Qishasul Anbiya’ (Kisah Para Nabi)

Wednesday, October 25th 2017. | Kitabah

Nama Al Imam al Hafidz Isma’il ibnu Katsir (701 H-774H) begitu akrab di telinga kita. Beliau memiliki keahlian dalam bidang tafsir dan tarikh (sejarah). Selain itu, julukan al-hafidz (hafal sekitar 100.000 hadits) juga merupakan bukti kealiman beliau dalam bidang hadits. Karya-karya beliau banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Salah satu masterpiecenya adalah Tafsir Ibnu Katsir yang genap dialihbahasakan ke beberapa bahasa. Karya ini di antara refrensi utama seorang pelajar yang ingin menguasai ilmu tafsir.

Kini, pembaca disuguhi sebuah tafsir yang berisi sejarah para nabi terdahulu yang terangkum dalam kitab Qishasul Anbiya’ (Kisah Para Nabi). Ibnu Katsir menceritakan kisah dua puluh lima nabi yang wajib diyakini umat Islam secara tertib, mulai Nabi Adam As. hingga nabi Isa As. Ia juga menambahkan beberapa kisah nabi lain, seperti kisah Hizqil (hal: 275) kisah Syamuel As. dan permulaan perkara Nabi Dawud (hal: 277), khabar dari nabi Danial As. (hal: 311), kisah Uzair (hal: 314). Namun, Ibnu katsir tidak mengisahkan tentang Nabi Muhammad Saw. pimpinan semua nabi. Beliau berhenti sampai pada kisah Nabi Isa as. Kami menduga, karena dalam Al-Quran jarang sekali berkisah tentang pribadi Muhammad Saw. Al Qur’an lebih banyak menuturkan umat terdahulu sebagai pelajaran bagi beliau dan para sahabatnya.

Cerita para nabi sangatlah penting bagi umat Islam. Setidaknya mereka bisa mengambil dua pelajaran yang menjadi aspek penguatan iman dalam cerita tersebut. Pertama keteguhan, keberanian, dan ketabahan para nabi terdahulu dalam mensyi’arkan kalimatullah. Kedua, merenungi bagaimana umat terdahulu berperilaku terhadap nabinya, terutama mereka yang tertimpa adzab. Kesalahan mereka adalah pelajaran penting bagi umat Muhammad Saw.

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Hud: 120)

Allah Swt berfirman: “Setiap cerita yang kami suguhkan kepadamu, yakni cerita para nabi terdahulu serta umatnya, bagaimana mereka menentang, mendustakan bahkan menyakiti nabinya, dan bagaimana Allah memberi pertolongan pada orang-orang mukmin yang menjadi tentaranya dan memberi kehinaan pada orang-orang kafir yang menjadi musuhnya. Semuanya termasuk hal yang menguatkan hatimu, hai Muhammad! Supaya saudara-saudaramu (para rasul) terdahulu menjadi contoh.” (Tafsir Ibnu Katsir jus 2 hal 566)

Menarik menelaah kitab Qishasul Anbiya’ ini. Meski terkenal dengan kealimannya di bidang tafsir dan sejarah, akan tetapi Ibnu Katsir jarang sekali mengutarakan pendapatnya tentang cerita yang ada dalam kitab ini. Beliau lebih senang bercerita tentang ayat Al-Quran dengan ditafsiri ayat al-Qur’an lain, kemudian  menggunakan hadits dan menukil keterangan ulama ahli tafsir pendahulu beliau. Ibnu katsir lebih sering mencantumkan kata “qaala ahlu tafsir (ahli tafsir berkata)” dan “qaala ulamau at tafsir (para ulama ahli tafsir berkata)”.

Pen-tahqiq (Imad Zaki al Barudi) menyatakan bahwa kitab Qisashul Anbiya’ adalah nukilan dari kitab Ibnu Katsir yang besar, yakni Al Hidayah wan Nihayah. Hanya saja pengarang membuatnya lebih kecil, hanya satu jilid. Imad Zaki melanjutkan, sebenarnya kitab ini tidak perlu di tahqiq (dibenarkan) maupun diberi ta’liq (catatan), mengingat pengarangnya adalah seorang yang hafidz dan ahli hadits yang cemerlang. Bahkan, seringkali pengarang ini memberi ta’liq untuk menunjukkan kebenaran hadits dan kedloifannya.

Judul Buku      : Qishasul Anbiya’

Penulis             : Al Imam al Hafidz Isma’il ibnu Katsir

Penerbit          : Daarut Taufiqiyyah lit Turats

Tebal                : 376 Halaman

Peresensi        : Muslimin Syairozi

Comments

comments

tags: , ,

Related For Qishasul Anbiya’ (Kisah Para Nabi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *