Rambut Adalah Mahkota dari Allah

Sunday, September 13th 2015. | Fiqih

rambut

Islam adalah agama yang sempurna. Termasuk di dalamnya juga diajarkan berbagai macam cara dan norma dalam bergaul dengan sesama. Dalam mewujudkan pergaulan manusia yang harmonis dan saling menghormati, Allah SWT mengingatkan dalam firmannya: ”Ingatlah wahai manusia, sungguh telah kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui dan Maha Teliti. (Q.S. al-Hujurat: 13)

Namun, perkembangan zaman dan tuntutan ekonomi mulai menggeser cara berpikir dan pandangan manusia dalam pergaulan antarsesama. Masalah-masalah terkini bermunculan dengan bentuk yang beraneka-ragam. Sebagian kecil masalah-masalah tersebut akan kami ulas dengan sudut pandang ilmu fiqih.

 

Trend Gaya Rambut

Keinginan manusia untuk tampil lebih indah dan menawan di hadapan semua orang membuat mereka berlomba dalam berhias dan menata rambut. Muncullah gaya rambut lurus yang direbonding, punk, gimbal, mohawk, dengan semir yang beraneka warna. Tujuan mereka beraneka-ragam, ada yang dibuat lurus agar mudah pakai jilbab, adanya keinginan dari suami, atau hanya sekedar agar lebih menawan dan meyakinkan ketika bertemu lawan jenis. Lalu bagaimanakah hukum merubah gaya rambut sebagaimana di atas?

Pada dasarnya semua amal itu tergantung pada niatnya. Apabila kita niatnya baik maka sebuah amal meskipun zahirnya perkara biasa bisa menjadi ibadah selama amal itu tidak termasuk maksiat. Dan apabila niatnya buruk maka bisa menjadi maksiat meskipun amal tersebut pada dasarnya baik. Beberapa hukum mengubah gaya rambut bisa terperinci sebagai berikut:

  1. Apabila perubahan dengan menyemir hitam, merasa kurang puas dengan ciptaan Allah lalu merubahnya maka ini hukumnya tidak boleh. Kecuali berupa cacat atau adanya sesuatu yang membuat masyaqat dalam kehidupan, seperti terlahir dengan jari enam, maka boleh merubahnya.
  2. Apabila perubahan dengan semir selain hitam maka diperbolehkan selama tidak untuk meniru orang barat (kafir) atau trend orang fasik. Karena siapapun yang meniru gaya orang kafir atau orang fasik maka termasuk mencintainya dan itu tidak di perbolehkan.
  3. Apabila perubahan dengan tujuan agar mudah diatur, mudah pakai jilbab, atas perintah suami dan rambut tidak terbuka ketika di khlayak umum maka di perbolehkan karena perubahan yang sifatnya untuk memperoleh keindahan itu termasuk memperbaiki (tahsin) bukan merubah (taghyir). Namun apabila perbaikan itu untuk tujuan memikat lawan jenis, mengumbar aurat, dll tentu ini tidak diperbolehkan. (Al-Majmu’ [7]: 294, Nihayah al-Muhtaj [2]: 23, Fath al-Bari [10]: 377)

Perincian hukum di atas itu tidak termasuk sanggul dan wig, yaitu penyambungan rambut atau menempelkan sanggul di kepala sebagai mana khas orang Jawa. Adapun hukum menyambung rambut, baik dengan di tempelkan atau dengan proses listrik/kimiawi itu tidak diperbolehkan karena termaktub jelas dalsm hadis, bahwa Allah akan melaknat orang yang menyambung rambut dan yang meminta disambung rambutnya. Baik rambut tersebut dari manusia atau dari binatang. Hal ini mengingat derajat mulia manusia. Toh semestinya rambut itu harus di kubur sedangkan rambut binatang itu kebanyakan dari hewan yang tidak boleh dimakan atau najis bahkan dari bangkai. (Majmu [3]: 148, Ianah atThalibin [2]: 387)

Comments

comments

tags: , , ,

Related For Rambut Adalah Mahkota dari Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *