Psikologi Pendidikan Anak

Friday, January 22nd 2016. | Keluarga, Konsultasi

anak

Psikologi Pendidikan Anak

 

Pada tahun 2009, Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni menetapkan perencanaan Pendidikan Agama Usia Dini. Ia menghimbau agar pelaku pendidikan dan orang tua sadar tentang pentingnya bekal keagamaan bagi anak.

Penerapan pendidikan agama bagi anak berpengaruh signifikan terhadap perkembangan karakteristik dan rangsangan spiritual positif pada kejiwaan mereka. Pembekalan pendidikan agama yang dilakukan sejak dini menjadikan anak didik tidak hanya memperoleh pemahaman agama dengan benar, tetapi juga menghindarkan mereka dari bahaya dan pengaruh negatif, seperti narkoba, trafficking, dan lain sebagainya. Pertumbuhan metode pembelajaran yang berfokus pada anak usia dini, seperti PAUD, merupakan di antara bukti kepedulian pemerintah terhadap pendidikan anak usia dini.

 

Urgensi Psikologi Pendidikan

Memahami psikologi pendidikan anak sangat penting bagi orang tua dan guru. Dengan demikian, orang tua dan guru dapat menerapkan beragam metode yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak. Harapannya, proses pembelajaran berjalan optimal.

Di setiap usia, psikologi pendidikan anak berbeda-beda. Psikologi pendidikan anak usia balita tentu berbeda dengan usia sekolah dasar. Pun, berbeda pula dengan psikologi pendidikan usia di atas SD.

Kali ini, kita membahas tentang anak usia sekolah dasar (SD). Metode-metode yang berkembang baru-baru ini menyebutkan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian orang tua dan guru, supaya tujuan mereka mendidik anak dapat terealisir. Guna memahami psikologi pendidikan anak usia sekolah dasar, kita dituntut untuk memahami karaterisktik anak usia sekitar 5-11 tahun. Beberapa karakter yang umum dimiliki mereka yaitu:

 

Aktif

Umumnya, anak-anak usia SD tidak bisa diam. Senang bergerak dan bertingkah semaunya. Berbeda dengan orang dewasa yang lebih tenang dan betah duduk berjam-jam, mereka lebih senang bergerak. Kebanyakan, mereka bisa tenang hanya beberapa menit. Tugas orang tua dan guru adalah mengikuti, mengawasi, dan mengarahkan setiap perilaku mereka agar bernilai positif.

 

Dunia Bermain

Mereka kerap bermain, baik di rumah, sekolah, ataupun tempat lain. Anak identik dengan dunia bermain, keceriaan, kegembiraan, dan celotehan. Oleh karena itulah, banyak sekolah yang menerapkan permainan-permainan menarik saat proses belajar-mengajar berlangsung. Pada waktu guru mengajar, mainan dijadikan bahan ajar.

 

Praktik

Bagi mereka, berlama-lama mendengarkan pelajaran dari guru atau pengajaran dari orang tua sangat membosankan. Bisa jadi, apa yang disampaikan tidak dicerna oleh otak dan hati mereka. Anak-anak usia SD lebih mudah memahami pelajaran yang diberikan dengan cara praktik.

 

Belajar Kelompok

Ada banyak manfaat ketika anak-anak belajar kelompok bersama teman-teman sebaya (satu kelas). Di antara manfaat yang dimaksud yaitu belajar bersosialisasi, setia kawan, kerja sama, gotong royong, dan saling membantu atau rasa tenggang rasa.

Dengan mengetahui karakteristik anak-anak, para guru dan orang tua dapat memahami psikologi pendidikan mereka, sehingga pada akhirnya mampu memilih metode pembelajaran yang tepat dan sesuai.

Dari paparan di atas, bisa disimpulkan bahwa terdapat beberapa model pendidikan yang bisa diterapkan oleh orang tua dan guru.

  1. Metode yang membuat anak bisa bergerak atau berpindah tempat.
  2. Metode yang bermuatan permainan.
  3. Metode belajar kelompok.
  4. Metode yang melibatkan mereka dalam praktik.

Ilmu pengetahuan tentu sangat mudah diserap anak-anak jika model pendidikan disesuaikan dengan karakter dan psikologi mereka.

[Umar Faruq]

Comments

comments

tags: , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Psikologi Pendidikan Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *