Presiden Republik Indonesia Ajak Rukun dalam Kemajemukan

Tuesday, April 3rd 2018. | Kabar

 

Bulan Maret lalu, Presiden Republik Indonesia, Bapak Ir. H. Joko Widodo sowan ke Pondok Pesantren Langitan. Datang sekitar pukul 18:11 WIB. Presiden Jokowi (sebutan Bapak Ir. H. Joko Widodo) langsung menunaikan shalat Maghrib kemudian bertemu dengan keluarga (ndalem) Langitan. Hadir dalam pertemuan itu seluruh Masyayaikh Langitan, K.H. Ubaidillah Faqih, K.H. Abdullah Munif, K.H. M. Ali Marzuqi, K.H. Muhammad Faqih, K.H. Abdullah Habib Faqih, K.H. Abdurrahman Faqih, dan K.H. Macshoem Faqih. Setelah menggelar pertemuan dengan para ulama di ndalem Romo Yai Ubaidillah Faqih, beliau menemui para santri Langitan.

Para santri sangat bersemangat mengikuti acara seremonial. Saat berhadapan dengan para santri, Presiden Jokowi mengingatkan untuk senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan di Indonesia. Lantaran negara ini tersusun atas berbagai suku, bangsa, ras, dan agama, para santri dihimbau untuk memelihara kerukunan.

Menjaga Kerukunan

Dalam sambutannya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan bahwa dirinya sangat senang bisa bersilaturrahim dengan para santri Pesantren Langitan. “Saya lihat santri-santrinya ceria semuanya, memperlihatkan santri-santri di sini dinamis dan pintar-pintar.” Ujarnya. “Perlu diketahui bahwa negara ini adalah negara besar. Negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Santrinya juga terbanyak di dunia, dan tak ada negara lain yang memiliki hari santri. Indonesia punya hari santri. Alhamdulillah ini patut untuk disyukuri.” Tambahnya.

“Indonesia memiliki 268 juta penduduk, 85% nya muslim. Ini juga anugrah dari Allah, Indonesia ini majemuk, Indonesia ini bermacam-macam, berbeda-beda, sukunya saja ada 714. Bahasa daerahnya juga berbeda-beda, agamanya juga berbeda-beda.” Oleh sebab itulah, pada kesempatan yang berbahagia tersebut, Presiden Jokowi mengajak santri untuk memupuk persatuan dalam kemajemukan. “Marilah kita menjaga persatuan kita, menjaga kerukunan kita, menjaga persaudaraan kita, menjaga ukhuwah Islamiyah kita, menjaga ukhuwah wathaniyah kita dan yang lebih besar menjaga ukhuwah basyariyah kita. Jangan lupa semua perbedaan itu adalah anugrah yang diberikan oleh Allah kepada kita.” Pungkasnya.

Tawa Presiden

Masih dalam rangkaian kunjungan Presiden ke Langitan, dalam sesi sambutan Bapak Jokowi memberikan tiga sesi pertanyaan kepada santri. Pertama, penyebutan sepuluh nama ikan. Kedua, penyebutan sepuluh suku di Indonesia. Ketiga, penyebutan sila-sila Pancasila. Semua pertanyaan itu dapat dijawab dengan baik oleh semua santri Langitan, meski sempat terjadi beberapa “kesalahan”.

Para hadirin riuh saat santri menyebutkan nama ikan dengan Bahasa Jawa: Ikan Wader dan Betik. Spontan tawa presiden pecah membahana. Suasana penuh keakraban pun tak bisa dibendung. Semua hadirin akhirnya juga ikut tertawa. Setelah itu, orang nomor wahid di Indonesia itu pun melontarkan pertanyaan tentang sepuluh nama suku di Indonesia. “Suku Madura, suku Batak, suku Aborigin,” ujar Faiq, salah seorang santri Langitan. “Suku Aborigin itu Australia,” timpal Jokowi sembari tersenyum.

Faiq melanjutkan jawabannya. Namun, lagi-lagi disela oleh Jokowi. “Suku Baduy, suku Asmat, Suku Jawa, Suku Jawa Timur,” ucap Faiq. “Nggak ada suku Jawa Timur. Ngawur. Nanti ada suku Jawa Tengah,” goda Bapak Jokowi. Faiq pun nekat menyebutkan nama suku lain, seperti suku Sunda, suku Dayak, dan suku Betawi.

Sedangkan pertanyaan tentang sila-sila Pancasila mampu dijawab dengan lancar oleh salah satu santri. Karena keberhasilan mereka menjawab pertanyaan presiden, tiga santri akhirnya menerima hadiah sepeda angin. Di antara santri yang beruntung itu adalah Ahmad Faiqul Huda, Alvin Mukafi, dan Luthfi Anshori.

Simbol Kemandirian

Meski diguyur hujan lebat, santri Langitan cukup antusias mengikuti acara. Ketika mengetahui para santri basah kuyup, Presiden Jokowi pun tidak canggung merangsek ke tengah santri. Bahkan, dalam sebuah foto, Bapak Presiden menunjukkan adab yang baik dengan memegang payung bersama K.H. Macshoem Faqih Langitan.

Memang sudah menjadi kebiasannya, saat melakukan kunjungan Bapak Jokowi selalu memegang payungnya sendiri. Mungkin ini simbol kemandirian. Semoga momentum ini menjadi awal yang baik bagi hubungan antara ulama dan umara. Sehingga, ulama senantiasa memberikan nasihat kepada umara, adapun umara siap berkhidmah bagi rakyatnya.

 

Comments

comments

tags: ,

Related For Presiden Republik Indonesia Ajak Rukun dalam Kemajemukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *