebathilan.

Judul buku  : Syariatullah al Khalidah

Pengarang    : Sayyid Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas al Maliki al Maki al Hasani

Tebal                             : 264 halaman

Peresensi     : Muslimin Syairozi

Comments

comments

tags: , , , , , , , , ,

Related For Relevansi Syariat Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *