Rahasia Belajar yang (tidak) Membosankan

Wednesday, September 5th 2018. | Keajaiban

 

Selama ini, sekolah dipercaya oleh banyak kalangan sebagai tempat paling efektif bagi anak-anak untuk menimba ilmu. Sayangnya, saat mengikuti proses pembelajaran dengan bapak atau ibu guru, mereka terlihat kurang bergairah. Setelah berjam-jam duduk di kelas, siswa merasa jenuh dan ingin segera pulang.

Bosan merupakan perasaan yang lumrah dimiliki setiap manusia. Pada umumnya kejenuhan belajar merupakan imbas dari proses yang cenderung monoton dan berlangsung sejak lama. Saat anak didik berada dalam kondisi demikian, tentu apa yang diterima dari proses pembelajaran kurang maksimal.

Padahal, mengutip buku Pengembangan Model dan Metode Pembelajaran dalam Dinamika Belajar Siswa, pembelajaran merupakan “proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan.”

Prinsip Pendidikan

Guna mengatasi fenomena di atas, sejumlah praktisi pendidikan menerapkan beberapa prinsip pendidikan aktif, kreatif, serta menyenangkan. Apri Damai Sagita, dkk (2017: 115-117) menyebutkan prinsip-prinsip yang dimaksud. Pertama, mengalami. Siswa mempelajari banyak hal yang digerakkan oleh naluri sekaligus berbuat berdasarkan pengalaman langsung dengan memberdayakan banyak indra.

Kedua, interaksi. Eratnya interaksi antar siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru membuat pembelajaran menjadi lebih hidup dan menarik, kesalahan dapat dengan mudah dikoreksi, serta kualitas belajar anak didik meningkat.

Ketiga, komunikasi. Interaksi kurang memadai apabila tidak dilengkapi dengan komunikasi yang baik. Interaksi akan lebih bermakna apabila bersifat komunikatif. Keempat, refleksi. Hal ini ditempuh dengan cara memikirkan kembali apa yang diperbuat. Melalui refleksi, kita bisa mengetahui seberapa besar efektivitas pembelajaran yang berlangsung. Refleksi juga dapat memunculkan gagasan baru yang bermanfaat bagi proses pembelajaran.

Firman Allah

Salah satu kehebatan kitab suci Al Quran yaitu memuat metode dan strategi dakwah Islam serta proses pembelajarannya, yang antara lain ditunjukkan dalam sejumlah ayat. Pertama, memberikan kemudahan dan suasana gembira. Allah telah meniupkan motivasi bagi manusia saat mereka memperoleh beban.

Sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nasyroh ayat 1-8 yang artinya, “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (1), dan Kami telah hilangkan daripadamu bebanmu (2), yang memberatkan punggungmu (3), dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu (4), karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (5), sesudah kesulitan itu ada kemudahan (6), maka apabila kamu telah selesai dari urusanmu, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan orang lain (7), dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap (8).”

Ayat di atas menyajikan pelajaran tentang pentingnya melahirkan motivasi anak didik, seperti halnya Allah memompa motivasi Nabi Muhammad SAW. Seorang pendidik seyogyanya senantiasa memberikan harapan bagi anak didik untuk dapat menyelesaikan segala permasalahannya dengan baik.

Kedua, menarik minat. Demi menarik minat siswa dalam proses pembelajaran diperlukan langkah yang tepat. Atas dasar inilah, para pendidik bisa mengambil hikmah mengapa al-Qur’an diturunkan dengan gaya bahasa yang cukup indah, sehingga mampu menarik perhatian umat Muhammad saw.

Allah SWT telah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 125 yang artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan berbantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ketiga, melibatkan semua indra dan pikiran. Cara ini menjadikan proses pembelajaran dapat berjalan secara maksimal. Para pendidik bisa memetik hikmah tentang dorongan manusia untuk memperhatikan apa yang ada di langit dan di bumi melalui indra dan pikirannya. Dalam surat Yunus ayat 101 disebutkan yang artinya, “Katakanlah: perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa’at tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang beriman.”

Keempat, merayakan hasil. Kegiatan merayakan keberhasilan anak didik merupakan ikhtiar membangkitkan rasa percaya diri. Harapannya, mereka senantiasa mampu menorehkan prestasi di masa-masa yang akan datang. Apalagi, dalam al-Qur’an terkandung contoh urgensi merayakan keberhasilan.

Firman Allah dalam surat Fushilat ayat 30 yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan : “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Ayat di atas menyelipkan inspirasi bahwa perayaan hasil belajar merupakan suatu hal yang penting dilakukan oleh para pendidik. Perayaan yang dimaksud bisa berupa pemberian hadiah berwujud materi atau non materi semisal pujian dan doa.

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , ,

Related For Rahasia Belajar yang (tidak) Membosankan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *