Perlawanan Kiai Abbas dalam Perang 10 November

Tuesday, September 19th 2017. | Tokoh

Kiai Abbas bin Abdul Jamil

 

Kemerdekaan Indonesia tidaklah bisa di lepaskan dari peran para ulama’. Dari tangan ulama’ lahir para pejuang-pejuang yang kuat, siap gugur, siap mati demi NKRI. Kiai Abbas Buntet adalah salah satunya. Dalam pertempuran 10 November di Surabaya, Kiai Abbas mempunyai peran sentral di sana. Pejuang Indonesia yang bersenjatakan bambu runcing, golok, dan parang tak gentar menghadapi penjajah yang bersenjata lengkap dan modern. Di bawah pimpinan Kiai Abbas, pertempuran yang berlangsung selama dua hari tersebut berhasil memukul mundur tentara Belanda.

 

Pemerjuang Kemerdekaan

Saat perjuangan kemerdekaan Indonesia berada pada puncak yang ditandai dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Kiai Abbas yang telah menjadi sepuh meninggalkan aktivitasnya mengajar kitab kuning. Menurutnya, pada masa itu yang lebih diutamakan adalah keahlian bela diri dan ilmu kanuragan. Beliau juga mulai meninggalkan pondok pesantren dan melakukan dakwah langsung di tengah masyarakat.

Sarana dakwah itu dimanfaatkannya sambil mengajarkan berbagai ilmu kesaktian dalam bela diri sebagai bekal melawan penjajah. Aktivitas Kiai Abbas ini cepat mendapatkan respon positif dari masyarakat yang ingin berjuang. Dengan cepat, Pondok Pesantren Buntet yang selama ini dikenal sebagai laboratorium pendidikan agama Islam, berkembang menjadi benteng perlawanan melawan penjajah. Kiai Abbas lalu mendirikan Laskar Hizbullah sebagai wadah perjuangan.

Makam Kiai Abbas

Bertarung dengan Lesung

Sebelum bertolak ke Surabaya, Kiai Abbas singgah dulu di Rembang. Pada waktu itu, Kiai Abbas tampak mengenakan jas buka abu-abu, kain sarung plekat bersorban, dan beralas kaki terompah atau sandal japit dari kulit. Bawaan Kiai Abbas saat itu hanya sebuah kantong plastik berisinya sandal bakiak. Setibanya di Stasiun Rembang, Jawa Tengah, sudah banyak orang yang menunggu. Rombongan Kiai Abbas lalu diantar ke Pondok Pesantren Kiai Bisri, di Rembang. Malam harinya, dilakukan musyawarah untuk menentukan komando/pemimpin pertempuran.

Hasil musyawarah, komando pertempuran dipercayakan kepada Kiai Abbas. Usai Shalat Shubuh, Pondok Pesantren Rembang sudah ramai oleh para santri yang siap mati berjuang melawan penjajah. Rombongan lalu berangkat ke Surabaya. Sebelum berangkat ke Surabaya, Kiai Abbas sempat memanggil santrinya Abdul Wachid dan meminta sandal bakiak yang dititipkan telah kepadanya saat di Cirebon. Kiai Abbas lalu berangkat dengan menumpang mobil sedan kuno.

Saat pertempuran di Surabaya, Kiai Abbas dan kiai lainnya berada di tempat yang agak tinggi, sehingga bisa dengan jelas mengamati jalannya perang. Dan dari tempat itulah terlihat bagaimana beraninya Arek-Arek Suroboyo, bagaimana penjajah menghamburkan pelurunya ke segala arah lantaran saking beraninya pejuang indonesia.

Kiai Abbas lalu mengadahkan kedua tangannya ke langit, dan keajaiban terjadi. Beribu-ribu talu (penumbuk padi) dan lesung (tempat padi saat ditumbuk) dari rumah-rumah rakyat berhamburan terbang menerjang serdadu–serdadu Belanda. Suaranya tampak bergemuruh bagaikan air bah, sehingga Belanda kewalahan dan mereka pun mundur ke kapal induk mereka. Tidak lama kemudian, pihak sekutu mengirim pesawat bomber Hercules. Akan tetapi pesawat itu tiba-tiba meledak di udara. Beberapa pesawat sekutu berturut-turut datang lagi dengan maksud menjatuhkan bom-bom untuk menghancurkan Kota Surabaya. Tetapi sekali lagi, pesawat-pesawat itu mengalami nasib yang sama, meledak di udara sebelum beraksi.

 

Comments

comments

tags: , , ,

Related For Perlawanan Kiai Abbas dalam Perang 10 November

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *