Politisasi Makna Jihad

Saturday, May 4th 2013. | Cerpen, Dawai

“Ana masih ingat pernyataan petinggi Amerika ketika Unisovet bubar menjadi negara-negara kecil, bahwa ketika persaingan dua negara adi daya telah berakhir, maka musuh selanjutnya adalah Islam”
“Apa hubungannya antara keruntuhan Unisovet dengan dijadikannya negara Islam menjadi sasaran selanjutnya” tanya Kang Jalil atas pernyataan Kang Aba Abid.
“Lho, masa’ ente lupa, bahwa pertarungan antara Islam dan Barat (baca Kristen) tidak akan pernah berakhir, sejarah mencatat, sejak kehadiran Islam, kaum kristiani terusik dan merasa digugat eksistensinya” jawab Kang Aba Abid.
“Dimana nalarnya kang?” serga Kang Jalil.
“Keterusiknya kaum kristiani dengan kahadiran Islam, setidaknya dibuktikan dengan semangatnya kaum orientalis atau islamologi melakukan kajian keislaman dengan tema-tema konsep dasar keagamaan, mulai dari konsep ketuhanan, kenabian, kesucian Al Qur’an, kema’shuan Nabi dan semua yang terkait dengan doktrin Islam. Akhir dari kajian yang mereka lakukan tentu mencari celah dan kesalahan Islam dalam rangka melemahkan kebenaran yang diusung Islam”.

“Tapi kan semua terjawab bahwa Islam hadir dengan nalar kebenaran, informasi Al Qur’an bahkan terbukti melampau daya nalar manusia ketika diturunkan, kemu’jizatan Qur’an semakin tak terbantahkan dari waktu kewaktu, ya tho?. Bahkan dalam kasus tertentu terbukti kaum orientalis akhirnya masuk Islam ketika yakin akan kebenaran Qur’an. Seperti Sang Prof Williem yang ahli geneologi dasar laut, masuk Islam setelah melakukan penelitian Surat Ar Rahman yang menginformasikan tidak campurnya dua arus air padahal diantaranya tidak ada pemisah”. bantah Kang Jalil sambil mengangguk ketika disapa isyarat santri yang lalu-lalang jelang hajatan Haul Langitan.
“Ketika kebenaran Islam tidak terbantahkan, kaum orientalis mecoba mengalihkan issu yang dikembangkan untuk kepentingan ekonimi-politis. Kepentingan tersebut dimaksudkan untuk melangengkan hegomoni mereka pada negara-negara berkembang yang notabenenya negara Islam. Rasanya kita masih ingat, bagaimana kuatnya sahwat Amerika menghancurkan Irak yang kala itu dipimpin Saddam Husain. Dalil pembenarnya bisa dicari, mulai alasan bahwa Sang Presiden itu diktator, melanggar HAM, mengebiri hak kaum perempuan atau alasan apa saja sebagai pembenar. Padahal dengan jelas Amerika membungi-hanguskan Irak karena Sang Presiden sering tidak mau tunduk kepada Amerika soal pengelolaan minyak”. Jelas Kang Aba Abid
“Logikanya?” serga Kang Jalil.
“Amerika itu jadi raja alias pengendali negara sumber minyak. Padahal sumber minyak terbesar berada dinegara-negara Timur Tengah, termasuk Irak. Nah… jika Irak yang notabene pemilik sumber minyak kemudian tidak nurut kepada Amerika, kan dengan sendirinya Amerika akan menjadi raja ompong tanpa kekuasaan dan wibawah. Pada posisi seperti ini kaum orientalis yang dibesarkan oleh Amerika dan negara semadzhab, melakukan gugatan-gugatan dan tawaran sudut pandang lain arti dari HAM, gender, demokrasi, kebebasan beragama dan issu-issu lain. Issu yang digulirkan dibarengi dengan paradigma untuk membingkai kepentingannya. Maka dengan waktu yang relatif pendek diskusi tentang issu-issu tersebut bagai bola salju, digulirkan dan semakin membesar. Maka dengan sendirinya akan tebangun kelompok pro dan kontra. Sebagian mendukung pikiran orientalis, sebagian menolak, sebagian kebablasan menjadi liberal dan sebagain terlanjur kolot dan ortodoks”.

“Apa kayak diskursus seputar hermeunetik Qur’an”. Tanya Kang Jalil.
“Betul ente, hermeunetik itu cara tafsir Injil dengan mengedepankan kontekstual dan mengesampingkan sama sekali tekstual. Dalam batas tertentu dapat ditoleransi, tho kita kenal ada asbabun nuzul dalam Qur’an. Cuman masalahnya, ketika semua ayat Qur’an ditafsir dengan pola hermeunetik, maka nasib Qur’an akan seperti Injil”.
“Maksud ente”.
“Al Qur’ana akan kehilangan teks suci aslinya, karena mufasir hanya terfokus pada isi dan kontekstual ayat. Ketika Qur’an sudah kehilangan teks aslinya, maka dapat dipastikan akan kehilangan elan final kemu’jizatan Qur’an. Bukankah kita sama mengetahui bahwa diantara mu’jizatnya Qur’an adalah teksnya?. Konsekwensinya ketika Qur’an sudah hilang teks aslinya, maka akan terbit Qur’an dengan berbagai versi, sebagaimana Injil yang juga akhirnya terbit dengan berbagai versi, yang kemudian dibakar sebagaian besar dan disisahkan hanya 4 teks saja”. Jelas Kang Aba Abid

“Wah..bisa jadi diskursus Jihad juga bagian dari intrik mereka”?.
“Dzan kita begitu. Coba kita mereview ingatan. Setelah kejadian mengegerkan ditabraknya gedung WTC dengan pesawat, petinggi Amerika gembar-gembor dimana-mana akan melakukan perang dengan teroris. Moncong sejata langsung diarahkan pada Osama bin Laden. Dia dan para pengikutnya dikejar terus walau sampai kelombang semut. Nah.. disini anehnya, kesalahan Osama tidak pernah dibeberkan dimata dunia, yang kita tahu Osama diputus sepihak sebagai teroris. Dan akhirnya terbuktikan bahwa Amerika bohong besar, sebab setelah Osama wafat ditembak dipersembunyiannya, ternyata tidak ditemukan dokumen apapun yang mengarah bahwa Osamah adalah teroris”.
”Gedung WTC itu”, sambung Kang Aba Abid, “menjadi tumbal yang sengaja dikorbankan oleh Amerika begitu juga pesawat yang dipakai. Indikasinya adalah tidak ditemukan orang Yahudi warga Amerika yang ikut terpanggang dalam gedung. Ini disinyalir Amerika sudah menskenario semua dengan apik dan rapi. Juga robohnya gedung yang luluh kebawah, tidak kesamping, mengidikasikan, bahwa runtuhnya gedung itu sudah diskenario dengan teknologi cangih”.
“Trus apa untungnya bagi Amerika”?..
“Nah..Setelah gedung runtuh, menjadi momentum mendeklarasikan perang melawan teroris. Repotnya, moncong senjata diarahkan kepada kaum muslim. Amerika melakukan itu dengan alasan didalam Islam ada ajaran jihad, yang artinya perang melawan non muslim. Diskursus ini terus digelorahkan oleh semua media yang memiliki afiliasi dengan Amerika. Sehingga dimana-mana marak diskusi seputar jihad. Dan sampai pada kesimpulan bahwa Islam adalah teroris sehingga layak menjadi musuh bersama”. Jelas Kang Aba Abid.
“ Kan para pakar Islam dapat meluruskan”?..serga Kang Jalil.
“Di sinilah kang kekalahan telak kita, kebenaran arti jihad yang tidak hanya berkonotasi dengan perang, kalah nyaring dengan mereka. Sebab yang pegang media adalah mereka, sementara media yang pro dengan aspirasi Islam paling hanya media lokal dan nasional saja”.
Mereka berdua terus melakukan diskusi, betapa perjuangan ini masih panjang. (abaabid.abid@gmail.com)

Comments

comments

tags: , , ,

Related For Politisasi Makna Jihad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *