Permata dalam Shahih al Bukhari

Saturday, June 9th 2018. | Kitabah

Ulama bersepakat bahwa Shahih Bukhari adalah kitab hadits yang paling sahih, karena semua hadits yang tercantum di dalamnya diseleksi secara ketat oleh pengarangnya. Sekiranya bila syarat-syarat hadits sahih kurang terpenuhi, maka Imam Bukhari tidak akan mencatumkannya. Sehingga, dalam kitab ini pembaca tidak akan menemukan sifat kurang terpercaya (tsiqah) dalam diri perawi.

Kesahihan kitab semakin kuat lantaran didukung dengan mujahadah yang ditempuh oleh Imam Bukhari. Pada setiap hadits yang beliau sertakan, terlebih dahulu beliau mandi dan menunaikan shalat dua rakaat sebagai bentuk istikharah. Beliau berkata, “Sesungguhnya aku akan menjadikan hadits ini sebagai hujjah antara diriku dan Allah Swt.”

Demikianlah Imam Bukhari bermujahadah. Tak mengherankan jika banyak ulama yang berusaha memberi syarh, men-takhrij dan meringkas kitab Shahih Bukhari. Bahkan, sebagian ulama berusaha menata ulang kitab ini karena peletakan babnya “sedikit kurang tertib”. Ini semua bertujuan mengharap limpahan berkah dari Imam Bukhari serta Nabi Saw., melalui haditsnya.

Termasuk yang menukil hadits tersebut adalah Mushtafa Muhammad Imarah. Dia mengarang kitab Jawahir al Bukhari (Intan-intan Imam Bukhari) yang berisi tujuh ratus hadits pilihan dari Shahih Bukhari. Padahal, sebenarnya apa yang termaktub dalam kitab Shahih Bukhari adalah hadits-hadits pilihan. Dengan demikian, kitab ini adalah ringkasan atau beberapa nukilan dari kitab asal. Mushtafa Muhammad Imarah mengucapkan bahwa seluruh kalam atau hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari merupakan permata, intan, perhiasan, bahkan matahari yang bersinar terang dan bintang yang indah.

Karena melihat hebatnya kitab sahih tersebut, Mustafa Muhammad Imarah pun membuat tata tertib sebagaimana apa yang dilakukan oleh Imam Bukhari,. Selain itu, Mustafa Muhammad Imarah ingin mempermudah pembaca dalam murajaah dan mencari referensi yang lebih lengkap pada kitab asal. Di samping menghindarkan pembaca dari rasa malas, pengarang juga tak ingin mempersulit pembaca yang membuang waktu sekadar untuk mencari letak hadits asal.

Kitab ini juga memuat Syarah al Qustalani karangan Ahmad bin Muhammad bin Abu Bakar bin Abdul Malik bin Ahmad bin Muhammad bin Husain bin Ali al Qusthalani al Qhahiri al Syafi’i, atau lebih dikenal dengan Syekh al Qusthalani. Beliau adalah seorang yang alim, wira’i, cerdas, penghias agama dan pensyarah hadits Nabi Saw. Imam Musthafa memandang bahwa Syarah Imam Al Qustalani adalah syarah yang bagus.

Syarah yang dimaksud genap memudahkan pemahaman pembaca. Imam Musthafa menukil haditsnya kemudian memberikan syarah terhadap kalimat-kalimat yang sulit dipahami atau memberi keterangan terhadap makna yang samar. Karenanya, Imam Musthafa menganggap cukup syarah yang ada dalam kitab al Qustalani tanpa harus menambahkan pemahaman dari dirinya.

Dengan membaca kitab ini, pembaca bisa memperdalam hadits Nabi Saw. Apalagi, di dalamnya termaktub dua kitab yang luar biasa. Kitab ini memuat nukilan hadits Shahih Bukhari yang menjadi induk kitab sunnah dan Syarah Al Qusthalani sebagai sarana untuk memahami hadits shahih tersebut.

Nama Kitab       : Jawahir al Bukhari wa Syarh al Qusthalani

Pengarang         : Musthafa Muhammad Imarah

Penerbit            : Haramain

Tebal                : 544 halaman

Comments

comments

tags: , , , , , , ,

Related For Permata dalam Shahih al Bukhari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *