Pondok Pesantren Gedongsari (Mengutamakan Khidmah dan Istikamah dengan 130 Santri)

Sunday, April 6th 2014. | Uncategorized
madrasah irsyadiyah tampak dari depan

Madrasah Irsyadiyah tampak dari depan

Setelah hampir dua jam kami terkatung-katung di atas motor, menyusuri tepian kali Brantas yang riak airnya memantulkan cahaya lampu-lampu desa, akhirnya, kami tiba di tempat tujuan: Pondok Pesantren Gedongsari.  Sudah lama kami mendengar nama pesantren yang terletak di Tegalan, Prambon, Nganjuk, Jawa Timur itu, namun baru kali ini kami bisa datang langsung dan turut menimba ilmu di sana. Segala penat dan rasa lelah terhapuskan oleh hawa sejuk dan asri yang ditawarkan oleh pesantren yang akrab disebut dengan Pondok Gedong ini.

 

Kiai yang Menuntun Kuda

Pondok pesantren Gedongsari didirikan pada kisaran tahun 1901 oleh Mbah Kiai Imam Mustajab. Seorang ulama’ linuwih yang berasal dari desa Padangan, Bojonegoro.

Mbah Mustajab menghabiskan masa mudanya dengan nyantri di Pondok Pesantren Langitan, di bawah asuhan KH. Muhammad Soleh selama kurang lebih 20 tahun. Sehari-hari Mbah Mustajab menghabiskan waktunya dengan nderek (khidmah) kepada Mbah Kiai Soleh. Dan tugas beliau adalah memberi makan ternak (angon wedus), mengisi bak mandi Kiai, mencari ikan di bengawan. Pada intinya, prinsip belajar beliau adalah khidmah: taat, patuh pada apapun yang diperintahkan oleh Kiai.

Kalau kita pernah mendengar kisah dari para guru kita tentang seorang santri Langitan yang diutus sang Kiai membawa kuda dan tidak menaikinya melainkan hanya menuntunnya karena perintah Sang Kiai adalah membawanya saja, maka itulah Mbah Mustajab. Kala itu beliau diutus Mbah Kiai Soleh Langitan untuk menyampaikan surat kepada menantunya yaitu Kiai Soleh Gondanglegi. Dalam perintahnya, Kiai Soleh mengatakan kepada Mbah Mustajab untuk membawa seekor kuda dengan maksud agar perjalanan itu menjadi lebih cepat. Maka, berangkatlah beliau dengan membawa surat yang entah apa isinya itu sambil menuntun kuda tersebut, karena dawuh yang ditangkap Mbah Mustajab hanya “Bawalah Kuda ini”, sama sekali tidak ada perintah untuk menunggangi.

Karena jalan kaki menuntun kuda dari Langitan di Tuban sampai ke Gondanglegi Nganjuk, maka perjalanan Mbah Mustajab pun lama, sehingga Mbah Kiai Soleh Langitan pun bertanya dan ternyata Mbah Mustajab tidak menaiki kuda tersebut.

 

Karena Sebuah Surat dan Bertemu Nabi Khidir

Sungguh tidak pernah terlintas di benak Mbah Mustajab, bahwa surat yang dibawanya untuk disampaikan kepada KH. Soleh Gondanglegi itu berisi sebuah maklumat yang akan mengubah hidup Mbah Mustajab untuk selamanya. Dalam surat itu, KH Soleh Langitan menyampaikan agar santri yang mengirimkannya (Mbah Mustajab) diambil menantu oleh KH Soleh Gondanglegi. Tentu saja maklumat itu langsung diamini oleh KH S.oleh Gondanglegi, mengingat surat itu datang langsung dari KH Soleh Langitan yang tidak lain adalah guru dan juga mertua beliau sendiri.

Mbah Mustajab mendapati kenyataan ini dengan berat hati, bagaimana tidak, sang mertua, KH. Soleh Gondanglegi pada waktu itu termasyhur sebagai seorang ulama’ yang ahli dalam bidang ilmu alat dan fiqihnya, sementara Mbah Mustajab, beliau merasa sama sekali tidak memiliki ilmu, selama ini mondoknya  hanya digunakan untuk nderek saja.

Hari-hari beliau dijalani dengan penuh keresahan karena menjadi menantu seorang ulama’ besar, sampai pada puncaknya, Allah Swt mempertemukan Mbah Mustajab dengan Nabi Khidzir AS, sejak saat itulah dibuka pintu hati Mbah Mustajab, dimudahkan baginya segala ilmu-ilmu dan karomah yang tak terduga, singkatnya, beliau mendapat ilmu laduni, berkat ketaatannya, kepatuhannya pada Kiai serta sifat tawakkalnya.

 

Santri Gedongsari Selalu Hanya 130

Pondok Gedong awalnya hanya berupa angkring (gubuk) yang didirikan di Gedong, Tegalan Prambon, Nganjuk, salah satu kawasan abangan yang tidak sembarang orang bisa membabat tanah itu.

Angkring yang didirikan Mbah Mustajab hanya beberapa meter saja, dibagi dua, menjadi tempat tinggal Mbah Mustajab dan keluarga, dan tempat untuk mengaji para santri yang pada waktu itu baru 30 orang, di antaranya adalah KH. Abdu Jalili dan KH. Abdul Jalal Ngawi.

Semakin lama, karena jumlah santri semakin banyak, maka para santri pun mendirikan angkringan-angkringan baru sebagai tempat tinggal. Namun yang unik, Mbah Mustajab tidak mau memiliki santri lebih dari 130, dan entah, sampai sekarang batas angka itu tidak pernah kurang ataupun lebih, selalu jumlah santri yang keluar dan masuk akan menggenapi bilangan 130, meski sekarang banyak santri nduduk (tidak domisili di pesantren), namun untuk santri yang bermukim di dalam pesantren jumlahnya selalu 130.

Menurut beliau mengurus santri terlalu banyak itu sulit, sehingga setiap kali jumlah santri lebih dari angka itu, maka beliau akan meninggalkannya, karena bagi beliau lebih baik sedikit tapi mudah ditata dan gampang diatur, dari pada banyak tapi susah aturannya.

Seiring perkembangan santri yang semakin banyak, juga berbagai fan keilmuan yang semakin kompleks, pondok pesantren Gedongsari atas kerja keras santri senior bersama KH. Hasanudin (Winong-Nganjuk) dan restu dari Mbah Kiai Imam Mustajab, Madrasah Irsyadiyah pun didirikan, agar kegiatan belajar lebih tertata dan sistematis dengan dibentuknya kelas-kelas dengan materi pelajaran disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan yang ada.

Gedongsari dalam Peristiwa 10 November

Keberadaan pondok pesantren Gedongsari sebagai salah satu pusat pembelajaran agama Islam yang digawangi oleh seorang ulama’ besar yang berdiri di tengah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, Pondok Gedong pun turut andil dalam peristiwa besar 10 November di Surabaya bersama arek-arek Suroboyo dan Bung Tomo.

Kala itu Mbah Mustajab mengirim tujuh santrinya ke Surabaya dengan hanya berbekal bawang merah dan putih yang telah diberi do’a. Dan, Atas izin Allah Swt, dalam kecamuk perang ketujuh santri pilihan tersebut melontarkan bekalnya laksana bom meriam yang sanggup meluluhlantahkan sebagian tentara Sekutu.

Nama Gedongsari diambil dari dua suku kata basa jawa “Gedong” dan “Sari” yang berarti gudang atau tempat penyimpanan bagi inti sari keilmuan agama. Bertahun-tahun pesantren Gedong telah memberikan kontribusi yang tak kecil bagi kejayaan agama Islam dengan terus mencetak santri-santri yang mumpuni dalam ilmu agama. Semua itu tetap dilandaskan satu pola dasar yang tidak bisa diubah sebagaimana yang pernah dialami sendiri oleh Pendirinya, yaitu ketaatan dan kepatuhan terhadap guru. Sebab hanya dengan khidmah semua ilmu akan dapat diperoleh, barokah akan diturunkan. Wallau A’lam.

 

AA. Dzikri & Kafabihi

Comments

comments

Related For Pondok Pesantren Gedongsari (Mengutamakan Khidmah dan Istikamah dengan 130 Santri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *