Prof. Dr. H. Imam Suprayogo: Berwisata Melalui Catatan Hikmah Kiai

Monday, January 18th 2016. | Pemikiran, Uncategorized

 

Imam Suprayogo

Setelah shalat maghrib, datanglah dua pemuda. Keduanya mengaku sebagai santri pesantren Miftahul Huda, Gading, Malang, asuhan Kiai M. Baidhawi Muslich. Pesantren yang sudah berumur tua itu cukup dikenal masyarakat. Para santri yang mengaji di sana kebanyakan berstatus mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Mereka kuliah sekaligus mondok, termasuk kedua mahasiswa yang diutus sang kiai datang ke rumah.

Segera setelah duduk, keduanya menyampaikan salam dari kiai dan menyerahkan sebuah buku yang siap cetak kepada saya. Sekalipun sudah ada surat yang diserahkan bersama buku dimaksud, kedua santri memberitahukan bahwa Kiai Baidhawi Muslich berhasil menulis buku dan akan diterbitkan.

Sudah barang tentu saya sangat senang. Apalagi, buku yang diberikan tersebut ditulis sendiri oleh seorang kiai yang sudah lama saya kenal. Bahkan, secara pribadi, saya mengagumi kegigihannya mengembangkan pesantren di lingkungan kampus. Selama ini, saya menganggap pesantren yang diasuh oleh Kiai Baidhawi Muslich sangat kompeten untuk menyiapkan pemimpin masa depan. Di sana, para santri sekaligus menjadi mahasiswa. Keinginan para tokoh Islam sejak dulu, yaitu lahirnya ulama yang intelek dan intelek yang ulama, melalui pesantren, insyaallah akan terwujud.

Setelah berbincang-bincang dengan utusan kiai dan membaca surat yang disampaikannya, ternyata saya juga diberi kehormatan untuk menulis pengantar buku dimaksud. Bagi saya, tidak ada yang berat memenuhi harapan kiai yang memang sudah lama saya kagumi karya-karyanya tersebut. Banyak tulisan Kiai Muslich Baidhawi yang telah saya baca, baik berupa buku maupun tulisan-tulisan lepas di majalah, buletin atau media cetak lainnya. Selama ini, saya melihat sang kiai juga seorang sarjana. Selain berdakwah secara lisan, beliau juga mampu berdakwa melalui tulisan. Dengan begitu, terasa bahwa dakwah kiai menjadi komplit.

Setiap kali membaca tulisan Kiai Baidhawi Muslich, saya seolah sedang berwisata. Tujuan utama berwisata adalah memperoleh kesenangan hati dengan menyaksikan suatu keindahan. Seperti halnya ketika saya membaca buku Etika, Hikmah & Dakwah. Membaca buku ini, tidak saja pikiran saya diajak memahami dan merenungkan sesuatu, tetapi juga dibawa pada indahnya realitas sehari-hari.

Melalui tulisannya di buku ini, sang kiai mengajak pembaca untuk merenungkan, memikirkan, dan memahami kehidupan ini secara luas dan mendalam. Hal ini sebagai bekal keselamatan dan keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat. Di dalamnya memuat banyak teladan kehidupan Nabi Muhammad beserta para pengikutnya. Itulah mengapa, membaca buku ini bagaikan berwisata melalui catatan hikmah seorang kiai.

Saya berpandangan, siapapun perlu membaca buku ini, terlebih lagi para santri dan mahasiswa yang kelak menjadi pemimpin umat. Isi buku ini sangat penting sebagai bekal agar kehidupan kita dapat terhindar dari hal-hal yang merugikan. Selain itu, dengan membaca buku ini, seolah-olah kita selalu dapat berdzikir dan berdialog bersama penulisnya. Selamat membaca!

Comments

comments

tags: , , , ,

Related For Prof. Dr. H. Imam Suprayogo: Berwisata Melalui Catatan Hikmah Kiai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *